AS Gempur Iran usai Klaim Apache Ditembak Jatuh

Serangan terbaru berisiko menggerus gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlaku sejak April lalu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Juni 2026, 07:09 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Donald Trump telah mengizinkan gelombang baru serangan terhadap Iran setelah menuduh negara tersebut menembak jatuh sebuah helikopter militer Amerika Serikat (AS) di atas Selat Hormuz.

"Saya baru saja diberi tahu oleh Militer Hebat kita bahwa tadi malam pihak Iran menembak jatuh salah satu Helikopter Apache kita yang sangat canggih saat sedang berpatroli di atas Selat Hormuz," tulis Trump dalam unggahan media sosial pada Selasa (9/6).

"Ada dua pilot yang terlibat dan keduanya selamat tanpa cedera. Namun demikian, AS harus merespons serangan ini."

Dalam hitungan jam setelah unggahan Trump, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengumumkan bahwa mereka telah melanjutkan serangan terhadap Iran dan menyebutnya sebagai serangan untuk membela diri.

Ledakan dilaporkan terjadi di kota pelabuhan Sirik di selatan Iran, serta sejumlah lokasi lain di sekitar Selat Hormuz. Militer AS mengonfirmasi bahwa mereka meluncurkan serangan sekitar pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS (21.00 GMT).

"Misi ini merupakan respons yang proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan," kata CENTCOM, merujuk pada insiden jatuhnya helikopter tersebut.

Serangan terbaru ini berisiko merusak gencatan senjata 8 April yang menghentikan perang antara AS dan Israel melawan Iran, meskipun kesepakatan itu sebelumnya telah berada di ambang kehancuran akibat berbagai bentrokan yang terus terjadi di kawasan.

Sebelumnya, CENTCOM menyatakan bahwa penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan.

"Para prajurit berhasil dievakuasi dengan selamat dalam waktu sekitar dua jam dan berada dalam kondisi stabil," sebut CENTCOM.

Iran belum mengonfirmasi maupun membantah bahwa mereka telah menembak jatuh helikopter tersebut. Namun, dalam tanggapan yang diyakini merespons klaim Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan agar pasukan AS meninggalkan kawasan tersebut.

"Selat Hormuz BUKAN perairan internasional, melainkan wilayah yang dimiliki bersama oleh Iran dan Oman, serta berada ribuan mil dari pantai AS. Batas-batas maritim sangat jelas," kata Araghchi dalam sebuah pernyataan.

"Angkatan Bersenjata kami yang kuat terus siaga terhadap setiap pelanggaran wilayah udara, daratan, maupun perairan Iran. Pasukan asing yang berada di dekat wilayah kami selalu menghadapi risiko akibat kesalahan mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau kemungkinan terjebak dalam baku tembak."

Setelah serangan AS kembali dilancarkan, Araghchi memperingatkan bahwa Iran sedang menyiapkan pembalasan dan kembali menyerukan agar pasukan AS meninggalkan kawasan.

"Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami," tulis Araghchi di media sosial. "Angkatan Bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan. Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin aman."

 

Kesiapan Iran Kembali Berperang

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah militer AS menyatakan bahwa mereka telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak Iran di Teluk pada Senin (8/6).

Pertempuran juga kembali pecah antara Iran dan Israel dalam beberapa hari terakhir. Iran menembakkan rudal ke Israel sebagai respons atas pengeboman Beirut. Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan di dalam wilayah Iran, meskipun Trump telah menyerukan agar semua pihak menahan diri.

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada April lalu, kesepakatan tersebut terus berada di bawah tekanan akibat serangan dan aksi balasan yang berulang di kawasan.

Awal bulan ini, militer AS melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm milik Iran. Teheran kemudian merespons dengan peluncuran rudal ke sebuah pangkalan militer AS di Kuwait. Sebuah drone juga menghantam bandara internasional Kuwait dan menewaskan satu orang, namun Iran membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Trump sebelumnya mengecilkan arti berbagai insiden kekerasan itu dan menegaskan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran masih hampir tercapai meskipun ketegangan terus berlangsung.

Namun, serangan langsung Iran terhadap pasukan AS menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik.

Para pejabat tinggi di Teheran berulang kali berpendapat bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon, merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata 8 April.

Beberapa menit sebelum Trump menyampaikan klaim mengenai helikopter tersebut pada Senin, ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengisyaratkan bahwa Iran tidak takut kembali berperang.

"Kami lebih memilih bahasa diplomasi, tetapi kami jauh lebih fasih dalam bahasa lainnya. Langgar komitmen Anda dan kami akan beralih pada apa yang paling kami kuasai," tulis Ghalibaf di platform media sosial X.

"Anda menunggangi kuda yang Anda pelana sendiri!"

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya