Liputan6.com, Basra: Sebuah situs internet, baru-baru ini, menayangkan surat pernyataan yang diduga berasal dari Pimpinan Utama Operasi Al-Qaidah Abu Musab al Zargawi. Pimpinan Al-Qaidah menyatakan bertanggung jawab atas peledakan anjungan minyak Basra, Irak, Sabtu silam. Aksi bom bunuh diri tersebut menewaskan sedikitnya tiga marinir Amerika Serikat. Dalam suratnya, al Zarqawi juga menyebutkan mengenai ledakan kapal tanker minyak di Mina al Amiq. Sebelumnya, situs tersebut pernah memuat pernyataan dari Usamah bin Laden.
Anjungan Basra yang dahulu dikenal sebagai Mina al Bakr menampung 85 persen ekspor minyak mentah Irak. Karena hal itulah pangkalan ini dijaga dengan sangat ketat. Namun, sebuah aksi bom bunuh diri sempat menghentikan kegiatan ekspor minyak Irak.
Surat pernyataan itu juga menyinggung peristiwa pengeboman Kapal Perang AS (USS) Cole yang sedang berlabuh di Aden, Yaman, beberapa tahun lampau. Insiden tersebut menewaskan 17 marinir AS. Surat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qaidah adalah pelaku peledakan bom itu.
Sementara itu, gencatan senjata yang baru saja diperbarui di Irak ternyata hanya berumur pendek. Pertempuran antara pasukan pendudukan AS dan pejuang Irak kembali pecah di Fallujah, Irak. Tembak-menembak yang berlangsung selama beberapa jam ini sedikitnya menewaskan seorang tentara AS dan delapan pemberontak. Pertempuran itu juga menimbulkan asap tebal di atas distrik kumuh Jolan yang disinyalir sebagai tempat pemukiman mayoritas pemberontak Sunni. Dalam pertempuran tersebut, dua buah rumah dan sebuah menara masjid yang diklaim pasukan AS sebagai tempat penyerangan hancur berantakan.
Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah diumumkannya perpanjangan gencatan senjata. Perdamaian antara tentara AS dan pejuang Irak diperpanjang selama dua hari dan terus mengupayakan pencarian solusi guna mengakhiri pengepungan Kota Fallujah. Sebagai bagian dari gencatan senjata, pasukan AS akan mulai berpatroli bersama dengan pasukan keamanan Irak. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kontrol di kota tersebut [baca: Tentara Amerika Serikat Urung Menggempur Militan Irak].
Dari ibu kota Baghdad dilaporkan sebuah ledakan terjadi di Distrik Waziriya. Ledakan tersebut merusak sebuah gedung yang sedang dirazia oleh pasukan AS. Hingga kini, penyebab ledakan masih belum diketahui. Jumlah pasti dan kondisi korban ledakan masih belum dapat diketahui.
Menurut saksi mata, ledakan terjadi setelah pasukan AS memasuki sebuah toko yang terletak di lantai dasar gedung. Warga mengklaim gudang bahan kimia pembuat parfum itu berisi toko perbaikan senjata. Ledakan merusak bagian depan bangunan berlantai satu tersebut dan membakar empat kendaraan jip Humvee. Salah satu kendaraan tersebut kemudian dijarah dan dibakar lagi oleh warga Irak.
Sementara itu, Stasiun televisi Al Arabiya menayangkan sekelompok bersenjata Irak yang menahan tiga orang warga Italia. Kelompok yang menamakan dirinya Brigade Hijau mengancam akan membunuh tawanan itu jika rakyat Italia tidak meningkatkan demonstrasi yang menentang kebijakan pemerintahnya mengirim pasukan ke Irak.
Ketiga orang yang bekerja sebagai anggota satuan pengamanan swasta ini diculik 12 April silam saat mereka menaiki taksi dari Baghdad. Sementara warga Italia lain yang diculik bersama mereka sudah dieksekusi. Brigade Hijau akan membunuh mereka jika pihak keamanan Italia mencegah demonstrasi yang menentang kebijakan Italia atas Irak. Pemerintah Negeri Pizza itu menjadi sekutu AS dalam pendudukan Irak serta menempatkan 3.000 pasukannya di sana [baca: Pemerintah Italia Diminta Menarik Pasukan dari Irak].(TOZ/Ijx)
Anjungan Basra yang dahulu dikenal sebagai Mina al Bakr menampung 85 persen ekspor minyak mentah Irak. Karena hal itulah pangkalan ini dijaga dengan sangat ketat. Namun, sebuah aksi bom bunuh diri sempat menghentikan kegiatan ekspor minyak Irak.
Surat pernyataan itu juga menyinggung peristiwa pengeboman Kapal Perang AS (USS) Cole yang sedang berlabuh di Aden, Yaman, beberapa tahun lampau. Insiden tersebut menewaskan 17 marinir AS. Surat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qaidah adalah pelaku peledakan bom itu.
Sementara itu, gencatan senjata yang baru saja diperbarui di Irak ternyata hanya berumur pendek. Pertempuran antara pasukan pendudukan AS dan pejuang Irak kembali pecah di Fallujah, Irak. Tembak-menembak yang berlangsung selama beberapa jam ini sedikitnya menewaskan seorang tentara AS dan delapan pemberontak. Pertempuran itu juga menimbulkan asap tebal di atas distrik kumuh Jolan yang disinyalir sebagai tempat pemukiman mayoritas pemberontak Sunni. Dalam pertempuran tersebut, dua buah rumah dan sebuah menara masjid yang diklaim pasukan AS sebagai tempat penyerangan hancur berantakan.
Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah diumumkannya perpanjangan gencatan senjata. Perdamaian antara tentara AS dan pejuang Irak diperpanjang selama dua hari dan terus mengupayakan pencarian solusi guna mengakhiri pengepungan Kota Fallujah. Sebagai bagian dari gencatan senjata, pasukan AS akan mulai berpatroli bersama dengan pasukan keamanan Irak. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kontrol di kota tersebut [baca: Tentara Amerika Serikat Urung Menggempur Militan Irak].
Dari ibu kota Baghdad dilaporkan sebuah ledakan terjadi di Distrik Waziriya. Ledakan tersebut merusak sebuah gedung yang sedang dirazia oleh pasukan AS. Hingga kini, penyebab ledakan masih belum diketahui. Jumlah pasti dan kondisi korban ledakan masih belum dapat diketahui.
Menurut saksi mata, ledakan terjadi setelah pasukan AS memasuki sebuah toko yang terletak di lantai dasar gedung. Warga mengklaim gudang bahan kimia pembuat parfum itu berisi toko perbaikan senjata. Ledakan merusak bagian depan bangunan berlantai satu tersebut dan membakar empat kendaraan jip Humvee. Salah satu kendaraan tersebut kemudian dijarah dan dibakar lagi oleh warga Irak.
Sementara itu, Stasiun televisi Al Arabiya menayangkan sekelompok bersenjata Irak yang menahan tiga orang warga Italia. Kelompok yang menamakan dirinya Brigade Hijau mengancam akan membunuh tawanan itu jika rakyat Italia tidak meningkatkan demonstrasi yang menentang kebijakan pemerintahnya mengirim pasukan ke Irak.
Ketiga orang yang bekerja sebagai anggota satuan pengamanan swasta ini diculik 12 April silam saat mereka menaiki taksi dari Baghdad. Sementara warga Italia lain yang diculik bersama mereka sudah dieksekusi. Brigade Hijau akan membunuh mereka jika pihak keamanan Italia mencegah demonstrasi yang menentang kebijakan Italia atas Irak. Pemerintah Negeri Pizza itu menjadi sekutu AS dalam pendudukan Irak serta menempatkan 3.000 pasukannya di sana [baca: Pemerintah Italia Diminta Menarik Pasukan dari Irak].(TOZ/Ijx)