Rupiah Menguat Seiring Meredanya Kekhawatiran Fiskal

Rupiah menguat ke Rp 17.941 per dolar AS didorong meredanya kekhawatiran fiskal, penyesuaian harga Pertamax, dan kenaikan BI Rate.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 11 Juni 2026, 11:30 WIB
Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.944 per dolar AS. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (11/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat naik 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 17.941 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.944 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa penguatan rupiah terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal Indonesia. Menurut dia, sejumlah perkembangan terbaru memberikan sinyal positif bagi kondisi fiskal nasional.

“Kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda seiring pelemahan harga minyak global, sementara keputusan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM (Bahan Bakar Minyak) Pertamax turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal,” ujarnya dikutip dari Antara. 

Josua menjelaskan, kombinasi faktor tersebut memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa defisit fiskal Indonesia masih dapat terjaga dalam batas yang terkendali. Kondisi itu tidak hanya mendukung pergerakan rupiah, tetapi juga memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi domestik.

Selain faktor fiskal, rupiah juga mendapat dorongan dari kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Keputusan bank sentral menaikkan suku bunga acuan sehari sebelumnya dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan.

Kenaikan BI Rate meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik, sehingga berpotensi menarik arus modal masuk dan memperkuat posisi rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Sentimen Eksternal

Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.944 per dolar AS. (BAY ISMOYO/AFP)

Dari sisi eksternal, perhatian investor tertuju pada perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Josua menyebut inflasi umum Negeri Paman Sam pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,2 persen secara tahunan (year on year/yoy), naik dibandingkan 3,8 persen pada bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Menurut dia, kenaikan tersebut menandai percepatan inflasi selama tiga bulan berturut-turut. Faktor utama pendorongnya adalah lonjakan harga energi yang mencapai 23,5 persen secara tahunan di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, tekanan inflasi bulanan menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Inflasi umum secara bulanan (month on month/mom) tercatat sebesar 0,5 persen, lebih rendah dibandingkan 0,6 persen pada April 2026.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi bergejolak hanya naik tipis menjadi 2,9 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,8 persen. Secara bulanan, inflasi inti bahkan melambat menjadi 0,2 persen dari 0,4 persen pada bulan sebelumnya.

 

Prediksi Gerak Rupiah Hari ini

Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.944 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Josua menilai data inflasi AS tersebut memberikan sinyal bahwa tekanan harga yang berasal dari kenaikan energi belum menyebar secara luas ke berbagai sektor ekonomi.

“Data tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi terhadap tingkat harga secara keseluruhan tidak sekuat yang sebelumnya dikhawatirkan. Oleh karena itu, investor sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kenaikan suku bunga sebesar 25 bps (basis points) pada Desember 2026 masih fully priced in,” ungkap dia.

Meredanya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi menjaga aliran modal asing tetap masuk ke pasar keuangan domestik.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, mulai dari membaiknya sentimen fiskal Indonesia, dampak kenaikan BI Rate, hingga perkembangan inflasi AS, Josua memperkirakan pergerakan rupiah masih akan relatif stabil.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya