Liputan6.com, Belfast - Kerusuhan pecah di sejumlah wilayah Irlandia Utara pada Selasa (9/6) malam setelah aksi protes antiimigrasi berujung ricuh. Sejumlah kendaraan, rumah, dan sebuah bus dibakar massa menyusul kasus penikaman yang melibatkan seorang pencari suaka asal Sudan di Belfast.
Kerumunan massa, termasuk sejumlah pria bertopeng, memblokade sejumlah ruas jalan di Belfast dan sekitarnya ketika kerusuhan meluas ke berbagai wilayah.
Advertisement
Aksi tersebut terjadi beberapa jam setelah Elon Musk, Tommy Robinson, dan sejumlah figur lain melalui media sosial mendorong masyarakat untuk turun ke jalan menyusul insiden tersebut. Robinson dikenal sebagai tokoh sayap kanan Inggris.
Para demonstran membajak dan membakar sebuah bus Glider di Newtownards Road, Belfast timur. Mereka juga membakar sejumlah mobil di dekat Shankill Road dan di Newtownabbey. Asap tebal dilaporkan terlihat membubung, sementara sirene berbunyi dan helikopter polisi berputar di atas wilayah tersebut.
Beberapa jam sebelum kerusuhan pecah, polisi mendakwa seorang pencari suaka asal Sudan berusia 30 tahun atas tuduhan percobaan pembunuhan dalam kasus penikaman di Belfast utara yang menyebabkan seorang pria mengalami luka kritis. Kasus tersebut memicu kecaman luas.
Melansir The Guardian, tersangka dijadwalkan menjalani sidang di Pengadilan Magistrat Belfast pada Rabu.
Seruan Ketenangan
Asisten Kepala Kepolisian Ryan Henderson menyerukan ketenangan.
"Beberapa insiden kerusuhan sporadis terjadi di sejumlah lokasi di seluruh Irlandia Utara malam ini, termasuk sejumlah peristiwa pembakaran kendaraan. Kami mendesak semua pihak untuk tetap tenang, bertindak secara bertanggung jawab, dan menghindari aktivitas apa pun yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain," katanya.
Henderson juga meminta "seluruh pihak yang memiliki pengaruh" di komunitas lokal untuk mendorong aksi protes damai dan mencegah terjadinya kekerasan maupun kerusuhan.
Politikus di Irlandia Utara dan seluruh Inggris turut menyerukan ketenangan. John Finucane, anggota parlemen dari Sinn Fein, partai nasionalis Irlandia, mengecam kerusuhan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan.
"Tidak ada tempat bagi tindakan seperti ini di jalan-jalan kita. Rumah-rumah warga dan tempat usaha diserang, mobil dan bus dibakar habis, serta sebagian komunitas kita dilalap api. Tidak seorang pun berhak menebar ketakutan, meneror keluarga-keluarga yang tidak bersalah, atau menciptakan kekacauan di jalan-jalan kita," kata Finucane.
Menteri Kehakiman Irlandia Utara yang berasal dari Partai Alliance, Naomi Long, mengatakan para demonstran "berniat menimbulkan kehancuran di komunitas yang mereka klaim sedang mereka lindungi".
Di tengah seruan para politikus untuk menahan diri, kelompok-kelompok pria yang sebagian mengenakan balaclava atau penutup wajah lainnya tetap melakukan aksi kerusuhan, termasuk menyalakan kembang api dan membakar sejumlah objek.
Belakangan di Shankill Road, dua toko ponsel dilaporkan dijarah dan sebuah toko milik warga Afrika dibakar. Asap mengepul hingga ke jalan, sementara mobil pemadam kebakaran berjaga di lokasi.
Aksi protes yang lebih kecil terjadi di Antrim, Bangor, dan Ballymena. Sementara itu, dua mobil dibakar di Newtownabbey. Di London, sekitar 60 demonstran berkumpul di Parliament Square. Mereka menuduh polisi sebagai "pengkhianat" dan berusaha memprovokasi petugas secara individu.
