11 Juni 1955: Tragedi Le Mans Tewaskan 83 Penonton

Lomba balap pada 11 Juni 1955 ini berubah menjadi salah satu bencana paling kelam dalam sejarah dunia otomotif.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 11 Juni 2026, 06:00 WIB
Mobil #3 Bass Pro Shops Chevrolet yang dikendarai oleh Austin Dillon terbang setelah mengalami tabrakan dengan mobil lainnya selama NASCAR Sprint Cup Series Coke Zero 400 di Daytona International Speedway, Florida, Amerika Serikat, Senin (6/7). ©AFP PHOTO

Liputan6.com, Paris - Ajang balap ketahanan 24 Jam Le Mans di Prancis pada 11 Juni 1955 berubah menjadi tragedi besar yang menewaskan puluhan orang setelah sebuah mobil balap menghantam area penonton usai kecelakaan di lintasan. Insiden tersebut tercatat sebagai salah satu kecelakaan paling mematikan dalam sejarah olahraga otomotif dunia.

Dilansir dari arsip EBSCO pada Kamis (11/6/2026), kecelakaan itu menewaskan pembalap Pierre Levegh serta 83 penonton. Selain itu, lebih dari 75 orang lainnya mengalami luka serius dalam insiden yang terjadi di tengah padatnya penonton.

Saat kejadian, sekitar 250.000 orang memadati Sirkuit Le Mans untuk menyaksikan persaingan antara tim-tim besar, termasuk Jaguar dan Mercedes-Benz. Balapan berubah menjadi bencana ketika mobil Jaguar yang dikemudikan Mike Hawthorn terlibat tabrakan dengan Mercedes-Benz yang dikendarai Pierre Levegh.

Benturan keras tersebut memicu rangkaian kecelakaan beruntun. Mobil Levegh kemudian terlempar ke arah tribun penonton, hancur, dan meledak. Serpihan kendaraan yang terpental ke area penonton menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa.

Meski insiden tersebut menimbulkan kepanikan luas, pihak penyelenggara saat itu memutuskan balapan tetap dilanjutkan. Mereka beralasan penghentian lomba justru dapat menghambat akses kendaraan darurat yang tengah mengevakuasi korban di lokasi kejadian.

Tragedi Le Mans 1955 kemudian menjadi titik balik penting dalam sejarah balap mobil dunia. Pemerintah Prancis memberlakukan sejumlah pembatasan terhadap penyelenggaraan ajang motorsport, sementara berbagai negara mulai meninjau ulang standar keselamatan sirkuit dan kendaraan balap.

Sirkuit Le Mans sendiri kemudian mengalami perombakan besar untuk meningkatkan aspek keselamatan bagi penonton maupun pembalap. Peristiwa ini juga mendorong lahirnya berbagai regulasi keselamatan modern dalam olahraga otomotif.

Hingga kini, tragedi Le Mans 1955 masih dikenang sebagai peringatan kelam atas tingginya risiko dalam balap mobil berkecepatan tinggi serta pentingnya standar keselamatan dalam dunia olahraga otomotif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya