Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan manajemen investasi jumbo asal Amerika Serikat (AS), Franklin Resources menawarkan konversi sebagian dividen saham ke dalam Bitcoin (BTC). Perusahaan yang melantai di bursa saham New York (NYSE) dengan kode BEN ini menawarkan dua produk investasi alternatif ke otoritas bursa.
Fitur utama yang diusung adalah dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded funds/ETF) yang diusulkan menggunakan dividen perusahaan untuk membeli eksposur terhadap bitcoin. Ini akan menciptakan sumber permintaan yang tidak langsung dan stabil untuk cryptocurrency terbesar tersebut.
Advertisement
Dalam sebuah pengajuan dengan Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan mendaftarkan Franklin US Equity Bitcoin DRIP Index ETF dan Franklin US Innovation Bitcoin DRIP Index ETF. Keduanya dirancang untuk mempertahankan alokasi 95 persen dalam saham AS dan 5 persen dalam bitcoin.
"Mereka akan memegang saham AS berkapitalisasi besar, dengan yang pertama menawarkan eksposur pasar luas dan yang kedua fokus pada perusahaan pertumbuhan dan inovasi. Setiap dividen yang dikumpulkan akan diinvestasikan kembali dalam ETF bitcoin, futures, atau instrumen lainnya," seperti dikutip dari Coindesk, Senin (22/6/2026).
Struktur ini secara efektif menciptakan sumber bitcoin otomatis dengan perawatan rendah sebesar 5 persen yang sepenuhnya didanai oleh dividen ekuitas. Jika disetujui, ETF tersebut dapat mulai diperdagangkan secepatnya pada September 2026.
Kendati begitu, persetujuan regulasi tidak dijamin, pengajuan ini menandakan kenyamanan institusional yang semakin meningkat dalam menggabungkan ekuitas tradisional dan cryptocurrency dalam wadah yang diatur.
Ikuti Langkah BlackRock
Pengajuan ini mengikuti debut terbaru dari pendapatan ETF BlackRock, yang memungkinkan institusi untuk memonetisasi volatilitas cryptocurrency. 11 ETF bitcoin spot di AS telah menarik lebih dari US$ 53 miliar modal investor sejak peluncurannya pada 2024, menurut data SoSoValue.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan adanya minat institusional yang berkelanjutan terhadap bitcoin meskipun pasar sedang dalam kondisi bearish.
Harga BTC mencapai puncak di US$ 126.000 pada Oktober tahun lalu dan baru-baru ini diperdagangkan di bawah US$ 62.500.
Perusahaan Fintech Asal Italia Kantongi Lisensi Layanan Kripto
Sebelumnya, Conio, perusahaan financial technology (fintech) Italia yang didukung Poste dan Banca Generali, telah memperoleh lisensi di Italia untuk beroperasi sebagai penyedia layanan kripto atau crypto-asset service provider (CASP). Lisensi itu diperoleh berdasarkan peraturan Uni Eropa untuk aset digital atau the European Union regulation for digital assets (MiCAR).
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Kamis, (18/6/2026), lisensi itu diberikan setelah peninjauan yang melibatkan regulator pasar Consob dan Bank Sentral Italia atau Bank of Italy. Seiring lisensi itu memungkinkan Conio untuk menawarkan penyimpanan, transfer dan penempatan aset digital sesuai standar peraturan Uni Eropa.
Langkah ini dilakukan menjelang berakhirnya periode transisi MiCAR pada 30 Juni 2026, setelah itu perusahaan tanpa lisensi akan dilarang menawarkan layanan kripto di Italia dan Uni Eropa.
Conio menargetkan investor ritel, bank lain dan perusahaan fintech yang menawarkan solusi white-label serta perusahaan atau lembaga yang mencari layanan tokenisasi dan manajemen aset digital.
CEO Conio, Christian Miccoli menuturkan, lisensi tersebut membantu upaya Conio untuk menjadi mitra dalam mengintegrasikan aset digital ke dalam portofolio yang teregulasi. Hal ini seiring perusahaan memperluas perannya dalam proyek blockchain dan tokenisasi.
Italia Adopsi Aturan Kripto Uni Eropa
Sebelumnya, Italia akan menerapkan peraturan baru pada mata uang kripto sesuai dengan undang-undang Pasar dalam Peraturan Aset Kripto Uni Eropa (MiCA). Tujuannya adalah untuk menjamin stabilitas keuangan, mendorong inovasi, dan melindungi konsumen.
Dilansir dari Coinmarketcap, Senin (15/7/2024), Gubernur Bank Sentral Italia, Fabio Panetta mengumumkan peraturan tersebut dalam pidato yang disampaikan di depan Asosiasi Perbankan Italia (ABI).
Aturan tersebut memprioritaskan pentingnya token uang elektronik (EMT) dan token referensi aset (ART), yang dapat diandalkan dan aman untuk melakukan pembayaran.
Rekomendasi tersebut bertujuan untuk menetapkan struktur yang tepat dan mengikat secara hukum untuk token ini, sesuai dengan norma-norma Eropa, dan mewakili kemajuan yang signifikan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.