Sebagian peserta aksi meneriakkan slogan antiimigran dan menyerukan nama Henry Nowak serta insiden penikaman di Belfast. Namun, sebagian besar demonstran melakukan aksi secara damai.
Politikus dan pemimpin komunitas menuduh kelompok sayap kanan berupaya memicu kerusuhan di Irlandia Utara dan wilayah lain di Inggris.
Kronologi Penikaman
Penikaman yang memicu gelombang protes dan kerusuhan itu terjadi sekitar pukul 22.30 pada Senin (8/6) malam di luar sebuah blok apartemen di Belfast utara.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang pria menindih pria lain di tanah dan berulang kali menyerang bagian kepala serta leher korban. Polisi menemukan sebilah pisau dapur di lokasi kejadian. Polisi mengatakan korban yang berusia sekitar 40 tahun mengalami luka serius pada mata, wajah, dan punggung.
Rekaman tersebut juga menunjukkan sejumlah orang berupaya menghentikan serangan. Salah seorang di antaranya, yang kemudian diketahui bernama Maitiu Mag Tighearnan, beberapa kali memukul pelaku menggunakan tongkat hurling.
Selain dakwaan percobaan pembunuhan, tersangka juga didakwa atas kepemilikan benda berbilah atau runcing di tempat umum serta ancaman pembunuhan.
Kepala Kepolisian Irlandia Utara Jon Boutcher mengatakan dalam konferensi pers bahwa tersangka diyakini memperoleh izin tinggal di Inggris pada 28 September 2023.
"Saya mendapat informasi bahwa dia melakukan perjalanan dari Sudan ke Paris pada waktu yang belum diketahui, dan dari Paris dia terbang ke Dublin pada tanggal yang juga masih belum dapat dipastikan," terang Boutcher.
Menurut Boutcher, tersangka kemudian melakukan perjalanan dari Dublin ke Belfast menggunakan bus pada 10 Februari 2023 dan mengajukan permohonan suaka.
"Tidak ada catatan mengenai tersangka ini dalam basis data keamanan nasional kami dan dia tidak dikenal oleh Kepolisian Irlandia Utara. Saya telah berkomunikasi langsung dengan kepala kepolisian antiterorisme Inggris. Pada tahap ini, kami tidak memiliki informasi yang menunjukkan bahwa kasus ini terkait dengan terorisme," beber Boutcher.
Boutcher meminta masyarakat agar tidak terprovokasi untuk melakukan kerusuhan, "Masyarakat sedang diprovokasi oleh pihak-pihak anonim yang tidak mengetahui apa pun tentang tempat yang luar biasa dan dinamis ini. Jangan tertipu atau diperdaya oleh orang-orang di dunia maya."
Komunitas imigran menyatakan kekhawatiran bahwa mereka akan menjadi sasaran serangan. Para pemilik usaha asal Sudan di Sandy Row, kawasan loyalis di pusat Belfast, menutup toko mereka dengan pintu baja sejak pukul 16.00 dan mengatakan mereka berencana tetap berada di rumah malam itu.
Pusat Islam Belfast membatalkan pelaksanaan salat malam berjemaah.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut serangan pada Senin malam itu sebagai tindakan yang mengerikan.
"Saya sama sekali tidak memiliki toleransi terhadap adegan kekerasan yang menjijikkan seperti ini di jalan-jalan kita. Pikiran saya terutama tertuju kepada korban, dan saya berterima kasih kepada para petugas pertama yang merespons kejadian ini, termasuk warga yang turut campur tangan," ujarnya.
Pemimpin pemerintahan Irlandia Utara Michelle O'Neill meminta masyarakat agar tidak terpengaruh oleh akun-akun media sosial yang mendorong terjadinya kerusuhan.
"Bagi semua orang yang memanaskan situasi di media sosial dan dengan sengaja meningkatkan ketegangan, mereka tidak mewakili kita. Kita adalah masyarakat yang baik dan saya tidak ingin melihat siapa pun hidup dalam ketakutan," ungkapnya.