GMF Perkuat Strategi Hedging saat Rupiah Melemah

GMF Aero Asia menyebutkan, kurs dolar AS pada 2026 lebih tinggi dibandingkan prediksi perseroan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 10 Juni 2026, 18:40 WIB
Garuda Maintenance Facility. (Foto: GMF)

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) terus memperkuat strategi lindung nilai (hedging) guna meminimalkan dampak selisih kurs antara dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di tengah laju pelemahan mata uang domestik yang lebih cepat dari perkiraan perusahaan pada 2026.

Direktur Keuangan GMF, Tri Hartono, mengatakan perseroan secara rutin melakukan upaya hedging untuk mengelola risiko nilai tukar, terutama karena sebagian transaksi dan kewajiban perusahaan masih terpengaruh oleh pergerakan dolar AS.

Dia menuturkan, pembayaran yang diterima dari Garuda Indonesia Group (GA Group) juga dimanfaatkan untuk mengurangi eksposur terhadap piutang lama yang telah dilindungi melalui skema hedging.

"Atas selisih kurs ini kami frequently melakukan usaha hedging. Dan atas setiap pembayaran dari GA Group, itu mengurangi hedging piutang yang lama. Jadi, kita mengurangi seminimal mungkin dampak dari adanya selisih kurs yang semakin melebar saat ini," kata Tri dalam Public Expose Live 2026, Rabu (10/6/2026).

Tri mengakui, pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sepanjang 2026 terjadi lebih cepat dibandingkan asumsi awal yang digunakan perseroan dalam perencanaan bisnis.Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kinerja keuangan perusahaan apabila tidak diantisipasi melalui strategi pengelolaan risiko yang tepat.

"Karena seperti diketahui bersama bahwa kecepatan kenaikan kurs ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal kami di tahun ini," ujar dia.

Kinerja Keuangan GMF 2025

Teknisi melakukan maintenance pesawat di Hanggar 4 GMF Aero Asia di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Hanggar ini menjadi hanggar perawatan pesawat berbadan kecil terbesar di dunia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun sepanjang 2025, GMF mencatat pencapaian yang melampaui target perusahaan dengan membukukan pendapatan sebesar US$ 491,8 juta, EBITDA US$ 80,24 juta, dan laba bersih US$ 33,96 juta.

"Pada akhir Desember 2025, GMF berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 491,8 juta meningkat 109,65 persen dari target perusahaan. EBITDA tercapai US$ 80,24 juta atau sekitar 108 persen dari target. Kemudian laba bersih meningkat menjadi US$ 33,96 juta dibandingkan di US$ 22,65 juta di tahun 2024," ungkap Tri.

Kinerja Keuangan GMF Kuartal I 2026

Sementara itu, pada kuartal I 2026 Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 114,94 juta atau meningkat 20,53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Hingga kuartal pertama pada Maret 2026. Pada Maret 2026 GMF membukukkan pendapatan year to date US$ 114,94 juta meningkat 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Tri.

Peningkatan pendapatan tersebut terutama ditopang oleh tumbuhnya aktivitas perawatan pesawat pada segmen commercial aviation yang masih menjadi kontributor terbesar bagi bisnis perseroan. GMF pun menargetkan pada 2026 ini bisa mencapai pendapatan sebesar US$ 542,79 juta, EBITDA US$ 81,82 juta, serta laba bersih mencapai US$ 34,47 juta.

 

Tebar Dividen 2027

Bengkel pesawat atau hanggar terbesar di dunia milik PT Garuda Maintenance Facility yang berada di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (28/9). Pembangunan hanggar ini menelan biaya puluhan juta dolar AS.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) membuka peluang untuk kembali membagikan dividen kepada pemegang saham seiring membaiknya kinerja keuangan perseroan. Namun, GMF menegaskan terdapat langkah penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum realisasi pembagian dividen tersebut.

Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan perseroan saat ini tengah menjalankan proses kuasi reorganisasi yang telah disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada publik.

Menurut dia, langkah kuasi reorganisasi menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki struktur keuangan perusahaan sekaligus menjawab harapan pemegang saham terkait pembagian dividen di masa mendatang.

"Jadi, saat ini kami sudah memberikan keterbukaan informasi untuk kuasi reorganisasi. Pentingnya action kuasir reorganisasi ini adalah menjawab pertanyaan tadi, yaitu keinginan perusahaan untuk memberikan dividen di tahun depan," kata Andi dalam Public Expose Live 2026, Rabu (10/6/2026).

Andi menjelaskan kuasi reorganisasi merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan perusahaan guna menata kembali posisi ekuitas dan memperkuat fondasi keuangan perseroan.

Dengan terlaksananya proses tersebut, GMF diharapkan memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengelola laba dan memenuhi ketentuan yang diperlukan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya