Amirul Hajj Dorong Budaya Haji Ramah Lingkungan: Bagian dari Ibadah

Anggota Amirul Hajj, Ilfi Nur Diana menilai pengurangan sampah plastik perlu menjadi perhatian bersama dalam pelaksanaan haji.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 05 Juni 2026, 21:35 WIB
Sampah tertinggal di Muzdalifah setelah seluruh jemaah haji Indonesia diberangkatkan ke Mina, 28 Mei 2026. (dok. Media Center Haji)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Amirul Hajj yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nur Diana, mengajak jemaah haji Indonesia membangun budaya ramah lingkungan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Ia menilai, pengurangan sampah plastik perlu menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan haji tidak hanya berorientasi pada ritual, tapi juga mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.

Ilfi mengatakan, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari nilai ibadah yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Menurut dia, keberhasilan haji tidak hanya ditentukan oleh kelancaran pelaksanaan rukun dan wajib haji, namun juga tercermin dari sikap jemaah terhadap sesama manusia dan alam sekitar.

“Menjaga kebersihan lingkungan itu bagian dari ibadah,” kata dia pada tim Media Center Haji di Kantor Daker Madinah, Kamis, 4 Juni 2026.

Sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, syarikat yang ditunjuk untuk melayani jemaah Indonesia telah membagikan tumbler kepada para jemaah. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap air minum kemasan yang berpotensi menambah volume sampah selama musim haji.

Meski demikian, Ilfi menilai penggunaan tumbler belum sepenuhnya menjadi kebiasaan jemaah. Karena itu, edukasi mengenai kepedulian lingkungan perlu terus dilakukan sejak masa persiapan keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

“Budaya menjaga lingkungan harus terus kita gelorakan,” ujarnya.

Ilfi juga mendorong Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) untuk berkoordinasi dengan syarikat dan otoritas Arab Saudi agar menyediakan lebih banyak fasilitas air minum isi ulang, terutama di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Ketersediaan dispenser atau titik pengisian ulang air minum dinilai penting agar tumbler yang telah dibagikan dapat digunakan secara optimal.

Menurut dia, penerapan kebiasaan tersebut secara konsisten dapat menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan berjalan seiring dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Ia menambahkan pembagian tumbler sebaiknya dilakukan sejak jemaah tiba di hotel agar penggunaan wadah minum pribadi menjadi bagian dari aktivitas harian sejak awal kedatangan di Arab Saudi.

“Dengan begitu, penggunaan plastik sekali pakai bisa ditekan semaksimal mungkin,” tuturnya.

 

Hasil Inspeksi Lapangan

Sampah tertinggal di Muzdalifah setelah seluruh jemaah haji Indonesia diberangkatkan ke Mina, 28 Mei 2026. (dok. Media Center Haji)

Melansir laman pemerintah Arab Saudi, Jumat (5/6/2026), Pusat Nasional Pengelolaan Limbah Arab Saudi (MWAN) menutup operasional musim haji 1447 H dengan mengerahkan sistem teknis dan lapangan canggih untuk mengoptimalkan pengelolaan limbah, serta mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan tempat-tempat suci.

MWAN melaksanakan 1.691 inspeksi lapangan di Makkah yang berhasil meningkatkan tingkat kepatuhan terhadap regulasi pengelolaan limbah. Hasil pengawasan menunjukkan hanya terdapat 85 surat peringatan dan 54 sanksi, atau menurun signifikan dibandingkan musim haji tahun sebelumnya.

Dalam mendukung ekonomi sirkular, tim lapangan menerapkan pemilahan limbah organik dan limbah padat langsung dari sumbernya di kamp-kamp jemaah. Langkah tersebut bertujuan mengurangi risiko kesehatan, sekaligus mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

MWAN juga memperluas penggunaan sistem dokumen transportasi elektronik untuk memantau limbah hewan kurban secara digital. Sistem tersebut mencatat 1.112 dokumen elektronik dan mengawasi pengelolaan 25.823 ton limbah, yang terdiri atas 89 persen limbah padat dan 11 persen limbah cair.

Pelaksanaan program tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi, serta Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat-Tempat Suci.

Dalam bidang keberlanjutan, MWAN menjalankan program ihram berkelanjutan dengan mengumpulkan kain ihram bekas dari 130 titik yang tersebar di Masjidil Haram dan Mina untuk didaur ulang. Pusat ini juga melibatkan 13 lembaga dalam program ekonomi sirkular, serta mengerahkan 150 relawan yang bertugas di 50 kamp jemaah.

MWAN menilai capaian tersebut mencerminkan keberhasilan kerangka kerja nasional yang terintegrasi dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi para jemaah haji.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya