Sentimen MSCI Masih Membayangi IHSG Pekan Ini

Sentiimen MSCI masih membayangi pasar saham Indonesia. Hal ini mengingat akan rilis mengenai status klasifikasi pasar saham Indonesia.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 22 Juni 2026, 12:08 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menguat hampir lima persen lebih tinggi pada pembukaan 10 April 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,82% sepanjang pekan lalu ke level 6.177. Namun, di tengah penguatan tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (outflow) senilai Rp 4,5 triliun di pasar reguler. Pada pekan ini, analis mengimbau untuk memantau perkembangan terkait MSCI.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai penguatan IHSG didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. 

"Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula," tegas David. 

Dia menuturkan, kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara dari dalam negeri, pasar juga merespons keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI-Rate menjadi 5,75%, di atas ekspektasi pasar. Langkah tersebut memicu penyesuaian harga di pasar keuangan, khususnya saham dan obligasi. 

"Melalui langkah ini otoritas moneter memprioritaskan stabilitas stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek." 

Sentimen MSCI Jadi Sorotan

Untuk perdagangan periode 22–26 Juni 2026, IPOT mengimbau investor dan trader mencermati perkembangan terkait MSCI. Pasar sebelumnya sempat tertekan setelah MSCI dalam laporan Global Market Accessibility Review menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif. Penilaian tersebut berkaitan dengan transparansi kepemilikan saham (free float) dan indikasi perdagangan terkoordinasi (coordinated trading). 

"Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif," tegasnya. 

Saham yang Dapat Dicermati

Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.(YASUYOSHI CHIBA/AFP)

1.GGRM

Buy on Breakout GGRM (Current Price: 16,625, Entry: 17,475, Target Price: 19,000 (8.73%), Stop Loss: 16,600 (-5.01%) dan Risk to Reward Ratio 1:1.7). 

Emiten PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dalam jangka pendek kembali bergerak di atas MA5 dan MA20 dan berpotensi breakout dari area konsolidasinya.

2.MAPI

Buy on Breakout MAPI (Current Price: 1,510, Entry: 1,520, Target Price: 1,630 (7.24%), Stop Loss: 1,470 (-3.29%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2). Emiten MAPI (PT Mitra Adiperkasa Tbk) konsisten bertahan di atas MA5 dan price action mendukung untuk breakout dan melanjutkan kenaikan.

3.DEWA

Buy on Pullback DEWA (Current Price: 368, Entry: 358 (362), Target Price: 400 (11.73%), Stop Loss: 340 (-5.03%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3). Saham DEWA (PT Darma Henwa Tbk) dalam jangka pendek bertahan di atas MA5 dan indikator MACD masih cenderung mengarah bullish.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya