Liputan6.com, Jakarta - Eksekusi Hotel Sultan hari ini, Kamis (18/6/2026) telah selesai. Tim verifikasi menyisir semua area hotel, membobol kamar, dan memastikan tidak ada ruangan yang luput untuk diperiksa.
Di tengah proses tersebut, Lutfhi (39), seorang warga Surabaya kaget saat melihat kamarnya yang sudah terbuka. Pria asal Surabaya tersebut bergegas mengecek barang bawaannya. Benar saja, ada beberapa barang seperti baju dan alat mandi hilang entah ke mana.
Advertisement
Ia kembali ke hotel saat personel gabungan berhasil memukul mundur massa. Situasi hotel sudah tampak berantakan dan ramai. Bukan hanya di lobi, melainkan di setiap lantai, termasuk kamar Lutfhi.
Personel gabungan TNI dan Polri terlihat secara bergantian mengawal tim juru sita dan verifikator memeriksa setiap sudut hotel.
Tak terbayang olehnya, perjalanan dinas ke Jakarta justru berujung petaka. Ia menjadi pengunjung yang terdampak setelah Hotel Sultan diambil oleh negara.
Buruknya Komunikasi Pihak Hotel ke Tamu
Di lobi hotel yang berantakan, Lutfhi mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, tidak ada komunikasi yang jelas antara pihak hotel dan para pengunjung sebelum eksekusi berlangsung. Pihak hotel hanya memberikan info bahwa pelayanan tetap berjalan.
"Masalae wes mbayar, lah kemarin enggak ada pengumuman, enggak ada info. Cuma jam 9 malam kalau enggak salah (kabar layanan hotel tetap berjalan)," ungkap Lutfhi, Kamis (18/6/2026).
Lutfhi mengaku hanya mengetahui akan ada unjuk rasa di depan hotel tempatnya menginap. Saat hendak ke lokasi kerja pagi hari, ia sempat melihat halaman Hotel Sultan sudah terpasang kawat berduri. Ia sempat meminta izin kepada pengelola hotel untuk melintas dan diizinkan.
Ia tak punya firasat apa-apa dengan pemandangan itu. Apalagi pihak hotel sudah menginformasikan bahwa operasional tetap berjalan. Dengan keyakinan tersebut, Lutfhi tetap bergegas ke lokasi acara usai menyantap sarapan.
Jelang sore, Lutfhi kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum mengikuti agenda terakhir di Jakarta esok harinya. Betapa kagetnya dia karena sudah berantakan. Banyak petugas berjaga. Parahnya lagi, kamar para tamu yang sebelum tertutup rapat sudah dalam keadaan terbuka. Di tengah kebingungan, Lutfhi sempat berpapasan dengan petugas dan menanyakan apa yang terjadi
Dengan santainya Lutfhi menjawab ingin ke kamar. Pada saat itulah, ia tahu bahwa hotel tersebut sedang dieksekusi.
"Saat pulang saya kan bawa kartu akses dilirik sama bapak polisi itu 'Mau ke mana mas?', 'Ke kamar', 'Lho gak tau tah kalau hotelnya dieksekusi?', 'Lho tadi pagi kan cuma demo katanya' seperti itu," ucap Lutfhi.
Bagi Lutfhi, hilangnya pakaian bukanlah persoalan terbesar, meski nilainya cukup mahal. Dia lebih menyesalkan minimnya komunikasi pengelola hotel terhadap para tamu yang menginap saat proses tersebut berlangsung.
Menurutnya, kondisi ini sebenarnya bisa diantisipasi lebih awal. Jika pihak hotel memberikan informasi akan ada eksekusi pengosongan, ia akan mengemas barang dan pergi mencari hotel lain sehingga tidak menjadi korban.
Kini, meski pakaian telah raib, Lutfhi tetap menjalankan tanggung jawabnya. Ia mengembalikan kunci akses ke resepsionis, meski tak ada orang yang menyambut. Hanya adas petugas keamanan lalu lalang, tapi bukan untuk melayani. Mengenakan baju batik dan celana pendek sambil menenteng tas serta membawa barang-barang seadanya, Lutfhi akhirnya melangkah keluar dari lobi hotel.
Ia berusaha mencari pihak manajemen yang seharusnya dapat dimintai pertanggungjawaban atas situasi yang dialaminya saat ini.
Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Tak satu pun pihak hotel berhasil dia temui. Pada akhirnya, Lutfhi hanya bisa meninggalkan hotel dan mencari tempat menginap lain.
Di tengah perjalanan dinas yang belum usai, ia terpaksa merogoh kocek tambahan untuk membayar penginapan baru. Padahal, ada satu sisa satu malam yang seharusnya ia dapatkan.
"Lah kalau ada (informasi eksekusi) ya saya bawa semuanya. Saya gak mungkin balik dan pakaian kayak gini kan, ini sepatunya di sini kayak wong ngungsi gini lho. Ya opo lali mau cari hotel lagi," curhatnya.