Liputan6.com, Jakarta - Tiga indeks saham di wall street kompak menguat setelah melemah 4,2% akibat perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Tiga indeks di wall street yakni Dow Jones, Nasdaq dan S&P 500 pulih sejak April hingga ke level tertinggi (ATH).
Dalam riset Syailendra bertajuk Market Insight: US Equities at New Highs, di tengah kenaikan tiga indeks utama di AS, dalam tiga bulan terakhir, sektor teknologi mencetak kinerja naik 22,8%. Disusul sektor keuangan 5,7%, dan industri sebesar 4,1%.
Advertisement
Syailendra menyebutkan, terdapat korelasi kuat antara pergerakan saham dengan pertumbuhan laba perusahaan teknologi yang sekaligus mencerminkan justifikasi objektif terhadap valuasi premium.
Syailendra memandang, perkembangan sektor teknologi AS yang berkelanjutan menjadikan sektor ini mampu memberikan long term growth.
Namun, risiko rate hike atau kenaikan suku bunga akibat kenaikan inflasi, ekspansi masif yang lebih cepat dibandingkan earnings growth hingga circulate financing wajib menjadi antisipasi utama investor ketika berinvestasi di sektor teknologi Amerika Serikat.
Pada pelaporan 2026, hampir 90% emiten S&P 500 mencatatkan kinerja di atas harapan. “Hal ini menjadi salah satu alasan di balik korelasi positif antara pergerakan harga emiten S&P 500 dan earnings growth yang terus terjaga dengan tingkat korelasi mencapai 77%,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra, Senin, (22/6/2026).
Seiring tiga indeks saham acuan yang positif di wall street, salah satu produk Syailendra yakni Syailendra Russell IdealRatings Top 200 Islamic Technology Index Sharia USD (SRITI) juga mengalami kenaikan 30% dari titik terendah. Kinerja SRITI sempat mengalami koreksi 12,2% saat perang Amerika Serikat dan Iran terjadi.
"Namun, SRITI berhasil rebound 20% dan kini mencatatkan return sebesar 8% since inception. Gap return yang terjadi antara SRITI dan benchmark-nya dikarenakan posisi cash yang dijaga pada level 15%,” demikian seperti dikutip.
3 Kunci di Balik Reli Kinerja SRITI
Syailendra menyebutkan, ada tiga kunci dibalik reli itu. Pertama, harga saham didorong fundamental. “Korelasi antara pergerakan harga saham dan kinerja perusahaan teknologi cukup tinggi yang menunjukkan kenaikan harga saham dipengaruhi kondisi fundamental, dan bukan narasi atau hype,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.
Kedua, top 10 konstituen SRITI mencatatkan kinerja kuartal I 2026 melebihi konsensus dengan korelasi harga vs earnings mencapai 97%. “Hasil kuartal pertama 2026 membuktikan premium valuation konstituen utama SRITI didasari oleh pertumbuhan laba yang berhasil melampaui konsensus. Valuasi price to earnings yang lebih rendah pada kuartal I 2026 mengindikasikan pertumbuhan laba bersih mengimbangi kenaikan harga,” demikian seperti dikutip.
Ketiga, sektor teknologi AS kini dihadapkan pada dua risiko utama, yakni perubahan arah suku bunga AS yang menuju kenaikan. Selain itu, persaingan ketat dengan China yang unggul dengan power supply.
Konstituen SRITI
Adapun konstituen SRITI terdiri dari empat sektor besar yang merupakan bagian utama dari ekosistem industri teknologi.
“Dominasi utama terletak di semiconductor, perusahaan yang merancang dan memproduk chip dan prosesor serta hyperscallers, penyedia cloud computing dan data center dengan capex jumbo,”
Syailendra menilai, itu menjadi pilihan ideal investor untuk menikmati long term growth dan perkembangan serta adopsi AI. Syailendra menyebutkan, adopsi AI yang bertumbuh agresif akan berpotensi mendorong pertumbuhan laba perusahaan teknologi ke depan.
"Namun, pergerakan harapan arah suku bunga, kesesuaian capex vs earnings serta kompetisi yang makin ketat dengan China menjadi barriers utama dalam perjalanan perkembangan perusahaan teknologi,” demikian seperti dikutip.