Liputan6.com, Denpasar: Waktu pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden kian dekat. Cendekiawan muslim Nurcholish Madjid langsung mengingatkan rakyat agar cermat dalam memilih Kepala Negara. Agar tidak salah mencoblos, Cak Nur--begitu Nurcholish Madjid disapa--masyarakat bisa mengamati sosok capres dan cawapres dari jejak yang pernah dilakoni mereka, meski diakui kerap berubah jika ia sudah berkuasa. "Seseorang semata-mata dipilih oleh rakyat itu sudah sah," kata Cak Nur usai bertemu rohaniawan, seniman, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan mahasiswa di Denpasar, Bali, Selasa (20/4).
Cak Nur menandaskan, sistem demokratis meyakini bahwa rakyat menjadi penentu utama. "Dulu saya pernah membuat ungkapan bombastis. Dalam sistem demokratis, setan gundul pun kalo dipilih rakyat bisa menjadi presiden," kata Cak Nur. Walau begitu, menurut Rektor Universitas Paramadina itu, analagi sosok tak baik yang terpilih menjadi presiden pun tak boleh dibiarkan "kesetanan". "Makanya perlu ada oposisi," tutur dia. Sayangnya, saat ini, partai politik tidak ada yang rela berada di luar lingkaran parlemen formal dalam bentuk oposisi.
Sejauh ini, sosok para calon pemimpin bangsa mulai nampak. Beberapa tokoh baru mencuat dalam bursa capres selain Amien Rais, Megawati Sukarnoputri. Mereka adalah Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dijagokan Partai Demokrat. Akbar Tandjung tidak masuk hitungan karena dikalahkan Wiranto dalam Konvensi Capres Partai Golkar, semalam [baca: Wiranto Menang Konvensi Golkar].
Masuknya Wiranto dan SBY yang notabene berlatar belakang militer tersebut tidak dipermasalahkan Aliansi Penyelamatan Indonesia (API). Lembaga yang diketuai mantan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Jenderal Polisi Nugroho Jayusman itu justru menyatakan siap mendukung capres dari kalangan mantan militer, karena dinilai mampu memberikan teladan, berwibawa, serta bisa mengembalikan degradasi martabat. Krisis multidimensional yang membuat Indonesia terpuruk juga bisa dipulihkan kembali oleh tokoh yang pernah menjadi militer. Kendati demikian, API belum menentukan akan mendukung Wiranto atau SBY. Selain dimotori Nugroho Jayusman, aktivis mahasiswa seperti Hariman Siregar dan Egi Sujaga juga aktif dalam keorganisasian API.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Cak Nur menandaskan, sistem demokratis meyakini bahwa rakyat menjadi penentu utama. "Dulu saya pernah membuat ungkapan bombastis. Dalam sistem demokratis, setan gundul pun kalo dipilih rakyat bisa menjadi presiden," kata Cak Nur. Walau begitu, menurut Rektor Universitas Paramadina itu, analagi sosok tak baik yang terpilih menjadi presiden pun tak boleh dibiarkan "kesetanan". "Makanya perlu ada oposisi," tutur dia. Sayangnya, saat ini, partai politik tidak ada yang rela berada di luar lingkaran parlemen formal dalam bentuk oposisi.
Sejauh ini, sosok para calon pemimpin bangsa mulai nampak. Beberapa tokoh baru mencuat dalam bursa capres selain Amien Rais, Megawati Sukarnoputri. Mereka adalah Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dijagokan Partai Demokrat. Akbar Tandjung tidak masuk hitungan karena dikalahkan Wiranto dalam Konvensi Capres Partai Golkar, semalam [baca: Wiranto Menang Konvensi Golkar].
Masuknya Wiranto dan SBY yang notabene berlatar belakang militer tersebut tidak dipermasalahkan Aliansi Penyelamatan Indonesia (API). Lembaga yang diketuai mantan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Jenderal Polisi Nugroho Jayusman itu justru menyatakan siap mendukung capres dari kalangan mantan militer, karena dinilai mampu memberikan teladan, berwibawa, serta bisa mengembalikan degradasi martabat. Krisis multidimensional yang membuat Indonesia terpuruk juga bisa dipulihkan kembali oleh tokoh yang pernah menjadi militer. Kendati demikian, API belum menentukan akan mendukung Wiranto atau SBY. Selain dimotori Nugroho Jayusman, aktivis mahasiswa seperti Hariman Siregar dan Egi Sujaga juga aktif dalam keorganisasian API.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)