Trump Pamer Pesawat Kepresidenan Baru Bekas Qatar

Pengenalan pesawat ini sekaligus menandai perubahan resmi corak warna eksterior kepresidenan yang telah bertahan sejak dekade 1960-an.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Juni 2026, 09:00 WIB
Presiden AS Donald Trump memberikan keterangan kepada awak media setelah meninjau pesawat Boeing 747 yang akan bergabung dengan armada Air Force One di Joint Base Andrews, Maryland, Jumat (19/6/2026). (Dok. AP/Manuel Balce Ceneta)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (19/6/2026) memperkenalkan Air Force One baru, pesawat yang sebelumnya dimiliki Qatar dan telah dimodifikasi untuk digunakan sebagai pesawat resmi kepresidenan AS.

Pesawat itu dipamerkan dalam sebuah seremoni di Joint Base Andrews, Maryland, di hadapan ratusan personel Angkatan Udara AS. Trump turun dari pesawat diiringi lagu "God Bless the USA" sebelum menyampaikan pidato.

"Pesawat ini telah diubah menjadi Gedung Putih terbang dengan tingkat kemewahan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya," kata Trump seperti dilaporkan Associated Press.

Air Force One baru tersebut tampil berbeda dibanding armada kepresidenan yang selama ini digunakan. Warna biru muda khas era Presiden John F. Kennedy digantikan dengan kombinasi biru tua pada bagian bawah badan pesawat dan garis merah di atasnya. Lambang kepresidenan ditempatkan di sisi kiri pesawat, sementara bagian ekornya dihiasi bendera AS berukuran besar.

Trump mengatakan akan menggunakan pesawat tersebut untuk menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, bulan depan. Menurutnya, kepulangannya dari KTT G7 di Prancis pekan ini menjadi perjalanan terakhir yang direncanakan menggunakan Air Force One lama.

Ia mengindikasikan akan kembali mengunjungi China pada masa mendatang, yang tampaknya merujuk pada Konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang akan digelar di negara tersebut pada November.

"Sekarang, ketika kita mendarat di bandara-bandara di London, di Jerman, dan berbagai tempat lainnya, tidak ada yang bisa menandingi pesawat ini, dan memang seperti itulah seharusnya untuk negara kita," ujarnya.

Trump juga mengatakan pesawat tersebut akan melakukan atraksi terbang lintas (flyover) dalam perayaan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli mendatang.

 

Air Force One Sementara

Pesawat Boeing 747 yang akan bergabung dengan armada Air Force One berada di hanggar setelah ditinjau Presiden AS Donald Trump di Joint Base Andrews, Maryland, Jumat (19/6/2026). (Dok. AP/Manuel Balce Ceneta)

Pesawat bekas Qatar itu akan digunakan sebagai pesawat transisi hingga armada Air Force One baru yang dipesan langsung dari Boeing mulai dikirim. Pengiriman pesawat tersebut dijadwalkan pada 2028.

Pemerintahan Trump secara resmi menerima jet mewah Boeing 747 dari Qatar tahun lalu untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan, meskipun langkah itu memunculkan pertanyaan mengenai etika dan legalitas penerimaan hadiah bernilai besar dari pemerintah asing.

Trump sebelumnya menegaskan bahwa ia tidak akan menggunakan pesawat tersebut setelah meninggalkan jabatannya dan mengatakan pesawat itu nantinya akan disumbangkan kepada perpustakaan kepresidenan di masa depan.

Pada Jumat, Trump mengatakan pengiriman pesawat baru Boeing yang semula dijadwalkan pada 2024 masih mengalami keterlambatan. Ia lalu mengenang saat meminta emir Qatar menyediakan salah satu pesawatnya untuk digunakan sementara. 

"Presiden biasa tidak akan melakukan hal seperti ini. Presiden biasa ingin menjauh dari urusan pesawat. Tetapi negara kita harus direpresentasikan dengan baik," kata Trump.

Dalam siaran pers yang dirilis pada Jumat, Angkatan Udara AS menyatakan bahwa setiap pesawat yang ditetapkan sebagai Air Force One harus memenuhi persyaratan keamanan yang ketat. Menurut Angkatan Udara, modifikasi dilakukan melalui proses rekayasa yang berfokus pada pemenuhan seluruh kemampuan utama yang wajib dimiliki pesawat kepresidenan.

Angkatan Udara juga menyatakan sebagian besar tata letak interior pesawat tetap dipertahankan. 

Sebelumnya, Angkatan Udara memperkirakan biaya modifikasi keamanan pada pesawat tersebut kurang dari US$ 400 juta.

Upaya Trump mengubah tampilan Air Force One sebenarnya telah dimulai sejak masa jabatan pertamanya. Saat itu ia menginginkan armada baru menggunakan skema warna yang hampir identik dengan pesawat pribadinya.

Presiden saat itu, Joe Biden, membatalkan keputusan tersebut pada Maret 2023 setelah hasil kajian Angkatan Udara menunjukkan bahwa penggunaan warna yang lebih gelap berpotensi meningkatkan biaya dan menunda pengiriman pesawat baru. Namun setelah kembali menjabat, Trump kembali menerapkan desain pilihannya pada pesawat tersebut.

Awal tahun ini, Angkatan Udara mengonfirmasi bahwa pesawat pemerintah lain yang digunakan pejabat tinggi pemerintahan akan mengadopsi kombinasi warna merah, putih, dan biru tua yang serupa.

Sementara itu, dua pesawat Air Force One yang saat ini digunakan, yang dikenal sebagai VC-25A, tidak akan dipensiunkan. Seorang juru bicara Angkatan Udara mengatakan kedua pesawat tersebut akan tetap berada dalam armada hingga pesawat Boeing baru, yang dikenal sebagai VC-25B, mulai beroperasi.

Belum jelas bagaimana pesawat-pesawat lama itu akan digunakan. Namun, menurut Angkatan Udara, baik pesawat bekas Qatar maupun armada VC-25A akan tetap tersedia untuk digunakan. Presidential Airlift Group akan menentukan pesawat yang digunakan dalam setiap penerbangan presiden sesuai kebutuhan operasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya