Pengakuan Warga Venezuela: Kami Selamat Berkat Keajaiban

Para penyintas gempa di Venezuela memberikan kesaksian soal bencana alam tersebut.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 28 Juni 2026, 21:30 WIB
Warga melintasi puing-puing bangunan yang rusak akibat gempa bumi di Caracas, Venezuela, Rabu (24/6/2026). (Dok. AP Photo/Ariana Cubillos)

Liputan6.com, Caracas - Warga Venezuela terus berpacu dengan waktu mencari korban selamat setelah dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pada Rabu (24/6/2026). Di tengah reruntuhan bangunan, sejumlah penyintas mengaku keselamatan mereka merupakan sebuah keajaiban.

Di negara bagian pesisir La Guaira, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, warga menggunakan tangan kosong dan sekop untuk menggali puing-puing bangunan. Drone juga diterbangkan untuk membantu mencari korban yang masih tertimbun.

Warga dan keluarga korban terus menyisir reruntuhan sambil mendengarkan setiap suara yang diyakini berasal dari korban yang masih hidup di bawah beton dan besi yang roboh, dikutip dari BBC, Minggu (28/6).

Hingga kini, sedikitnya 1.430 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa tersebut. Ratusan bangunan runtuh, sementara ribuan orang diperkirakan masih tertimbun reruntuhan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 50.000 orang masih dinyatakan hilang.

Jumlah personel penyelamat di lokasi masih terbatas, meski tim internasional dari Meksiko, Spanyol, Amerika Serikat, dan Inggris telah tiba untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan.

Lembaga bantuan kemanusiaan menyebut 48 hingga 72 jam pertama menjadi masa paling menentukan untuk menemukan korban yang masih hidup.

"Setiap orang yang diselamatkan adalah sebuah keajaiban," kata Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez.

Di Catia La Mar, suasana duka masih menyelimuti kawasan yang dipenuhi bangunan runtuh. Pasukan pemerintah membagikan makanan dan air kepada para penyintas, sementara Presiden sementara Delcy Rodríguez mengatakan pemerintah tengah mengerahkan upaya penyelamatan secara menyeluruh selama "jam-jam kritis ini" untuk menyelamatkan korban yang masih hidup.

Harapan itu masih dipegang Jesús Suárez yang datang dari lokasi berjarak sekitar 200 kilometer untuk mencari putranya, Jean Suárez.

"Tidak ada informasi sama sekali. Orang-orang yang mengenalnya mengatakan mereka tidak melihatnya keluar atau apa pun," katanya.

Suárez meyakini putranya masih berada di bawah reruntuhan. Namun, ia mengaku proses evakuasi sulit dilakukan karena minimnya peralatan.

"Tidak mungkin menyelamatkannya. Tidak ada peralatan canggih di sini. Manusia saja tidak bisa melakukannya, terlalu berbahaya," ujarnya.

Harapan Serupa

Petugas penyelamat mengevakuasi seorang korban menggunakan tandu dari bangunan yang runtuh setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Caracas, Venezuela. (Dok. Juan Barreto/AFP)

Harapan serupa juga dirasakan keluarga Carlos Eduardo, pria berusia 31 tahun yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Mereka mengaku sempat mendengar suara erangan dari Carlos saat memanggil namanya.

"Kami mulai memanggilnya: Carlos, Carlos, anakku. Lalu dia mengeluarkan suara. Itu sekitar satu setengah jam yang lalu," kata sepupunya.

Meski sejak itu tidak lagi mendengar suara, keluarga tetap bertahan di lokasi sambil menunggu bantuan.

Operasi pencarian juga melibatkan warga yang memiliki drone untuk memantau area yang sulit dijangkau. Tentara dan sukarelawan beberapa kali meminta semua orang tetap diam agar suara korban dari bawah reruntuhan dapat terdengar dengan jelas.

Di tengah proses pencarian, warga mulai mengeluhkan bau menyengat dari jenazah yang belum berhasil dievakuasi.

"Ada baunya. Orang-orang yang meninggal sudah mulai terasa. Itu akan membuat kami dan anak-anak sakit," kata Glendys Delgado.

Ia mengatakan dua bangunan di dekat rumahnya runtuh, namun hingga kini belum ada bantuan resmi yang datang ke lokasi tersebut.

"Tidak ada seorang pun dari pemerintah yang datang ke sini, tetapi saya bersyukur kepada Tuhan bahwa orang-orang dari Caracas telah datang membantu kami dengan makanan," ujarnya.

Sementara itu, pihak berwenang melaporkan sebanyak 861 relawan dari Meksiko, Amerika Serikat, El Salvador, Swiss, Kolombia, dan sejumlah negara lain telah berada di Venezuela untuk membantu operasi penyelamatan. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah.

Di tengah kehancuran yang ditinggalkan gempa, banyak warga memilih bertahan dengan harapan masih ada korban yang dapat diselamatkan hidup-hidup. Bagi mereka, setiap nyawa yang berhasil ditemukan merupakan sebuah keajaiban.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya