Liputan6.com, Moskow - Ketika berkunjung ke toko buku Bookvoed di Rybatskaya Ulitsa, St. Petersburg, Rusia, satu hal langsung menarik perhatian saya: kucing.
Gambar hewan yang identik dengan kesan menggemaskan itu muncul hampir di setiap sudut toko. Mulai dari buku cerita anak hingga beragam suvenir seperti magnet, gantungan kunci, tote bag, cangkir, kartu pos, dan sarung paspor.
Advertisement
Rasa penasaran mendorong saya bertanya kepada kasir, seorang perempuan muda bernama Maria.
"Kucing adalah bagian dari sejarah St. Petersburg," katanya saat saya temui pada Sabtu (6/6/2026). "Semuanya bermula ketika Permaisuri Yelizaveta Petrovna memerintahkan agar kucing-kucing pemburu tikus didatangkan ke istana. Tradisi itu bertahan sampai sekarang."
Jawaban singkat itu justru membuat saya semakin penasaran.
Selama enam hari berada di St. Petersburg, saya hanya dua kali melihat kucing. Pertama, seekor kucing hitam liar yang melintas di jalanan. Kedua, seekor kucing peliharaan yang sesekali muncul dari jendela sebuah apartemen.
Jika kucing memang begitu penting bagi kota ini, mengapa keberadaan mereka justru tidak terlalu terlihat?
Pertanyaan itu saya ajukan kepada Erika, resepsionis Vvedensky Hotel tempat saya menginap.
"Setahu saya, kucing pernah menyelamatkan warga St. Petersburg beberapa kali. Salah satunya saat Perang Dunia II ketika kota ini masih bernama Leningrad dan berada dalam pengepungan," ujarnya. "Dan memang benar, gambar kucing banyak ditemukan di suvenir. Orang-orang di sini menyukai kucing."
Menurut Erika, alasan saya jarang melihat kucing cukup sederhana.
"Karena cuacanya dingin. Banyak yang dipelihara di dalam rumah. Saya sendiri juga punya kucing," katanya.
Ikatan Sejarah Kucing dan St. Petersburg
Merujuk pada catatan sejarah yang dipublikasikan berbagai sumber, termasuk Aleteia, kisah ini bermula ketika Permaisuri Yelizaveta Petrovna mengeluarkan perintah untuk mendatangkan kucing-kucing pemburu ke ibu kota Kekaisaran Rusia. Saat itu, kompleks istana menghadapi masalah serius akibat serangan wabah tikus yang merusak area dapur kekaisaran dan mengancam ruang penyimpanan makanan.
Pasukan berbulu ini pun sukses menjalankan tugas mereka, hingga sang permaisuri memutuskan untuk mempertahankan kawanan kucing tersebut secara permanen guna mengusir hama.
Waktu berlalu, takhta pun berganti ke tangan Permaisuri Ekaterina II (Yekaterina yang Agung). Ketika Istana Musim Dingin selesai dibangun, kucing-kucing pemburu tikus ini tetap dipertahankan. Bahkan, saat sang permaisuri mendirikan cikal bakal Museum Hermitage di dalam kompleks istana tersebut pada 1764, mereka resmi menyandang status baru sebagai penjaga galeri seni kekaisaran.
Tradisi ratusan tahun lalu itu terus hidup hingga kini. Meski kini seluruh kompleks istana telah sepenuhnya menjadi Museum Hermitage—salah satu museum seni terbesar di dunia—puluhan kucing tetap tinggal di ruang bawah tanahnya. Dirawat oleh staf khusus di bawah tanah, mereka kini dikenal dunia sebagai Hermitage Cats dan telah menjadi bagian dari identitas kota St. Petersburg.
Peran kucing dalam sejarah kota tidak berhenti sebagai penjaga istana dan museum.
Pada Perang Dunia II, Leningrad mengalami pengepungan hampir 900 hari oleh pasukan Nazi Jerman. Kelaparan dan kondisi perang yang ekstrem membuat populasi kucing di kota itu nyaris lenyap.
Ketika pengepungan berakhir, kota menghadapi persoalan baru. Tikus berkembang biak tanpa kendali dan memenuhi jalanan, bangunan, serta gudang penyimpanan makanan. Dalam situasi ketika warga masih berjuang memulihkan kehidupan, keberadaan tikus menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan persediaan pangan.
Untuk mengatasinya, ribuan kucing didatangkan dari berbagai wilayah Rusia. Kehadiran mereka membantu menekan populasi tikus dan mendukung proses pemulihan kota pascaperang.
Sejak saat itu, kucing tidak lagi dipandang sekadar pemburu tikus. Mereka dikenang sebagai bagian dari upaya penyelamatan dan kebangkitan kota setelah salah satu periode paling kelam dalam sejarahnya.
Karena itu, saya tidak perlu sering melihat kucing berkeliaran di jalanan untuk merasakan kehadiran mereka di St. Petersburg. Di kota ini, kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Mereka adalah bagian dari ingatan kolektif warga: penjaga istana pada masa kekaisaran, penyelamat kota setelah perang, dan simbol sejarah yang bernyawa.