Analisis Pakar soal Sumber Gempa California, Venezuela, dan Jepang

Pakar memastikan bahwa gempa yang terjadi di tiga wilayah berbeda dalam waktu berdekatan ini tidak saling terkait.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 Juni 2026, 11:44 WIB
Sebuah bangunan runtuh setelah gempa mengguncang Caracas, Venezuela, Rabu (24/6/2026). (Dok. AP Photo/Adrian Naranjo)

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas tektonik Bumi meningkat tajam dalam kurun waktu kurang dari 12 jam. Sejak Rabu (24/6/2026) sore hingga Kamis (25/6) pagi WIB, tiga wilayah di belahan dunia berbeda—California Utara, Venezuela, dan Jepang—secara berurutan diguncang gempa besar.

Peristiwa tersebut dipicu oleh mekanisme sumber gempa yang berbeda-beda, mulai dari pergeseran sesar di California Utara dan Venezuela hingga aktivitas subduksi lempeng atau megathrust di Jepang.

Rentetan aktivitas seismik global itu diawali oleh gempa magnitudo 5,6 yang mengguncang California Utara pada Rabu (24/6) pukul 22.10 WIB. Pusat gempa berada di darat, sekitar 11 kilometer di utara Redwood Valley, dengan kedalaman sangat dangkal, yakni 8,9 kilometer.

Guncangan diperkirakan bersifat merusak karena mencapai intensitas VI–VII MMI. Getaran kuat membuat warga terkejut dan berlarian keluar rumah, serta menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa.

Memasuki Kamis (25/6) pagi, wilayah Amerika Selatan diguncang gempa yang lebih besar. Gempa magnitudo 7,5 mengguncang Venezuela pada pukul 05.05 WIB dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 23 kilometer di tenggara Yumare, pada kedalaman 10 kilometer.

Gempa yang dipicu oleh mekanisme sesar geser tersebut menghasilkan guncangan dengan intensitas VI–IX MMI. Guncangan memicu kepanikan di sejumlah kota, termasuk ibu kota Caracas. Di Bandara Internasional Caracas, para calon penumpang dilaporkan berebut menyelamatkan diri dan tiarap mencari perlindungan setelah material langit-langit terminal runtuh.

Hanya berselang sekitar 25 menit, tepatnya pukul 05.30 WIB, gempa kuat kembali terjadi di Jepang Utara. Gempa magnitudo 6,9 berpusat di laut sekitar 35 kilometer sebelah timur-timur laut Kuji dengan kedalaman menengah 51,7 kilometer.

Berbeda dengan dua gempa sebelumnya, gempa di Jepang dipicu oleh mekanisme sesar naik akibat aktivitas subduksi atau megathrust. Guncangan mencapai intensitas VI MMI sehingga membuat warga sulit berdiri tegak dan menyebabkan sejumlah benda di dalam rumah berjatuhan. Meski demikian, karakteristik kedalaman gempa tersebut tidak memicu tsunami.

Menanggapi rentetan gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan itu, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa ketiga gempa tersebut tidak saling berkaitan.

Menurut Daryono, masing-masing gempa berasal dari sumber yang berbeda. Gempa di California Utara dipicu oleh aktivitas sesar atau patahan, demikian pula gempa di Venezuela yang berasal dari mekanisme sesar. Sementara itu, gempa di Jepang bersumber dari zona megathrust.

Ia menjelaskan, ketiga sumber gempa tersebut merupakan sistem tektonik yang memiliki kemampuan mengakumulasi tegangan secara mandiri. Karena itu, pelepasan energi pada satu sumber gempa tidak memengaruhi maupun memicu pelepasan energi pada sumber gempa lainnya.

"Ketiga gempa memiliki sumber gempa sendiri-sendiri. California Utara berasal dari sesar atau patahan, Venezuela dari sesar atau patahan, sedangkan Jepang bersumber dari megathrust. Sumber-sumber gempa tersebut memiliki kemampuan mengakumulasi tegangan sendiri-sendiri sehingga tidak saling berkaitan. Kalau waktu kejadiannya berdekatan, itu hanya kebetulan saja," ujar Daryono.

 

Pengingat bagi Indonesia

Petugas penyelamat mengevakuasi seorang korban menggunakan tandu dari bangunan yang runtuh setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Caracas, Venezuela. (Dok. Juan Barreto/AFP)

Rangkaian gempa di berbagai belahan dunia tersebut, ungkap Daryono, kembali menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik.

"Peristiwa itu menunjukkan bahwa ancaman gempa selalu ada, sementara dampak terbesar umumnya berasal dari runtuhnya bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa," tuturnya.

"Karena itu, penguatan standar bangunan tahan gempa, baik pada fasilitas umum maupun kawasan permukiman, menjadi hal yang penting. Selain itu, masyarakat juga perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memahami cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi, seperti berlindung di bawah furnitur yang kokoh, menghindari kepanikan saat proses evakuasi, serta menyiapkan tas siaga bencana di rumah masing-masing."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya