Liputan6.com, Jakarta - Minat keluarga kelas menengah di Indonesia untuk menyekolahkan anak ke luar negeri terus meningkat, seringkali mendorong orang tua untuk menggunakan sebagian besar tabungan pensiun mereka. Padahal, biaya pendidikan di luar negeri jauh lebih besar dibandingkan di dalam negeri. Oleh karena itu, perencanaan finansial yang matang dan dimulai sejak dini menjadi kunci utama untuk mewujudkan impian studi global tanpa menimbulkan ketegangan pada keuangan keluarga.
Sebagaimana diketahui, kini semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki pandangan global dalam mempersiapkan masa depan anak-anak mereka. Mulai dari memilih sekolah internasional hingga merencanakan pendidikan tinggi di luar negeri, pendidikan global kini menjadi salah satu tujuan jangka panjang yang semakin banyak dipertimbangkan oleh keluarga affluent dan high net worth (HNW).
Advertisement
Kebutuhan tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang. Sebab, biaya pendidikan merupakan salah satu pengeluaran yang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, dalam satu dekade terakhir biaya pendidikan yang dikeluarkan per peserta didik di Indonesia terus meningkat. Untuk jenjang perguruan tinggi, kenaikannya bahkan mencapai 282%.
Jika di dalam negeri saja biaya pendidikan terus meningkat, kebutuhan dana untuk pendidikan internasional tentu memerlukan perhatian yang lebih besar. Laporan OECD (2026) juga mencatat bahwa mahasiswa internasional di sejumlah negara tujuan pendidikan utama membayar biaya pendidikan yang rata-rata lebih dari dua kali lipat dibandingkan mahasiswa domestik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan global tidak hanya membutuhkan kesiapan akademik, tetapi juga perencanaan finansial yang semakin komprehensif.
Pada dasarnya, saat ini semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki tujuan finansial yang bersifat global, sehingga pendekatan dalam merencanakan masa depan juga perlu berkembang mengikuti perubahan tersebut. Ketika keluarga mulai mempersiapkan pendidikan anak di luar negeri, perencanaan keuangan tidak lagi hanya berfokus pada besarnya dana yang dikumpulkan.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan nilai dana tersebut tetap relevan dengan tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai melihat perencanaan keuangan secara lebih menyeluruh dan jangka panjang dengan melakukan diversifikasi aset.
Rincian Tips
Berikut tips mempersiapkan keuangan untuk rencana pendidikan global di masa depan:
Mulai Merencanakan Sedini Mungkin
Semakin panjang jangka waktu persiapan, semakin besar peluang bagi keluarga untuk membangun dana pendidikan secara bertahap dan mengelola berbagai perubahan kebutuhan yang mungkin terjadi di masa depan.
Hal tersebut bisa dimulai dengan melakukan diversifikasi aset dan investasi agar return yang didapatkan di masa depan lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan.
Hitung Kebutuhan Secara Menyeluruh
Selain biaya pendidikan, orang tua juga perlu memperhitungkan biaya hidup, akomodasi, transportasi, asuransi, serta kebutuhan pendukung lainnya.
Perhitungkan inflasi pendidikan dan perubahan biaya dari waktu ke waktu
Biaya pendidikan dan kebutuhan umum cenderung meningkat setiap tahunnya. Karena itu, penting untuk melakukan peninjauan tujuan keuangan secara berkala agar rencana yang telah disusun tetap sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan kondisi ekonomi.
Tips Selanjutnya
Lengkapi Perencanaan dengan Perlindungan Memadai
Perjalanan menuju tujuan pendidikan anak di luar negeri berlangsung dalam jangka panjang dan dapat dipengaruhi oleh berbagai risiko yang tidak terduga. Maka, penting bagi keluarga untuk memiliki proteksi yang memadai serta rutin melakukan review polis agar tetap sesuai dengan kebutuhan yang kerap berubah.
Diversifikasi Proteksi
Selain memiliki perlindungan dasar, pertimbangkan diversifikasi proteksi, termasuk solusi berbasis mata uang yang relevan dengan tujuan pendidikan global. Hal ini membantu memastikan bahwa rencana keuangan tetap selaras dengan kebutuhan masa depan, serta lebih tangguh menghadapi risiko perubahan ekonomi dan nilai tukar.