Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai. Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade militer AS di Selat Hormuz kini resmi berakhir.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, kesepakatan damai antara Iran dan AS yang membuka kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif untuk pasar saham.
Advertisement
"Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz telah menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia," kata Hendra kepada Liputan6.com, Senin (15/6/2026).
Ia melihat dampak dari perdamaian tersebut membuat harga minyak mentah terkoreksi lebih dari 3% hingga 4%. Hal ini meredakan tekanan inflasi global dan meningkatkan optimisme investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.
"IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini dengan target menguji area resistance 6.233, sementara level 5.900 menjadi support penting yang perlu dijaga. Sentimen global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tekanan utama pasar kini mulai menunjukkan perbaikan," ujarnya.
Menurut Hendra, perbaikan sentimen global juga tercermin dari penguatan mayoritas bursa dunia. Indeks-indeks utama di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia ditutup menguat. Sementara itu, indeks volatilitas VIX turun signifikan yang menandakan tingkat ketakutan investor mulai mereda.
Di sisi lain, yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun mengalami penurunan dan ETF Indonesia (EIDO) di Amerika Serikat turut menguat. Kondisi ini menunjukkan persepsi risiko terhadap aset Indonesia mulai membaik dan membuka peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik apabila sentimen positif tersebut dapat dipertahankan.
Kabar Baik Penurunan Harga Minyak
Selain faktor geopolitik yang membaik, penurunan harga minyak juga menjadi kabar baik bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai net importir minyak.
Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan terhadap inflasi, menjaga stabilitas fiskal pemerintah, serta membantu memperbaiki persepsi investor terhadap kondisi makroekonomi nasional.
"Pada saat yang sama, harga sejumlah komoditas logam seperti emas, perak, tembaga, nikel, dan timah masih menunjukkan tren positif. Hal ini dapat menjadi katalis bagi saham-saham sektor pertambangan mineral dan logam yang selama ini menjadi salah satu penopang pasar," kata Hendra.
Tantangan Faktor Domestik
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi berasal dari faktor eksternal, melainkan dari dalam negeri. Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih prudent dan kredibel.
"Dalam beberapa bulan terakhir, kekhawatiran investor lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian kebijakan domestik dibandingkan faktor global," ujarnya.
Oleh karena itu, apabila pemerintah mampu memberikan sinyal yang konsisten terkait keberlanjutan fiskal, menjaga kepercayaan dunia usaha, serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan berkeadilan, maka potensi pemulihan pasar saham Indonesia akan semakin besar.