Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi tektonik berkekuatan besar dengan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Senin pagi, 8 Juni 2026, sekitar pukul 07.37 Wita. Pusat gempa dilaporkan berada di kedalaman 47 kilometer di sebelah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.
Menyusul guncangan hebat tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan pemutakhiran peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, termasuk Kalimantan Timur
Advertisement
Merespons ancaman tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di lima wilayah pesisir itu untuk tidak panik dan meningkatkan kewaspadaan penuh.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, meminta warga segera mengambil langkah penyelamatan diri tanpa menunggu instruksi yang terlambat.
"Secara sadar dan teratur melakukan langkah antisipasi mandiri dengan bergerak menjauhi area pantai menuju titik kumpul aman sesuai dengan tingkat ancaman di wilayahnya," ungkap Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan hasil pemodelan dampak tsunami oleh BMKG, pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota yang berada dalam status Siaga diinstruksikan untuk segera mengarahkan masyarakatnya melakukan evakuasi secara tertib menuju tempat yang lebih tinggi.
Wilayah berstatus Siaga ini mencakup beberapa titik di Sulawesi Utara dengan estimasi waktu tiba gelombang mulai dari Kepulauan Sangihe pada pukul 06.51 WIB, Kota Manado pukul 07.12 WIB, Minahasa Utara Bagian Utara pukul 07.12 WIB, Minahasa Bagian Utara pukul 07.14 WIB, Kepulauan Minahasa pukul 07.16 WIB, Minahasa Selatan Bagian Utara pukul 07.17 WIB, hingga Bolaang Mongondow Bagian Utara pukul 07.22 WIB.
Di samping itu, status Siaga juga berlaku untuk wilayah Gorontalo Bagian Utara dengan estimasi kedatangan gelombang pada pukul 07.26 WIB, diikuti wilayah Sulawesi Tengah yaitu Buol pukul 07.27 WIB dan Toli-Toli pukul 07.29 WIB, serta kembali ke wilayah Sulawesi Utara untuk Minahasa Utara Bagian Selatan pada pukul 07.33 WIB dan Minahasa Bagian Selatan pada pukul 07.34 WIB.
Wilayah Kategori Waspada
Abdul Muhari juga menegaskan pentingnya menjaga kesiapsiagaan bagi wilayah yang tingkat ancamannya berada satu level di bawahnya.
"Kami minta kepada pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di wilayah dengan status Waspada agar kesiapsiagaan tetap dijaga dengan segera mengarahkan warga untuk menjauhi kawasan pantai maupun tepian sungai, serta menghentikan sementara segala aktivitas di perairan," ujarnya.
Wilayah yang masuk dalam kategori Waspada ini meliputi Kepulauan Talaud dengan estimasi waktu tiba gelombang pukul 06.58 WIB, Kota Bitung pukul 07.19 WIB, Halmahera di Maluku Utara pukul 07.29 WIB, Donggala Bagian Utara di Sulawesi Tengah pukul 07.42 WIB, serta Minahasa Selatan Bagian Selatan pukul 07.42 WIB. Kewaspadaan serupa juga berlaku untuk Kota Ternate pada pukul 07.43 WIB, Kutai Timur di Kalimantan Timur pukul 07.44 WIB, Kota Tidore pukul 07.46 WIB, hingga wilayah Bulungan pada pukul 08.05 WIB dan Nunukan pada pukul 08.14 WIB.
Kendati puluhan wilayah pesisir masuk dalam peta ancaman tsunami, BNPB memastikan situasi riil di lapangan sejauh ini belum menunjukkan adanya kepanikan masal atau dampak fatal.
"Situasi dan kondisi di lapangan saat ini terpantau aman, tenang, dan terkendali," kata Abdul Muhari.
Berdasarkan laporan cepat dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Talaud serta BPBD Kota Manado, guncangan gempa bumi di kedua wilayah tersebut hanya dirasakan lemah selama kurang lebih 2 hingga 3 detik.
Hingga saat ini, tim gabungan BPBD di masing-masing daerah terus melakukan monitoring ketat secara berkala di lapangan guna memantau setiap dampak yang ditimbulkan pasca-gempa serta memastikan kondisi pesisir tetap aman.
Guna mengawal pergerakan warga di zona bahaya, BNPB telah menyiagakan seluruh elemen penolong di daerah terdampak agar proses evakuasi berjalan tanpa hambatan.
"BNPB terus memperkuat koordinasi sinergis dalam satu komando bersama tim gabungan lintas instansi di daerah, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, hingga lembaga kemanusiaan dan relawan penanggulangan bencana di lapangan, yang telah bersiaga penuh untuk memandu dan mengamankan jalur pergerakan warga," tuturnya.
Pada akhir keterangannya, masyarakat kembali diimbau untuk memprioritaskan keselamatan kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak, serta selalu mematuhi instruksi resmi dari petugas yang mengawal situasi di lapangan.
"Warga juga diingatkan untuk tidak menyebarkan isu atau informasi yang belum jelas kebenarannya, dan selalu merujuk pada pemutakhiran data berkala dari instansi terkait dan petugas di lapangan," pungkasnya.