Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Bank Bertahan di Era Digital

Dirut BRI Hery Gunardi menilai adopsi AI dan transformasi digital menjadi kunci agar perbankan tetap relevan dan mampu mempertahankan nasabah.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 05 Juni 2026, 11:45 WIB
Foto dok. BRI

Liputan6.com, Yogyakarta - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai akan semakin menentukan arah industri perbankan ke depan. Di tengah perubahan perilaku nasabah dan pesatnya perkembangan ekosistem digital, bank dituntut untuk terus bertransformasi agar tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Hery Gunardi, saat menjadi pembicara dalam sesi Business Talks pada ajang Jogja Financial Festival 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Sabtu (23/5).

Menurut Hery, industri perbankan saat ini tidak lagi hanya mengandalkan jaringan kantor cabang atau layanan fisik. Perubahan teknologi telah mendorong model bisnis perbankan bergerak menuju layanan yang semakin terintegrasi dengan aktivitas digital masyarakat sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa transformasi tersebut turut mengubah pola interaksi nasabah, saluran distribusi layanan, hingga tingkat persaingan di sektor keuangan yang kini semakin mengandalkan kekuatan ekosistem digital.

Evolusi Perbankan dari Cek hingga Digitalisasi

Menurut Hery, perbankan terus berubah dan mengalami evolusi. Ia lantas mengutip penjelasan penulis terkemuka Brett King yang banyak menulis soal perbankan. Pada era bank 1.0, layanan dasar bank adalah transaksi hanya menggunakan cek dan giro. Kemudian era bank 2.0 di mana muncul penggunaan automatic teller machine (ATM) yang dapat melayani nasabah 7x24 jam.

"Kemudian bank 3.0 itu adalah terkait juga dengan internet banking. Jadi nasabah mungkin tidak perlu lagi datang ke cabang bank misalnya, bagi nasabah korporasi, mereka bisa melakukan transaksi dari kantor dengan internet banking," kata Hery.

"Nah yang keempat ini adalah financial technology, fintech dan juga digitalisasi. Nah digital ini memang sudah mengubah perilaku nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama dan juga yang ada di luar negeri misalnya," lanjutnya.

Digitalisasi di sektor perbankan berjalan sangat cepat, momen pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu turut mempercepat proses tersebut. "Itu nasabah kan tidak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek (gagap teknologi), tidak bisa menggunakan mobile banking, terpaksa menggunakan mobile banking, karena tidak bisa datang ke ATM, tidak bisa datang ke cabang, tidak bisa transaksi di teller dan seterusnya," ujar Hery.

"Nah apa yang dilakukan bank, menurut Brett King, bank is a technology company with a banking license. Sebenarnya bank itu technology company," ujar Hery. Jadi artinya, lanjut dia, dengan kondisi seperti ini, perbankan tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.

"Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh nasabahnya," kata Hery.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya