Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini, Rabu (10/6/2026) kembali turun. Harga emas Antam hari ini merosot Rp 20.000 usai turun Rp 10.000 pada perdagangan kemarin.
Mengutip laman logammulia.com, harga emas Antam Rabu ini dipatok Rp 2.713.000 per gram. Pada perdagangan Selasa kemarin, harga emas Antam dibanderol Rp 2.733.000.
Advertisement
Harga buyback emas Antam juga turun dengan nilai yang lebih besar. Harga buyback emas antam turun Rp 40.000 menjadi Rp 2.487.000 per gram.
Untuk diketahui, harga buyback emas Antam ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.487.000 per gram.
Harga emas antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis 29 Januari 2026 di harga Rp 3.168.000 per gram. Sedangkan harga buyback emas Antam di angka Rp 2.989.000 per gram.
Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi publik.
Daftar Harga Emas Antam
Berikut daftar harga emas Antam hari ini:
- Harga emas 0,5 gram: Rp 1.406.500
- Harga emas 1 gram: Rp 2.713.000
- Harga emas 2 gram: Rp 5.366.000
- Harga emas 3 gram: Rp 8.024.000
- Harga emas 5 gram: Rp 13.340.000
- Harga emas 10 gram: Rp 26.625.000
- Harga emas 25 gram: Rp 66.437.000
- Harga emas 50 gram: Rp 132.795.000
- Harga emas 100 gram: Rp 265.51.000
- Harga emas 250 gram: Rp 663.515.000
- Harga emas 500 gram: Rp 1.326.820.000
- Harga emas 1.000 gram: Rp 2.653.600.000.
Harga Emas Dunia Merosot Lagi
Sebelumnya, Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), seiring aksi jual yang melanda pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpeluang menaikan suku bunga tahun ini.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada Rabu dan Kamis pekan ini.
Dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 0,7% menjadi US$ 4.298,75 per ons, setelah sempat merosot lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,9% menjadi US$ 4.323,90 per ons.
Analis senior pasar dari RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
“Para trader sedikit gugup dengan kondisi pasar saat ini. Hampir seluruh kelas aset mengalami aksi risk-off. Kondisi risk-off inilah yang saat ini menekan harga emas,” ujarnya.
Tekanan juga terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,9%, sementara indeks acuan S&P 500 melemah 0,4%.
Menurut Haberkorn, harga emas dan perak kemungkinan masih akan berada dalam tekanan hingga pasar memperoleh sinyal yang lebih jelas dari The Fed terkait arah kebijakan moneternya.
Setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, perhatian investor kini beralih ke data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Data tersebut meliputi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Mei yang akan diumumkan pada Rabu, serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.
Kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya terkait suku bunga.
Harga Emas Berpotensi Turun
Dalam catatan risetnya, Commerzbank menyebut bahwa harga emas berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut apabila data inflasi Mei menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.
“Jika data inflasi AS untuk Mei kembali memberikan kejutan ke atas pada Rabu, harga emas kemungkinan akan turun lebih lanjut. Namun kondisi ini juga dapat membuka peluang pemulihan harga pada akhir tahun apabila The Fed pada akhirnya tidak menaikkan suku bunga seperti yang kami perkirakan,” tulis Commerzbank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Israel mendorong harga minyak dunia melemah setelah kedua negara menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Donald Trump.
Penurunan harga minyak dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi global. Sebaliknya, harga minyak yang tinggi biasanya berpotensi mendorong inflasi dan membuat suku bunga bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama.