Saat Chef Indonesia dari 2 Benua Bersatu Promosikan Kuliner Nusantara di Eropa

Chef Glenn Erari dari Semaja berkolaborasi dengan duta kuliner Indonesia, Chef Agus Hermawan, menyiapkan menu makanan Indonesia khusus di dua restoran di Eropa.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 02 Juni 2026, 15:04 WIB
Suasana di Ron Gastrobar Indonesia saat dua chef Indonesia, yakni Chef Glenn Erari dan Chef Agus Hermawan, mengambil alih dapur dan menghidangkan set menu makanan Indonesia untuk pengunjung. (dok. Semaja)

Liputan6.com, Jakarta - Memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia ke dunia masih jadi pekerjaan rumah yang besar. Dibandingkan dengan masakan Asia lainnya, seperti Jepang, Thailand, Vietnam, bahkan India, cita rasa khas Indonesia yang kaya bumbu dan rempah sampai saat ini belum dikenal luas, atau bahkan diterima di Amerika Serikat dan Eropa.

Hal itu menginspirasi Semaja, restoran yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat, untuk berkolaborasi dengan dua restoran Indonesia di Eropa. Tujuannya adalah ingin menjadi duta kuliner Indonesia ke warga asing, khususnya di Amsterdam, Belanda, dan Brussels, Belgia, meski dalam periode singkat, yakni pada 6--14 Mei 2026.

Dua restoran yang digandeng adalah Ron Gastrobar Indonesia di Amsterdam, Belanda, pada 6--9 Mei 2026, dan Batavia Restaurant di Brussles, Belgia, pada 13--14 Mei 2026. Walau berada di dua benua berbeda, ketiga restoran ini memiliki pendekatan yang sama terhadap masakan Indonesia, yakni berakar pada trdisi, namun diekspresikan melalui sentuhan modern.

"Kolaborasi ini mempertemukan Chef Glenn Erari, Executive Chef SEMAJA, dengan Chef Agus Hermawan, diaspora yang merupakan Duta Kuliner Indonesia di Eropa, dua chef yang tersohor di dunia dengan spesialisasi menu Indonesia modern," kata Bram Hendrata, CEO Ismaya Group dalam pernyataan tertulis kepada Lifestyle Liputan6.com, Sabtu, 30 Mei 2026.

Chef Glenn Erari, dengan latar belakang Papua dan Bangka, dikenal akan kedekatannya dengan nilai budaya dalam setiap masakan menghadirkan interpretasi yang tetap menjaga esensi rasa, namun dieksekusi dengan teknik modern yang lebih refined. Sementara, Chef Agus Hermawan yang kini berbasis di Amsterdam, membangun reputasi melalui pendekatan inovatif dalam mengolah cita rasa Indonesia dengan teknik modern, bahan alternatif, dan presentasi artistik.

Ada Roti Abon hingga Klappertart

Sejumlah pengunjung Restoran Batavia, Brussels, Belgia, bersama Chef Glenn Erari dari Semaja. (dok. Semaja)

Baik Chef Glenn maupun Chef Agus Keduanya berakar dalam kecintaannya untuk cita rasa nusantara, namun dibentuk oleh perjalanan karir dan pengalaman kuliner yang berbeda, sehingga menghasilkan kreasi-kreasi menu Indonesia yang penuh dengan sentuhan artistik modern.

Mereka kemudian berkolaborasi untuk menyusun menu makanan Indonesia yang menggoda selera lidah Eropa. Hasilnya, di Amsterdam, tim Semaja dan Ron Gastrobar Indonesia menghidangkan Roti Abon khas Manokwari, Ayam Pelalah Tartlet khas Bali, dan Tuna Gohu khas Ternate sebagai entree.

Untuk menu utama, konsumen diajak mencicipi Papeda Ikan Kuah Kuning, Bebek Bumbu Hitam, Sate Maranggi khas Purwakarta, dan Iga Konro Bakar khas Makassar. Menutup sesi santap, kedua chef memutuskan menghidangkan klappertart, kue kelapa khas Manado yang teksturnya lembut dengan sedikit kenyal dari daging kelapa muda.

Sementara di Brussels, Chef Glenn menghadirkan pangsit udang kalio sebagai amuse bouche dilanjutkan dengan martabak telur dan batagor sebagai hidangan pembuka. Ayam opor wangi dan semur brisket menjadi menu utamanya dan ditutup dengan klapertart.

Antusiasme Warga Lokal pada Makanan Indonesia

Ramainya pengunjung ke Ron Gastrobar Indonesia saat dua chef Indonesia, yakni Chef Glenn Erari dan Chef Agus Hermawan, mengambil alih dapur dan menghidangkan set menu makanan Indonesia untuk pengunjung. (dok. Semaja)

Bram menyatakan bahwa meski masing-masing chef memiliki perspektif berbeda terhadap makanan Indonesia, keduanya bisa saling melengkapi. Hasilnya adalah pengalaman bersantap yang tidak hanya unik, tetapi juga menjadi jembatan antara Jakarta dan Amsterdam dalam satu meja yang sama.

Menurut Bram, kolaborasi itu disambut dengan antusias oleh pecinta kuliner setempat. "Sepanjang rangkaian dinner berlangsung, mayoritas tamu yang hadir didominasi oleh masyarakat lokal, dengan sekitar 80 persen berasal dari Amsterdam, sementara kurang lebih 10 persen merupakan diaspora Indonesia," ucapnya.

Ia menilai tingginya kedatangan pengunjung lokal mencerminkan semakin terbukanya pasar internasional terhadap kekayaan cita rasa Indonesia, khususnya melalui pendekatan kuliner modern yang lebih relevan dengan preferensi global saat ini. "Bagi SEMAJA, momentum ini bukan sekadar kehadiran di pasar internasional, melainkan sebuah langkah untuk membawa budaya Indonesia ke meja makan dunia dengan cara yang tetap berakar, namun juga relevan dengan masa kini," sambungnya.

 

RM Sederhana Resmi Buka di Singapura

RM Sederhana akan membuka cabang pertama di Singapura di lokasi bekas Warong Nasi Pariaman, warung nasi padang tertua di Singapura. (dok. Tangkapan layar Instagram @sederhanasg/https://www.instagram.com/p/DYapUA1zEOB/Dinny Mutiah)

 

Bukan hanya Semaja yang mempromosikan kuliner Indonesia di luar negeri, RM Sederhana pun resmi membuka gerai pertama mereka di Singapura pada 29 Mei 2026. Mengutip CNA, Selasa (2/6/2026), antrean cukup panjang sudah terbentuk di dalam bekas unit Warong Nasi Pariaman pada pukul 11 ​​pagi saat para pengunjung yang lapar berdatangan menjelang waktu makan siang.

Pengumuman rencana pembukaan itu disampaikan dalam unggahan 19 Mei 2026. Pihak RM Sederhana menyampaikan bahwa pembukaan itu akan dilakukan pada bulan ini, meski tanggalnya belum disampaikan.

"Sederhana akhirnya hadir di Singapura ❤️. Masakan Indonesia otentik yang dibuat dengan rempah-rempah dan cita rasa langsung dari Indonesia."

"Lebih dari 100 hidangan dalam konsep lengkap kami. Diluncurkan pertama kali dengan 30 hidangan andalan untuk memulai kehadiran kami di Singapura dengan baik 🍛🔥. Sampai jumpa segera, InsyaAllah," bunyi pengumuman tersebut.

RM Sederhana cabang Singapura itu dibuka di 738 North Bridge Road. Itu adalah bekas gerai Warong Nasi Pariaman yang ditutup pada akhir Januari 2026 setelah beroperasi sejak 1948.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya