Liputan6.com, Beijing - China kembali memperingatkan negara-negara di Asia Timur terkait apa yang disebutnya sebagai tren "militerisasi yang destabilisasi" di kawasan. Namun, sejumlah pengamat menilai peringatan tersebut bertolak belakang dengan ekspansi militer besar-besaran yang dilakukan Beijing dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut berbagai kajian keamanan regional, China saat ini memiliki angkatan laut terbesar di dunia berdasarkan jumlah kapal perang. Beijing juga terus meningkatkan kemampuan militernya melalui pengembangan sistem rudal canggih, modernisasi kekuatan nuklir, serta penguatan kapasitas siber dan ruang angkasa, dikutip dari laman europeantimes, Sabtu (6/6/2026).
Advertisement
Selain itu, China terus memperluas kehadiran militernya di Laut China Selatan, wilayah yang menjadi sumber sengketa dengan sejumlah negara tetangga. Kondisi tersebut memunculkan kritik bahwa Beijing menerapkan standar ganda ketika menyoroti peningkatan kemampuan pertahanan negara lain di kawasan.
Jepang menjadi salah satu negara yang kerap menjadi sasaran kritik China. Dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo meningkatkan anggaran pertahanan hingga mencapai rekor tertinggi, sekaligus mengembangkan kemampuan serangan balik sebagai bagian dari perubahan kebijakan keamanan nasional.
Langkah tersebut dipandang Jepang sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan keamanan regional, termasuk aktivitas militer China di sekitar Taiwan dan Laut China Timur. Namun, Beijing menilai kebijakan tersebut sebagai tanda kebangkitan militerisme Jepang.
Australia juga menghadapi kritik serupa setelah bergabung dalam kemitraan keamanan AUKUS bersama Amerika Serikat dan Inggris. Melalui kerja sama itu, Canberra akan memperoleh kapal selam bertenaga nuklir dan memperkuat interoperabilitas militernya dengan negara-negara sekutu.
Stabilitas Indo Pasifik
Pemerintah Australia menyatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Namun, China menilai kebijakan itu berpotensi meningkatkan ketegangan regional.
Sementara itu, Filipina memperluas kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat dan memperkuat sistem pertahanan pantainya di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Langkah Manila dilakukan setelah serangkaian insiden yang melibatkan kapal penjaga pantai dan kapal nelayan Filipina dengan kapal-kapal China di wilayah sengketa.
Pengamat menilai kritik Beijing terhadap penguatan militer negara-negara tetangganya merupakan bagian dari upaya membentuk narasi regional. Selain mengalihkan perhatian dari modernisasi militernya sendiri, pendekatan tersebut juga dinilai bertujuan melemahkan legitimasi kebijakan pertahanan negara-negara yang semakin khawatir terhadap pengaruh China di Indo-Pasifik.
Di tengah meningkatnya rivalitas strategis di kawasan, perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya mendorong perlombaan militer di Asia Timur diperkirakan akan terus menjadi isu utama dalam dinamika geopolitik Indo-Pasifik.