Bank Sentral Jepang Dongkrak Suku Bunga, Sentuh Level Tertinggi Sejak 1995

Pengamat menilai, Bank Sentral Jepang mengkhawatirkan risiko inflasi ketimbang perlambatan pertumbuhan ekonomi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 16 Juni 2026, 12:35 WIB
Kantor pusat Bank of Japan di Tokyo, Jepang. (Foto: Shuji Kajiyama, file/AP)

Liputan6.com, Jakarta - Bank of Japan (BoJ) atau Bank Sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%. Keputusan ini membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun sekaligus menandai berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter yang dimulai pada 2024.

BoJ menilai, inflasi konsumen masih berada di bawah target 2% karena berbagai kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk menekan beban rumah tangga akibat mahalnya harga energi. Meski demikian, bank sentral mengingatkan, kenaikan harga minyak mentah mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi.

"Penerusan kenaikan harga yang berasal dari lonjakan harga minyak mentah berlangsung relatif cepat dalam transaksi antarbisnis dan dapat menyebar menjadi kenaikan harga konsumen pada berbagai jenis barang,” tulis BoJ dalam keterangannya, dilansir dari CNBC, Selasa (16/6/2026).

Kondisi tersebut tercermin pada Indeks Harga Produsen (PPI) Jepang yang naik 6,3% pada Mei, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan biaya energi menjadi pendorong utama lonjakan tersebut.

Ini juga menjadi kenaikan pertama sejak Desember lalu, ketika BoJ menaikkan suku bunga dari 0,5% menjadi 0,75%. Terakhir kali suku bunga Jepang berada di level 1% terjadi pada 1995.

Dalam pernyataannya, BoJ menyebut keputusan itu diambil dengan suara 7 banding 1. Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang menolak kenaikan dan memilih mempertahankan suku bunga di level 0,75%.

Langkah pengetatan moneter dilakukan di tengah tekanan inflasi yang mulai meningkat serta pelemahan nilai tukar yen. Konflik yang melibatkan Iran turut menambah kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.

Pasar merespons positif keputusan tersebut. Indeks Nikkei 225 naik 0,46% setelah pengumuman, sementara yen menguat tipis ke level 160,22 per dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga naik 3 basis poin menjadi 2,615%.

 

 

Kurangi Pembelian Obligasi

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

Selain menaikkan suku bunga, BoJ menegaskan akan melanjutkan pengurangan pembelian obligasi pemerintah sebesar 200 miliar yen setiap kuartal. Setelah proses itu selesai, bank sentral akan mempertahankan pembelian obligasi pemerintah Jepang sebesar 2 triliun yen per bulan mulai April 2027.

Kepala Strategi Pasar Asia Pasifik J.P. Morgan Asset Management, Tai Hui, menilai hasil pemungutan suara yang hampir bulat menunjukkan fokus BoJ saat ini lebih tertuju pada risiko inflasi dibandingkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, meningkatnya harapan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz juga membantu mengurangi ketidakpastian pasokan energi ke Jepang. Kondisi itu dinilai memberikan ruang lebih besar bagi BoJ untuk melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya.

Bursa Saham Asia

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik bervariasi pada perdagangan Selasa, (16/6/2026). Pergerakan bursa saham Asia ini berlawanan dengan wall street yang melesat.

Mengutip CNBC, indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,61%. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berisi saham-saham kapitalisasi kecil turun 1,47%.

Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang mendatar. Indeks Topix susut 0,38%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong berada di 24.799, lebih rendah dari penutupan indeks di 24.842,67.

Pergerakan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan mengakhiri perang di Timur Tengah.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menuturkan, kedua pihak telah mengatakan, penghentian operasi militer di semua lini akan diresmikan dalam penandatanganan pada Jumat pekan ini di Swiss. Kepada CNBC, pejabat senior pemerintahan Trump menuturkan, nota kesepahaman tersebut ditandatangani secara elektronik pada Minggu.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan, jalur utama Selat Hormuz akan dibuka kembali pada Jumat pekan ini. Sentimen itu menyebabkan harga minyak turun hampir 5% pada Senin.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menuturkan, Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya untuk jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya