`Gadis Korek Api` di Perayaan Natal Asmi Santa Maria

Himpunan Mahasiswa Public Relations mengisahkan kembali dongeng Gadis Korek Api karangan Hans Christian Andersen.

oleh Liputan6 diperbarui 11 Jan 2014, 13:15 WIB
Citizen6, Yogyakarta: Tentu kita tak asing lagi dengan dongeng Gadis Korek Api bukan? Ya, cerita karangan Hans Christian Andersen dengan judul asli "The Litle Match Girl" ini sangat menyentuh dengan akhir cerita yang tragis namun banyak pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini.

Dalam perayaan Natal bersama seluruh civitas academica (masyarakat kampus) Asmi Santa Maria Yogyakarta, Jumat 10 Januari 2014 mulai pukul 10.00 WIB, Himpunan Mahasiswa Public Relations mengisahkan kembali dongeng tersebut dalam bentuk mini drama. Dengan tujuan mengingatkan kita semua agar mampu berbagi dengan orang lain dan lebih peduli dengan orang-orang yang berada disekitar.

Sebelum pementasan mini drama dimulai, Sr M Clarentine memberikan sambutan singkat yang berisi motivasi kepada mahasiswa agar mempunyai resolusi positif di tahun 2014. Menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa juga dihimbau untuk mengurangi kemalasan dan tak lupa tekun berdoa.

Drama berdurasi 15 menit yang diperankan oleh mahasiswa Public Relation (PR) semester 3 ini sedikit berbeda dan unik, yakni para pemeran tidak mengucapkan dialog secara langsung melainkan di dubbing oleh mahasiswa PR dari belakang panggung. Dibuka dengan instrumen natal bernuansa syahdu, adegan pertama pun dimulai.

Sang ayah masuk ke panggung diiringi dua orang temannya dalam kondisi mabuk karena minuman keras, yang diiringi dengan lagu Oplosan. Hal ini membuat audiens tanpa sadar ikut bernyanyi. Dalam adegan ini terjadi percakapan bahwa sang ayah telah kehabisan uang untuk membeli minuman.

Ketika ia dalam suasana dongkol karena kehabisan uang dan ditinggalkan oleh temannya, si gadis kecil penjual korek api yang diperankan oleh Theofani pulang tanpa membawa sepeser uang. Karna tak seorang pun membeli korek api yang ia jajakan. Mengetahui hal ini, sang ayah naik pitam dan menyuruh si gadis kecil kembali menjajakan korek api dan tak boleh pulang sebelum koreknya habis terjual.

Di tengah malam yang dingin berselimut salju, si gadis kembali menjajakan korek apinya. Tubuhnya yang kurus menggigil kedinginan, menahan rasa lapar. Bagaimanapun kerasnya usaha yang dia lakukan dalam menjajakan korek apinya, tak ada seorang pun yang membelinya, termasuk 3 orang gadis yang diperankan oleh Uray, Mayo, dan Icha, mahasiswa PR Asmi Santa Maria Yogyakarta.

Akhirnya untuk menghangatkan diri dia menyalakan sebatang demi sebatang korek apinya sambil membayangkan makanan lezat, perapian hangat, pohon natal terang yang indah, dan ibunya tercinta yang telah lama meninggal. Ketika dia menyalakan koreknya yang terakhir, ibunya datang dan mengajaknya ke surga. Esok paginya, orang-orang menemukan si gadis kecil meninggal karena kedinginan dan kelaparan.

Epilog yang dibacakan oleh Missel mengajak agar kita benar-benar mampu menghayati makna Natal yang sesungguhnya, yakni berbagi kasih dengan sesama. (mar)

Penulis
Elisabeth Sutriningsih/Mahasiswa Public Relations Asmi Santa Maria Yogyakarta
Yogyakarta, elisabeth.sutriningxxx@gmail.com

Baca juga:
Perayaan Natal Hima PR ASMI Santa Maria Yogyakarta
Asmi Santa Maria Yogyakarta Gelar Pembinaan Rohani Islam
Menulis Bertopik ke-9: Warga Mengadu


Disclaimer:

Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.

Anda juga bisa mengirimkan link postingan terbaru blog Anda atau artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atauopini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com

Mulai 7 Januari sampai 17 Januari 2014 Citizen6 mengadakan program menulis bertopik dengan tema "Warga Mengadu". Ada hadiah dari Liputan6.com dan Dyslexis Cloth bagi 6 artikel terpilih. Caranya bisa disimak di sini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya