Kim Sun-il Akhirnya Benar-Benar Dipenggal

Kepalanya dipenggal para penyandera setelah pemerintah Korsel tidak menanggapi tuntutan untuk tak menempatkan pasukan di Irak. Berita kematian lelaki berusia 33 tahun ini disiarkan <i>Al-Jazeera</i>.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Juni 2004, 08:48 WIB
Liputan6.com, Baghdad: Kim Sun-il, warga Korea Selatan, yang disandera di Irak akhirnya tewas. Kepalanya dipenggal para penyandera setelah pemerintah Korsel tidak menanggapi tuntutan untuk tak menempatkan pasukan di Irak. Berita kematian lelaki berusia 33 tahun ini disiarkan Stasiun Televisi Al-Jazeera di Baghdad, baru-baru ini.

Dalam siaran itu, Kim Sun-il yang mengenakan baju berwarna oranye berlutut dengan latar lima orang bertopeng dan bersenjata. Al-Jazeera tak menayangkan proses eksekusi Kim. Namun, stasiun televisi itu mengaku telah menerima sebuah rekaman video yang menunjukkan jenazah Kim setelah dieksekusi. Al-Jazeera juga menyebutkan, penculik sekaligus pembunuh Kim adalah kelompok monoteisme dan jihad yang terkait dengan Al-Qaidah. Jenazah Kim ditemukan oleh pasukan Amerika Serikat di sebuah lokasi yang terletak 35 kilometer di sebelah barat Baghdad.

Kim Sun-il adalah pekerja perusahaan asal Korsel yang menyuplai kebutuhan militer pasukan AS di Irak. Dia diculik saat bertugas, pekan silam, dan akhirnya dibunuh setelah pemerintah Korsel menolak tuntutan penculik untuk tak menarik serta tidak menambah pasukan Korsel di Irak. Kim menjadi orang asing ketiga yang dipenggal kepalanya oleh kelompok pejuang Irak yang terkait dengan Al-Qaidah. Sebelumnya, warga AS, Nicholas Berg dan Paul Johnson Jr juga tewas dipenggal penculiknya [baca: Warga AS Dipenggal di Irak].

Di Korsel, keluarga dan kerabat korban mengaku terpukul mendengar berita kematian Kim yang diumumkan juru bicara kementerian luar negeri Korsel pukul 02.00 waktu ssetempat. Isak tangis histeris memenuhi ruang di rumah Kim di Pusan. Keluarga dan kerabat Kim berkumpul di sana sejak Kim diculik. Mereka berkumpul untuk menunggu perkembangan kabar tentang Kim.

Kelompok penyandera meminta pemerintah Korsel menarik mundur pasukannnya serta membatalkan rencana mengirimkan pasukan tambahan. Menurut penculik, pemenggalan kepala Kim adalah konsekuensi dari tindakan Korsel yang mengabaikan permintaan itu [baca: Warga Korsel Menentang Pengiriman Pasukan Tambahan ke Irak].

Kematian Kim sekaligus berarti misi pembebasan yang dilakukan sebuah tim beranggotakan enam orang gagal. Padahal mereka telah tiba di Yordania dalam perjalanan menuju Irak. Pemerintah Korsel menyebut pemenggalan kepala Kim sebagai tindakan barbar.(SID/Nlg)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya