Liputan6.com, Jakarta - Nakamoto Inc, perusahaan bitcoin yang berbasis di Nashville telah menjual sebagian bitcoin (BTC) untuk memperkuat neraca keuangan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi utang dan pembiayaan ulang. Selain itu, menggelar program pembelian kembali saham US$ 25 juta atau Rp 448,12 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.930).
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Jumat (12/6/2026), Nakamoto menjual sekitar 600 bitcoin dan produk derivatif terkait. Dari hasil penjualan BTC itu, Nakamoto menghasilkan US$ 48 juta atau Rp 860,40 miliar. Pendanaan itu dipakai untuk mengurangi utang US$ 45 juta atau Rp 806,62 miliar dan memperpanjang sekitar 105 juta USDT hingga Juni 2027.
Advertisement
Langkah-langkah ini terjadi di tengah gejolak yang terus berlanjut di pasar mata uang kripto. Bitcoin jatuh lebih dari 21% selama bulan lalu. Bitcoin anjlok di bawah angka US$ 60.000 atau Rp 1,07 miliar minggu lalu untuk pertama kali sejak 2024.
“Volatilitas pasar Bitcoin baru-baru ini memperkuat pentingnya menjaga neraca keuangan yang disiplin,” ujar Nakamoto’s Chief Investment Officer, Tyler Evans.
“Melalui pembiayaan ulang ini, kami telah mengurangi utang secara keseluruhan, memperpanjang sebagian besar profil jatuh tempo kami hingga 2027, dan meningkatkan fleksibilitas utang kami secara keseluruhan,”
Evans memuji Kraken, bursa kripto yang bertindak sebagai pemberi pinjaman Nakamoto, sebagai "mitra pembiayaan yang bijaksana dan suportif."
Berdasarkan lembar persyaratan pinjaman baru dengan Kraken, 60 juta USDT akan jatuh tempo pada Desember 2026, sementara sisa 105 juta USDT telah diundur ke Juni 2027. Perjanjian yang direvisi juga mengurangi suku bunga hingga serendah 7,75% per tahun, dengan syarat perusahaan mempertahankan jaminan minimum sebesar 2.000 Bitcoin. Nakamoto mengatakan, perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya bunga tahunan sekitar US$ 4 juta atau Rp 71,7 miliar.
Setelah transaksi tersebut, Nakamoto memiliki sekitar 4.467 Bitcoin di neraca keuangan dengan nilai sekitar US$ 284 juta atau Rp 5,09 triliun.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Arthur Hayes Ungkap Penyebab Harga Bitcoin Sulit Reli
Sebelumnya, pendiri sekaligus mantan CEO bursa kripto BitMEX, Arthur Hayes, mengungkapkan pandangannya mengenai alasan harga Bitcoin belum mampu melesat lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Hayes, salah satu faktor utama yang menahan laju kenaikan Bitcoin adalah derasnya aliran modal ke sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Akibatnya, likuiditas baru yang tercipta dari ekspansi pasokan dolar AS tidak sepenuhnya mengalir ke pasar aset kripto.
Dalam tulisan terbarunya, dikutip dari cryptopotato, Kamis (11/6/2026), Hayes mengaku selama ini meyakini bahwa pergerakan pasar kripto sangat dipengaruhi oleh likuiditas fiat atau uang konvensional. Namun, ia menyadari ada satu faktor penting yang sebelumnya kurang diperhitungkan, yakni ke mana likuiditas tersebut sebenarnya mengalir.
Menurut dia, secara teori Bitcoin seharusnya mencatat kinerja yang lebih kuat seiring meningkatnya jumlah uang beredar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sebagian besar modal justru mengalir ke sektor AI yang tengah berkembang pesat.
Hayes menyebut peluncuran publik chatbot AI ChatGPT pada November 2022 sebagai awal dari apa yang ia sebut sebagai "gelembung besar AI" atau great AI bubble.
Dalam periode yang sama, Bitcoin memang berhasil bangkit dari tekanan pasca-runtuhnya bursa kripto FTX. Harga aset digital terbesar di dunia itu naik dari sekitar US$ 15.000 menjadi sekitar US$ 125.000 pada Oktober 2025.