Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun dan bursa saham Eropa dan Asia menguat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang. Salah satu, menurut Presiden AS Donald Trump akan kembali membuka jalur pelayaran Utama Selat Hormuz.
Mengutip BBC, Senin, (15/6/2026), harga minyak Brent turun 4,7% menjadi US$ 83,24 per barel. Pakistan yang telah menjadi mediator untuk mengakhiri perang AS-Iran mengatakan, penandatanganan resmi kesepakatan antara AS-Iran diadakan pada Jumat, 19 Juni di Swiss.
Advertisement
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi menuturkan, kesepakatan dengan AS telah diselesaikan, sementara Trump memposting di media sosial "biarkan minyak mengalir!".
Namun, analis Vandana Hari dari perusahaan Vanda Insights mengatakan kurangnya detail tentang apa yang telah disepakati "kemungkinan akan menimbulkan keresahan dan ketidakpastian di pasar."
"Ini bisa berarti seminggu penuh ketidakpastian dan volatilitas bagi pasar minyak," ia menambahkan.
Selat Hormuz efektif telah ditutup sejak tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Setelah konflik dimulai, Teheran mengancam akan menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur air penting tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Mengutip CNBC, bursa saham Eropa dan Asia menguat di tengah kabar kesepakatan damai AS-Iran. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 menguat 1,2% pada pembukaan Senin. Hal ini seiring berita AS telah mencapai kesepakatan damai dengan Iran, dan kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
Indeks CAC 40 Prancis menguat 1,9%. Diikuti indeks DAX Jerman mendaki 1,8%. Indeks FTSE MIB Italia bertambah 1,4% dan indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,8%.
Sebagian besar sektor regional juga mengalami kenaikan yang signifikan. Saham produsen mobil melonjak 3,7%, sementara perusahaan konstruksi naik 3,2%, dan saham sektor perjalanan dan rekreasi naik 2,8%.
Saham Teknologi di Asia Naik
Bursa saham Asia melonjak, yang salah satunya didorong saham teknologi. Hal ini dipicu investor menyambut baik kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Investor teknologi Jepang, SoftBank, menjadi saham dengan kinerja terbaik di antara saham-saham teknologi utama di Asia, naik lebih dari 12%. Saham Tokyo Electron dan Advantest masing-masing naik 9,19% dan 7,69%.
Raksasa chip memori dan saham-saham unggulan di Indeks Kospi Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing naik 4,65% dan 6,42%.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Co, atau TSMC, naik 2,16%, sementara Hon Hai Precision, juga dikenal sebagai Foxconn, naik 2,5%.Send feedback
Bursa Saham Asia Menguat
Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,1%, Nikkei 225 Jepang naik 3,6%, dan indeks Topix yang lebih luas naik 2,6%. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1,3%.
“Pasar telah menunggu berita ini selama berbulan-bulan, dan kelegaan sudah terlihat, dengan harga minyak turun dan aset berisiko meningkat, setelah Presiden Trump mengkonfirmasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dan blokade angkatan laut AS akan dicabut,” ujar Analis eToro, Josh Gilbert, demikian mengutip CNBC.
Penurunan harga minyak dan prospek perdamaian berdampak pada kelas aset lainnya. Indeks dolar AS melemah 0,32% menjadi 99,483, sementara imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan turun 5 basis poin menjadi 4,423%. Ini menunjukkan investor mengurangi kekhawatiran inflasi karena penurunan harga energi.
“Implikasi yang paling langsung adalah penyesuaian kembali premi risiko inflasi yang telah ditanggung pasar sejak Selat Taiwan ditutup,” kata ahli strategi investasi di Global X ETFs, Billy Leung.
“Minyak adalah yang paling banyak mengalami pergerakan tajam, tetapi sinyal yang lebih penting sebenarnya ada pada obligasi, di mana penurunan imbal hasil bersamaan dengan kenaikan ekuitas menegaskan bahwa pasar telah memperlakukan guncangan energi sebagai sesuatu yang sementara dan bukan structural," ia menambahkan.