Ratusan Chief Executive Officer (CEO) kembali bertemu dalam perhelatan Kompas100 CEO Forum 2013 yang digelar keempat kalinya. Rencananya acara ini akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berlangsung di Jakarta Convention Center.
Kompas100 CEO juga dihadiri Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Keduanya akan memaparkan proyeksi ekonomi dari sisi kebijakan moneter dan fiskal.
Berdasarkan keterangan resmi dari penyelenggara Kompas100 CEO Forum yang diterima Liputan6.com, Rabu (27/11/2013), event ini mengambil tema Perhelatan Politik dan Momentum Menjaga Pertumbuhan Ekonomi karena akan menyuguhkan pembahasan mengenai penyelenggaraan pemilu yang akan berjalan di tahun depan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar pemilu legislatif pada 9 April 2014, lalu disusul pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) pada 9 Juli 2014.
Sebanyak 15 partai politik telah dinyatakan lolos verifikasi dan berhak mengikuti pemilu tahun depan. Sebanyak 12 parpol merupakan peserta pemilu nasional dan tiga lainnya adalah parpol lokal di Provinsi Aceh.
Kedua belas parpol nasional itu antara lain, Partai Nasdem, PKB, PKS, PDI Perjuangan, Parta Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Hanura, PBB, dan PKPI.
Dari sisi ekonomi, stabilitas politik dan keamanan diharapkan tetap terjaga pada tahun depan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di level 6%.
Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi lembaga dan organisasi internasional, seperti Bank Dunia, IMF, dan Bank Pembangunan Asia yang sebesar di bawah 6%.
Penyebabnya, belum memadainya infrastruktur, tingginya inflasi, kenaikan BI Rate menjadi 7,5%, kredit merosot masih akan menekan pertumbuhan ekonomi 2014.
Beban fiskal akibat subsidi energi juga relatif tinggi yang mencapai Rp 300 triliun, sedangkan penyerapan belanja pemerintah belum efektif mendorong perekonomian.
Namun pesta demokrasi berupa pemilu akan memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,19% atau lebih kecil dibanding pemilu 2009 yang sebesar 0,26%. Dari sisi belanja pun terjadi kenaikan dari Rp 40 triliun di pemilu 2009 menjadi Rp 44,1 triliun pada pemilu 2014.
Para pelaku bisnis tetap pada posisi menunggu hasil pemilu 2014 untuk mengambil keputusan investasi atau aksi korporasi lain.
Mereka biasanya menunggu jaminan apakah pemilu tahun depan berlangsung demokratis dan aman, siapa parpol yang berkuasa dan pro terhadap iklim ekonomi yang lebih baik dan siapa sosok presiden serta wakil presiden yang terpilih.
Menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi penting karena sangat diperlukan dalam penciptaan lapangan kerja.
Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6% akan memberikan peluang kerja yang bisa menampung sekitar 7,2% penganggur di tanah air. Pertumbuhan bisa mempekerjakan 2,5 juta angkatan kerja baru yang setiap tahun masuk ke pasar kerja. (Fik/Nur)
Kompas100 CEO juga dihadiri Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Keduanya akan memaparkan proyeksi ekonomi dari sisi kebijakan moneter dan fiskal.
Berdasarkan keterangan resmi dari penyelenggara Kompas100 CEO Forum yang diterima Liputan6.com, Rabu (27/11/2013), event ini mengambil tema Perhelatan Politik dan Momentum Menjaga Pertumbuhan Ekonomi karena akan menyuguhkan pembahasan mengenai penyelenggaraan pemilu yang akan berjalan di tahun depan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar pemilu legislatif pada 9 April 2014, lalu disusul pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) pada 9 Juli 2014.
Sebanyak 15 partai politik telah dinyatakan lolos verifikasi dan berhak mengikuti pemilu tahun depan. Sebanyak 12 parpol merupakan peserta pemilu nasional dan tiga lainnya adalah parpol lokal di Provinsi Aceh.
Kedua belas parpol nasional itu antara lain, Partai Nasdem, PKB, PKS, PDI Perjuangan, Parta Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, Partai Hanura, PBB, dan PKPI.
Dari sisi ekonomi, stabilitas politik dan keamanan diharapkan tetap terjaga pada tahun depan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di level 6%.
Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi lembaga dan organisasi internasional, seperti Bank Dunia, IMF, dan Bank Pembangunan Asia yang sebesar di bawah 6%.
Penyebabnya, belum memadainya infrastruktur, tingginya inflasi, kenaikan BI Rate menjadi 7,5%, kredit merosot masih akan menekan pertumbuhan ekonomi 2014.
Beban fiskal akibat subsidi energi juga relatif tinggi yang mencapai Rp 300 triliun, sedangkan penyerapan belanja pemerintah belum efektif mendorong perekonomian.
Namun pesta demokrasi berupa pemilu akan memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,19% atau lebih kecil dibanding pemilu 2009 yang sebesar 0,26%. Dari sisi belanja pun terjadi kenaikan dari Rp 40 triliun di pemilu 2009 menjadi Rp 44,1 triliun pada pemilu 2014.
Para pelaku bisnis tetap pada posisi menunggu hasil pemilu 2014 untuk mengambil keputusan investasi atau aksi korporasi lain.
Mereka biasanya menunggu jaminan apakah pemilu tahun depan berlangsung demokratis dan aman, siapa parpol yang berkuasa dan pro terhadap iklim ekonomi yang lebih baik dan siapa sosok presiden serta wakil presiden yang terpilih.
Menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi penting karena sangat diperlukan dalam penciptaan lapangan kerja.
Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6% akan memberikan peluang kerja yang bisa menampung sekitar 7,2% penganggur di tanah air. Pertumbuhan bisa mempekerjakan 2,5 juta angkatan kerja baru yang setiap tahun masuk ke pasar kerja. (Fik/Nur)