Purbaya Soal Kuota BBM Subsidi Setelah Harga Pertamax Naik: Tanya ke Pak Bahlil

Angkutan umum dan barang yang tidak memakai Pertamax sehingga diprediksi tidak terlalu berdampak ke inflasi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Juni 2026, 17:35 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat acara Semangat Awal Tahun 2026, di Menara Global, Jakarta, Rabu (14/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, upaya pemerintah menjaga agar kuota BBM bersubsidi tidak jebol akibat potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke BBM subsidi. Purbaya menyerahkan, penjelasan teknis kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Menurut dia, Kementerian ESDM lebih memahami mekanisme pengendalian distribusi BBM bersubsidi, termasuk penerapan sistem pengawasan pembelian di SPBU.

“Itu tanya ke Pak Bahlil. Mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau enggak salah, tanya Pak Bahlil yang lebih ngerti,” kata Purbaya di DPR, Rabu (10/6/2026).

Ia menilai, kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax tidak akan memberikan tekanan besar terhadap inflasi. Menurut dia, dampak kenaikan harga Pertamax terhadap kenaikan harga barang dan jasa diperkirakan terbatas karena bahan bakar tersebut tidak banyak digunakan untuk angkutan barang maupun transportasi umum.

“Dampaknya harusnya relatif minim karena Pertamax tidak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi, Purbaya kembali menegaskan, efeknya seharusnya terbatas.

“Harusnya limited karena bukan buat angkutan umum, angkutan barang juga tidak pakai,” ujarnya.

 

Harga Pertamax Naik, Purbaya Sebut Dampak ke Inflasi Terbatas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026). (Liputan6.com/Gagas)

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu)  Purbaya Yudhi Sadewa, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap laju inflasi nasional.

Menurut Purbaya, pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas karena BBM tersebut umumnya tidak digunakan oleh sektor angkutan umum maupun angkutan barang yang memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan harga berbagai komoditas.

“(Dampak ke inflasi) Harusnya relatif minim. Karena Pertamax e nggak dipakai buat angkutan barang dan angkutan umum,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Purbaya meyakini dampaknya terhadap inflasi nasional akan tetap terbatas. Alasannya, pengguna utama Pertamax berasal dari kendaraan pribadi dan bukan sektor transportasi yang berhubungan langsung dengan distribusi barang maupun layanan angkutan publik.

Saat ditanya mengenai mekanisme pengaturan kuota BBM bersubsidi di tengah potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite, Purbaya memilih tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Ia menegaskan, kebijakan terkait distribusi dan pengendalian BBM bersubsidi berada dalam kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Itu nanya ke Pak Bahlil mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau enggak salah, nanya Pak Bahlil yang ngerti," kata dia.

Purbaya kembali menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax seharusnya tidak memberikan tekanan besar terhadap inflasi.

"Harusnya limited karena bukan buat angkutan umum kan, angkutan barang nggak pakai Pertamax," kata Purbaya menjawab dampak inflasi dari kenaikan Pertamax ini.

 

Harga BBM Pertamax Dijual Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026

Pertamax Green 95 sudah terpampang di SPBU Pertamina Jalan MT Haryono, Jakarta. Ini merupakan produk BBM campur bioetanol dengan tingkat RON 95. Foto: Liputan6.com/ Arief R

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga BBM Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara  Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

Keputusan penyesuaian harga BBM ini dikatakan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Pertamina Patra Niaga senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelasnya. 

 

Harga BBM Lainnya Tidak Naik

Pertamax Green 95 sudah terpampang di SPBU Pertamina Jalan MT Haryono, Jakarta. Ini merupakan produk BBM campur bioetanol dengan tingkat RON 95. Foto: Liputan6.com/ Arief R

Sementara harga BBM Pertalite dan Biosolar dikatakan tidak berubah. "Dalam komitmen melaksanakan tugas pendistribusian BBM Bersubsidi baik BBM jenis gasoline yaitu Pertalite dan BBM jenis gasoil yaitu Biosolar, Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tersebut tetap dilayani dengan harga jual Pertalite Rp 10.000/liter dan Biosolar Rp 6.800/liter," mengutip penjelasan Pertamina.

Berikut Daftar Harga BBM Retail Non Subsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026:

Pertamax Series

Pertamax (RON 92): dari Rp 12.300/liter menjadi Rp 16.250/liter

Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp 12.900/liter menjadi Rp 17.000/liter

Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750/liter (tetap)

Dex Series

Dexlite (CN 51): Rp 23.000/liter (tetap)

Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800/liter (tetap)

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya