Liputan6.com, Jakarta - The Bank for International Settlements (BIS) menilai, stablecoin masih belum memenuhi syarat sebagai uang. Hal itu disampaikan dalam laporan Ekonomi Tahunan 2026 yang dirilis Minggu lalu pada rapat umum tahunannya di Basel, Swiss.
Mengutip the block, Senin, (29/6/2026), pada bab berjudul Anchoring trust in money: innovation beyond stablecoin atau membangun kepercayaan pada uang: inovasi di luar stablecoin, laporan itu menilai token yang dipatok terhadap dolar saat ini berdasarkan sifat-sifat mendasar yang menurut BIS harus dimiliki oleh setiap sistem moneter. Hal ini termasuk kesatuan, elastisitas, interoperabilitas (kemampuan berbagai sistem yang berbeda untuk saling berkomunikasi, bertukar data dan memakai informasi itu secara efektif), dan integritas.
Advertisement
Berdasarkan argumen penulis laporan itu, desain saat ini gagal memenuhi semua kriteria tersebut.
Harga stablecoin menyimpang dari patokannya di pasar sekunder, dan penebusannya melibatkan gesekan, demikian disebutkan dalam laporan itu. Hal ini dengan alasan token itu lebih menyerupai saham exchange traded fund (ETF) ketimbang alat pembayaran.
Kerangka kerja itu menyerupai komentari dari General Manager BIS Pablo Hernandez de Cos. Pada April, ia menggambarkan stablecoin berfungsi seperti ETF daripada uang.
Secara keseluruhan, pasokan stablecoin tetap relatif kecil dibandingkan dengan sistem perbankan. BIS memperkirakan total nilai pasar sekitar US$ 320 miliar atau Rp 5.707 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.840) pada akhir Mei. Lebih dari 99% pasokan yang didukung fiat dipatok ke dolar AS dan sebagian besar terbagi antara USDT Tether dan USDC Circle.
Data dari The Block memperkuat pandangan tersebut, dengan USDT dan USDC mendominasi penawaran utama lainnya. Beberapa di antaranya merupakan stablecoin terdesentralisasi atau yang menghasilkan imbal hasil.
Analisis Baru
Analisis baru utama dalam laporan ini memodelkan dampak adopsi yang meluas terhadap perekonomian, tergantung pada cadangan yang dimiliki penerbit.
Dalam model yang dikalibrasi untuk AS oleh para penulis, efek bersih stablecoin terhadap output sedikit negatif dalam jangka menengah, karena biaya pendanaan bank yang lebih tinggi dan pinjaman yang lebih lemah melebihi ruang fiskal yang diciptakan oleh permintaan stablecoin untuk utang pemerintah. Dampaknya tetap kecil bahkan ketika para penulis membayangkan stablecoin mencapai nilai pasar US$ 1 triliun, US$ 2 triliun, dan US$ 3 triliun.
BIS mengatakan, stablecoin menyumbang sebagian besar aktivitas on-chain ilegal karena beredar di blockchain tanpa izin di mana dompet yang dikelola sendiri melemahkan pemeriksaan kenal-pelanggan dan anti pencucian uang.
Para penulis juga memperingatkan tentang "dolarisasi stablecoin," di mana rumah tangga di negara-negara berkembang memegang token yang mengacu pada dolar sebagai penyimpan nilai, yang membentuk kembali aliran modal dan mengikis kedaulatan moneter.
Saran BIS
Seperti pada 2025, laporan BIS menyarankan alternatif: mengatasi kelemahan stablecoin saat ini melalui aturan yang konsisten secara internasional, dan membawa tokenisasi ke dalam sistem dua tingkat bank sentral dan bank komersial.
Inti dari gagasan ini adalah "buku besar terpadu" yang menyimpan cadangan bank sentral yang di tokenisasi, uang bank komersial yang di tokenisasi, dan uang swasta teregulasi lainnya di satu tempat, dengan uang bank sentral sebagai jangkar.
Bank tersebut menunjuk pada Proyek Agora, prototipe pembayaran lintas batas yang melibatkan delapan bank sentral, BIS, dan lebih dari 40 lembaga swasta, sebagai bukti model tersebut dapat berfungsi.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.