Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga aset kripto selama 24 jam terakhir didominasi pelemahan. Dari 15 aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, mayoritas mencatatkan koreksi, meski beberapa stablecoin dan aset tertentu masih mampu bertahan di zona hijau.Bitcoin (BTC) masih memimpin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, diikuti Ethereum (ETH) dan Tether (USDT).
Berikut perkembangan harga 15 aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, dikutip dari Coinmarketcap.com, Senin (29/6/2026). Bitcoin (BTC) diperdagangkan di level US$ 59.110,89 atau turun 1,75% dalam 24 jam terakhir. Meski terkoreksi, Bitcoin tetap menjadi aset digital terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 1,18 triliun, menunjukkan dominasinya masih jauh di atas aset kripto lainnya.
Advertisement
Ethereum (ETH) juga berada di zona merah setelah melemah 1,32% menjadi US$ 1.556,90. Kripto terbesar kedua ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 187,50 miliar.
Berbeda dengan dua aset utama tersebut, Tether (USDT) justru menguat tipis 0,02% ke level US$ 0,9986. Stablecoin ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 186,07 miliar, sehingga tetap menjadi aset kripto terbesar ketiga secara global.
USD Coin (USDC) relatif stabil dengan harga US$ 0,9995, meski masih terkoreksi tipis 0,01%. Kapitalisasi pasar USDC tercatat sekitar US$ 73,75 miliar.
Sementara itu, BNB diperdagangkan di US$ 547,29 setelah turun 1,94% selama 24 jam terakhir. Token ekosistem Binance tersebut memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 73,61 miliar.
XRP, Solana, hingga Dogecoin Mayoritas Terkoreksi
XRP berada di level US$ 1,03 atau turun 1,30% dalam sehari terakhir. Aset digital ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 64,49 miliar. Sama halnya dengan aset kripto Solana (SOL) juga mengalami tekanan dengan pelemahan 0,89% menjadi US$ 70,33. Meski demikian, kapitalisasi pasar Solana masih mencapai sekitar US$ 40,69 miliar.
Tron (TRX) menjadi salah satu aset yang mampu mencatatkan penguatan. Harga TRX naik 0,39% menjadi US$ 0,3217, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 30,51 miliar. Hyperliquid (HYPE) terkoreksi 2,29% ke level US$ 61,06. Aset ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 15,36 miliar.
Dogecoin (DOGE) mencatat pelemahan terdalam di kelompok ini dengan penurunan 2,90% menjadi US$ 0,07256. Kapitalisasi pasar Dogecoin saat ini berada di kisaran US$ 11,20 miliar.
LEO Menguat, Zcash Alami Koreksi Terdalam
UNUS SED LEO (LEO) menjadi salah satu aset yang berhasil menguat dalam 24 jam terakhir. Harga LEO naik 0,15%menjadi US$ 9,41, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar US$ 8,66 miliar.
Untuk aset kripto Zcash (ZEC) menjadi aset dengan koreksi terdalam di antara 15 besar. Harga ZEC merosot 6,72% menjadi US$ 372,43, sementara kapitalisasi pasarnya tercatat sekitar US$ 6,19 miliar. Monero (XMR) juga bergerak di zona merah setelah turun 0,48% ke level US$ 311,36. Kripto yang dikenal berfokus pada privasi tersebut memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 5,84 miliar.
Cronos (CC) diperdagangkan di US$ 0,1489 atau melemah 2,73% dalam 24 jam terakhir. Aset ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 5,80 miliar. Sementara itu, Stellar (XLM) turun 1,97% menjadi US$ 0,1707. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 5,78 miliar.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Grayscale Sebut Bitcoin Butuh Pembeli Selain Strategy
Sebelumnya, Head of Research Grayscale, Zach Pandl menuturkan, kemampuan Strategy untuk akumulasi bitcoin (BTC) terbatas pada harga saham STRC dan MSTR. Ia menunjukkan, pembeli lain perlu turun tangan supaya harga bitcoin dapat mencapai titik terendah yang berkelanjutan.
Mengutip the blockc, ditulis Sabtu, (6/6/2026), komentar Pandl muncul setelah Strategy mengungkapkan awal pekan ini menjual 32 bitcoin (BTC) senilai US$ 2,5 juta atau Rp 45,22 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.090). Strategy mengurangi bitcoin dengan rata-rata harga US$ 77.135 atau Rp 1,39 miliar. Dengan aksi jual itu, total kepemilikan bitcoin menjadi 843.706 BTC. Transaksi itu menandai pertama kali Strategy menjual bitcoin sejak Desember 2022.
Dalam catatan yang diterbitkan Kamis, Pandl mengatakan, penjualan tersebut kecil dibandingkan dengan total kepemilikan BTC Strategy. Namun, ia berpendapat perubahan dalam manajemen keuangan perusahaan membebani sentimen pasar yang sudah terguncang oleh ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung.
Volatilitas Pasar
Menurut catatan tersebut, volatilitas juga memengaruhi saham preferen dengan suku bunga variabel milik Strategy, Stretch (STRC), yang dirancang untuk diperdagangkan mendekati US$ 100 atau Rp 1,8 juta dan saat ini membayar dividen sebesar 11,5%.
Harga saham di bawah level tersebut meningkatkan pengembalian yang dibutuhkan investor dan dapat meningkatkan kewajiban dividen, yang dapat dipenuhi Strategy dengan menyesuaikan pembayaran, tetapi dengan biaya tekanan arus kas yang lebih tinggi yang terkait dengan neraca yang didukung bitcoin.
"Singkatnya, model bisnis Strategy yang menggunakan leverage berada di bawah tekanan, dan ini telah meningkatkan volatilitas untuk pasar BTC secara keseluruhan," kata catatan tersebut.
"Lebih lanjut, kami berpikir bahwa Strategy, yang secara historis merupakan pembeli bersih BTC, akan memiliki kemampuan terbatas untuk mengakumulasi lebih banyak token pada harga saham saat ini untuk STRC dan MSTR."