Dari Bekas Tambang, Lembah Suhita Disulap jadi Kawasan Konservasi

Bekas tambang batu di Bandar Lampung disulap menjadi kawasan konservasi dan wisata edukasi yang menghadirkan ruang hijau, sungai, serta budidaya lebah madu.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 23 Juni 2026, 19:15 WIB
Pengunjung mengenakan pakaian pelindung saat mengikuti sesi edukasi budidaya lebah di Lembah Suhita, Bandar Lampung. (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Liputan6.com, Lampung - Siapa sangka hamparan lembah hijau yang kini dipenuhi suara gemericik air, pepohonan rindang, dan ribuan lebah madu di Bandar Lampung ini dulunya merupakan kawasan tambang batu yang gersang.

Transformasi itu kini melahirkan sebuah destinasi wisata alam bernama Lembah Suhita, yang berlokasi di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.

Di tempat ini, pengunjung tak hanya menikmati udara segar dan panorama alam, tetapi juga diajak mengenal pentingnya konservasi lingkungan hingga belajar memanen madu langsung dari sarangnya.

Tak heran, saat musim liburan sekolah tiba, kawasan seluas satu hektare ini ramai dikunjungi keluarga, pelajar, hingga komunitas pencinta alam.

"Tagline kami adalah From Quarry to Sanctuary. Dulu ini kawasan tambang batu, kemudian perlahan kami ubah menjadi kawasan konservasi dan eduwisata," ujar Adinda Putri Anastasia, Tim Marketing Lembah Suhita saat ditemui Liputan6.com, Selasa (23/6/2026).

 

Perjalanan Panjang Mengubah Lahan Bekas Tambang

Koloni lebah tanpa sengat atau kelulut terlihat keluar masuk sarang berbentuk tabung alami di kawasan Lembah Suhita, Batu Putuk, Bandar Lampung. (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Perubahan besar di kawasan tersebut dimulai pada 2016 oleh pemilik Lembah Suhita, Suyadi, yang juga dikenal sebagai pelaku usaha madu dengan merek "Madu Suhita".

Batu-batu bekas aktivitas tambang yang mendominasi kawasan itu tidak dibuang. Sebaliknya, seluruh elemen alam dimanfaatkan kembali untuk membangun ekosistem baru yang ramah lingkungan.

Prosesnya tidak instan. Penanaman berbagai jenis vegetasi dilakukan secara bertahap. Sistem pengairan juga dibangun dengan memanfaatkan mata air alami yang mengalir di kawasan tersebut.

Menurut Adinda, pengalaman Suyadi dalam budidaya lebah menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan kawasan itu.

"Owner kami memang memiliki keahlian di bidang perlebahan. Bahkan beliau sempat mendalami budidaya lebah selama dua tahun di Australia. Sekarang ekosistem yang terbentuk sudah sangat mendukung perkembangan koloni lebah madu," tuturnya.

 

 

 

 

Wisata Gratis dengan Syarat

Seorang peternak lebah memperlihatkan bingkai sarang yang dipenuhi ribuan lebah madu saat mengikuti program beekeeping experience di Lembah Suhita, Bandar Lampung. (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Berbeda dengan tempat wisata pada umumnya, Lembah Suhita tidak memberlakukan tiket masuk maupun biaya parkir. Pengunjung cukup melakukan pembelian produk di galeri atau kafe dengan minimal transaksi Rp 25 ribu per orang.

Produk yang tersedia beragam, mulai dari madu, makanan, minuman, hingga berbagai produk UMKM lokal yang bekerja sama dengan pengelola.

Dengan nominal tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati seluruh area wisata tanpa biaya tambahan. 

Kemudian, salah satu aktivitas favorit pengunjung adalah barefoot grounding, yakni berjalan tanpa alas kaki di jalur khusus yang disiapkan menggunakan batu-batu alami.

Menurut Adinda, konsep itu tidak sekadar wisata, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang sedang dikembangkan Lembah Suhita.

"Grounding membuat kita lebih dekat dengan alam. Saat kaki menyentuh tanah dan batu secara langsung, tubuh menjadi lebih rileks dan membantu mengurangi stres akibat aktivitas sehari-hari," ungkapnya.

Selain itu, pengunjung juga dapat bermain di aliran sungai yang jernih, menikmati suasana piknik bersama keluarga, bersantai di gazebo, atau sekadar menikmati udara pegunungan yang sejuk.

Bagi anak-anak, pengalaman yang ditawarkan jauh lebih beragam. Mereka dapat menangkap ikan di sungai, mengenal ekosistem lebah, hingga belajar menjaga lingkungan melalui berbagai kegiatan edukatif.

 

Edukasi Lingkungan

Seorang pengunjung mencicipi madu yang disediakan di galeri Lembah Suhita, Bandar Lampung. (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Tak sedikit sekolah dan komunitas yang menjadikan Lembah Suhita sebagai lokasi kegiatan luar ruangan. Menurut Adinda, edukasi lingkungan menjadi fokus utama yang ingin ditanamkan kepada generasi muda.

"Kami ingin anak-anak mengenal alam sejak dini. Mereka adalah generasi emas yang nantinya akan menjaga lingkungan. Karena itu kami banyak bekerja sama dengan sekolah dan komunitas agar anak-anak bisa belajar langsung di alam," ucap dia.

Kesadaran tentang pentingnya lebah juga menjadi salah satu materi yang dikenalkan kepada pengunjung.

Bagi sebagian orang, lebah identik dengan sengatan. Namun di Lembah Suhita, pengunjung diajak memahami bahwa serangga tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui proses penyerbukan tanaman.

Di tengah pesatnya pembangunan Kota Bandar Lampung, keberadaan Lembah Suhita menjadi oase baru bagi masyarakat yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Dari bekas tambang batu yang nyaris tak memiliki kehidupan, kawasan itu menjelma menjadi ruang hijau yang menghadirkan manfaat ekonomi, edukasi, sekaligus konservasi.

Sebuah bukti bahwa alam yang rusak bukanlah akhir cerita. Dengan kesabaran dan komitmen, lahan yang pernah dieksploitasi dapat kembali hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Kini, setiap langkah pengunjung yang menyusuri sungai, berjalan tanpa alas kaki di atas batu, atau menyaksikan lebah mengumpulkan nektar menjadi bagian dari kisah besar tentang bagaimana alam dapat dipulihkan kembali.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya