Beda Gaya Darmin Nasution dan Agus Marto Jinakkan Rupiah

Sebagai penerus Darmin Nasution, Agus Martowardojo menjadi pusat perhatian dalam upayanya menangani imbas krisis ekonomi global.

oleh Ilyas Istianur PradityaDiterbitkan 02 Desember 2013, 12:37 WIB
Bank Indonesia (BI) mendapat sorotan berbagai pihak di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka 12 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Tak pelak lagi, gaya kepemimpinan Agus Martowardojo kerap dibandingkan dengan pendahulunya Darmin Nasution.

Banyak kalangan menilai karakteristik BI pada masa kepemimpinan Darmin dengan kepemimpinan Agus Marto memiliki karakteristik yang berbeda. Research Analyst PT First Asia Capital, David Sutyanto menilai BI saat ini cenderung lebih agresif ketimbang era sebelumnya.

Keagresifan tersebut terwujud dalam bentuk kebijakan yang telah dikeluarkan bank sentral dalam menangani ekonomi makro Indonesia.

"Pak Darmin kan dulu selalu memastikan komitmen BI akan terus menjaga rupiah, jadi apapun pergerakan rupiah BI tidak akan ambil diam, BI akan jaga terus. Kalau Pak Agus kan tidak, Pak Agus bilang BI akan menyerahkan Rupiah kepada pasar," ungkapnya saat berbincang dengan Liputan6.com seperti yang ditulis Senin (2/11/2013).

David menilai pernyataan Agus Martowardojo tersebut menjadi salah satu pendorong keluarnya dana-dana asing yang sebelumnya masih bertahan di Indonesia.

"Jadi dampaknya orang kan kalau mau simpan rupiah, ngapain dong saya simpan kalau rupiah kalau tidak ada yang jaga," jelasnya.

Seperti diketahui Agus Martowardojo telah menaikkan setidaknya 150 basis poin tingkat suku bunga acuannya (BI Rate). Padahal Agus baru menjabat sebagai Gubernur BI kurang dari satu tahun.

Namun David tak menampik kemungkinan Darmin Nasution akan menerapkan kebijakan yang sama jika masih menjabat sebagai gubernur BI kalau dihadapkan dengan kondisi yang sama seperti sekarang. 

"Kalau Pak Darmin mungkin juga akan menaikkan (BI Rate) dalam posisi sekarang ini tapi mungkin kenaikannya tidak setajam apa yang terjadi sekarang, ya paling tinggi 6,5% mungkin. Jadi market tidak kaget mungkin," kata dia.

Meski memiliki karakter yang berbeda, David menilai Agus Martowardojo dan Darmin masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannya.

"Kalau Pak Darmin, cadangan devisa memang mungkin tertekan, tapi paling tidak rupiah dan sektor real tidak terlalu tertekan," ujar David.

Di sisi lain, Agus Martowardojo juga layak mendapatkan apresisasi karena Indonesia berhasil mendapatkan kerjasama mengenai bilateral swap (swap agreament) dengan beberapa negara mitra seperti, China, Jepang dan Korea dengan total jaminan mencapai US$ 37 miliar.

"Saat ini cadangan devisa positifnya masih tinggi, ditambah ada jaminan pinjaman dari Korea, dan lainnya itu," tegas David

Kerjasama ini untuk memperkuat cadangan devisa dalam menghadapi Quantitative Easing yang akan dilakukan oleh Bank Sentral Amerika. (Yas/Shd)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya