Pakai Boneka, Pengemudi Tesla Sukses Kelabui Sistem FSD

Aksi pengemudi di China yang diduga memanfaatkan kepala boneka untuk mengelabui sistem Tesla Full Self-Driving (FSD).

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 17 Juni 2026, 09:17 WIB
Ilustrasi mengemudi (dok. Pixabay.com/Free-Photos/Putu Elmira)

Liputan6.com, Beijing - Sejumlah pengemudi Tesla di China menjadi sorotan setelah diduga menggunakan kepala boneka untuk mengelabui sistem pemantauan pengemudi pada fitur Full Self-Driving (FSD). Praktik tersebut memicu kekhawatiran terkait keselamatan berkendara dan potensi penyalahgunaan teknologi bantuan mengemudi.

Salah satu kasus yang viral di media sosial memperlihatkan sebuah kepala boneka mini yang menyerupai aktor Dwayne Johnson dipasang di dekat kaca spion kendaraan. Boneka tersebut diduga digunakan agar kamera pemantau di dalam kabin mendeteksi seolah-olah pengemudi tetap memperhatikan jalan.

Laporan menyebut praktik tersebut muncul setelah otoritas China memperketat sistem pemantauan pengemudi melalui pembaruan perangkat lunak Tesla pada 2025. Sebelumnya, sebagian pengguna juga dilaporkan mencoba mengakali sistem dengan menggunakan kacamata hitam atau pemberat pada setir.

Fitur Full Self-Driving Tesla saat ini masih diklasifikasikan sebagai sistem bantuan mengemudi Level 2. Artinya, pengemudi tetap diwajibkan mengawasi kondisi jalan dan siap mengambil alih kendali kendaraan kapan saja.

Meski demikian, sebagian pengguna disebut masih memiliki persepsi bahwa sistem tersebut mampu mengemudi secara sepenuhnya otonom tanpa pengawasan manusia, dikutip dari laman Autonocion, Rabu (17/6/2026).

Fenomena penggunaan kepala boneka itu memicu kritik dari sejumlah pihak di China. Mereka menilai tindakan mengelabui sistem keselamatan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan dan membahayakan pengguna jalan lainnya.

Di sisi lain, sejumlah pemilik Tesla juga dilaporkan mengajukan gugatan terhadap perusahaan karena menilai kemampuan Full Self-Driving tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi yang terbentuk dari nama dan promosi fitur tersebut.

Kasus ini kembali menyoroti tantangan dalam pengembangan teknologi bantuan mengemudi canggih, terutama terkait perilaku pengguna yang berupaya mengabaikan atau mengakali fitur keselamatan yang dirancang untuk menjaga perhatian pengemudi selama berkendara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya