Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), seiring aksi jual yang melanda pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpeluang menaikan suku bunga tahun ini.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada Rabu dan Kamis pekan ini.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 0,7% menjadi US$ 4.298,75 per ons, setelah sempat merosot lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,9% menjadi US$ 4.323,90 per ons.
Analis senior pasar dari RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
“Para trader sedikit gugup dengan kondisi pasar saat ini. Hampir seluruh kelas aset mengalami aksi risk-off. Kondisi risk-off inilah yang saat ini menekan harga emas,” ujarnya.
Tekanan juga terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,9%, sementara indeks acuan S&P 500 melemah 0,4%.
Menurut Haberkorn, harga emas dan perak kemungkinan masih akan berada dalam tekanan hingga pasar memperoleh sinyal yang lebih jelas dari The Fed terkait arah kebijakan moneternya.
Setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, perhatian investor kini beralih ke data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Data tersebut meliputi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Mei yang akan diumumkan pada Rabu, serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.
Kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya terkait suku bunga.
Harga Emas Berpotensi Turun
Dalam catatan risetnya, Commerzbank menyebut bahwa harga emas berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut apabila data inflasi Mei menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.
“Jika data inflasi AS untuk Mei kembali memberikan kejutan ke atas pada Rabu, harga emas kemungkinan akan turun lebih lanjut. Namun kondisi ini juga dapat membuka peluang pemulihan harga pada akhir tahun apabila The Fed pada akhirnya tidak menaikkan suku bunga seperti yang kami perkirakan,” tulis Commerzbank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Israel mendorong harga minyak dunia melemah setelah kedua negara menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Donald Trump.
Penurunan harga minyak dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi global. Sebaliknya, harga minyak yang tinggi biasanya berpotensi mendorong inflasi dan membuat suku bunga bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama.
Harga Perak dan Logam Lain
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 3,2% menjadi US$ 65,98 per ons, platinum melemah 1,1% ke level US$ 1.736,08 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 2,5% menjadi US$ 1.234,93 per ons.