Popularitas Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama Jelajahi 197 Negara di Dunia

Pencapaian Timothy Astandu diakui oleh tiga organisasi perjalanan internasional, yaitu Travelers' Century Club, NomadMania, dan Most Traveled People.

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 06 Juni 2026, 17:00 WIB
Pencapaian Timothy Astandu diakui oleh tiga organisasi perjalanan internasional, yaitu Travelers' Century Club, NomadMania, dan Most Traveled People. (Foto: Dok. Instagram @timoventures)

Liputan6.com, Jakarta - Di jagat maya, Timothy Astandu tak asing lagi. Influencer dengan 190 ribuan pengikut di Instagram ini populer karena jadi orang pertama yang memakai paspor Indonesia untuk menjelajahi 197 negara di dunia. Dari 197 itu, 193 di antaranya negara anggota resmi PBB, dua lagi negara pengamat PBB yakni, Vatikan serta Palestina, dan sisanya wilayah dengan pengakuan terbatas yang kerap jadi titik sensitif dalam peta geopolitik global: Taiwan dan Kosovo.

Sebagai peneliti terkenal, Timothy Astandu memanfaatkan kesempatan ini untuk studi perilaku manusia terluas yang pernah dilakukan peneliti Indonesia. Pencapaian Timothy Astandu diakui tiga organisasi perjalanan internasional bergengsi di dunia, yaitu Travelers' Century Club, NomadMania, dan Most Traveled People, yang masing-masing menggunakan standar verifikasi ketat. Atas pencapaian ini ia sangat bersyukur.

Kepada jurnalis di Jakarta, Jumat (5/6/2026), Timothy Astandu mengatakan, setiap percakapan dengan warga lokal adalah data yang menarik. Tiap pasar yang dimasuki jadi arena observasi lapangan. Setiap kebiasaan konsumsi, dari negara yang berkonflik sampai terkaya di dunia, dapat disimpulkan menjadi insight yang tidak bisa diperoleh dari mana pun, selain hadir secara langsung.

Timothy Astandu menyebut, “Kadang yang kita lihat dan persepsikan dari layar gawai tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan. Misal, masyarakat Irak jadi korban konflik geopolitik selama bertahun-tahun, nyatanya masih memiliki dan mempertahankan budaya keramah-tamahan luar biasa.”

 


Beda Jauh dengan Asumsi Saya

Pencapaian Timothy Astandu diakui oleh tiga organisasi perjalanan internasional, yaitu Travelers' Century Club, NomadMania, dan Most Traveled People. (Foto: Dok. Koleksi Pribadi Timothy Astandu)

“Hal ini berbeda jauh dengan asumsi saya. Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya,” kenangnya.

Lebih lanjut, Timothy Astandu menjelaskan, negara-negara Afrika yang berkonflik adalah contoh lain yang sering mengejutkan para pelancong. Somalia dan Yaman, misalnya kerap muncul dalam berita perang.


Ini Bukan Anekdot

Pencapaian Timothy Astandu diakui oleh tiga organisasi perjalanan internasional, yaitu Travelers' Century Club, NomadMania, dan Most Traveled People. (Foto: Dok. Koleksi Pribadi Timothy Astandu)

Namun, kedua negara ini punya pusat perbelanjaan dan taman hiburan lengkap dengan roller coaster utuh dan masih beroperasi. Bahkan masih ada orang yang duduk santai di pantai pada malam hari.

“Ini bukan anekdot. Ini pelajaran metodologi paling mendasar. Jangan percaya asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan,” ujar Timothy Astandu yang menemukan pola konsisten lintas budaya dan tingkat ekonomi. Tingkat kekayaan tak selalu berkorelasi dengan kebahagiaan.

 


Dari Bahasa Latin

“Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia,” ungkap Timothy Astandu. Ia mengaplikasikan berbagai temuan untuk mengembangkan Populix, institusi berbasis riset.

Populix dibesut Timothy Astandu bersama dua rekannya pada 2018. Semangat menjelajah dan Populix lahir dari sumber yang sama, yakni rasa ingin tahu terhadap manusia. Populix berasal dari bahasa Latin vox populi, artinya suara rakyat, opini atau pandangan yang dianut sebagian besar masyarakat.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya