Bahan Bakar B50 akan Gantikan B40 dalam Tiga Bulan

Bahan bakar Biodiesel B50 adalah campuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit (kelapa sawit) dan 50% solar.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 26 Juni 2026, 13:46 WIB
Seremoni proses uji coba biodiesel B50 sebagai bahan bakar kereta api. (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadwalkan peluncuran bahan bakar minyak (BBM) biodiesel B50 pada 1 Juli. Peluncuran BBM tersebut rencananya akan dilakukan langsung Presiden Prabowo Subianto.

Bahan bakar Biodiesel B50 adalah campuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit (kelapa sawit) dan 50% solar. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah telah menyiapkan penerapan B50 secara nasional. Namun, pelaksanaannya tidak dilakukan sekaligus karena masih ada masa transisi.

“Berdasarkan informasi terakhir yang kami terima, B50 nanti akan diluncurkan oleh Pak Presiden. Rencananya pada 1 Juli,” kata Laode di Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).

Menurut dia, pemerintah memberikan waktu hingga tiga bulan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih beredar. Setelah masa penyesuaian berakhir, distribusi B50 ditargetkan berlangsung secara penuh di seluruh Indonesia.

“Ada masa jeda untuk penyesuaian. Sisa B40 akan dihabiskan terlebih dahulu, diberi waktu sampai tiga bulan, kemudian beralih sepenuhnya ke B50,” ujarnya.

Laode menegaskan penerapan B50 tidak hanya berlaku bagi sektor industri, tetapi juga untuk seluruh konsumen. Dengan demikian, program tersebut akan diterapkan secara nasional setelah proses transisi selesai.

 

Pangkas Impor Solar hingga 300 Ribu Barel per Hari

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (Lizsa Egeham)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut program biodiesel berbasis minyak sawit telah membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar.

Menurut Bahlil, konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, pemerintah telah menerapkan program campuran biodiesel hingga B40, yakni solar yang mengandung 40% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang diolah dari crude palm oil (CPO).

Ia menjelaskan, kebijakan mandatori biodiesel yang dimulai dari B10 pada 2016 awalnya bertujuan menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit dan memperluas pasar domestik bagi petani. Namun, program tersebut kini memberikan manfaat yang lebih luas, yakni mengurangi kebutuhan impor BBM.

“Penerapan B10 sampai B40, dan dalam waktu dekat menuju B50, ternyata membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor solar,” kata Bahlil dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Kamis (25/6/2026).

Pemerintah menargetkan peluncuran program B50 pada Juli mendatang. Dengan komposisi campuran biodiesel sebesar 50%, sekitar 300.000 barel per hari kebutuhan solar nasional dapat dipenuhi dari bahan baku dalam negeri.

Bahlil mengatakan langkah tersebut membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar pada tahun ini. Selain itu, kebutuhan impor minyak mentah dan bahan bakar juga dapat ditekan.

“Sebelumnya impor minyak mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Dengan B50, sekitar 300.000 barel per hari bisa digantikan oleh biodiesel sehingga kebutuhan impor turun menjadi sekitar 700.000 barel per hari,” ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya