Citizen6, Banda Aceh: Pasca pembentukannya 4 bulan yang lalu, Komunitas Karo Banda Aceh mengadakan pertemuan bulanan di Asrama Kavaleri Jantho, Aceh Besar yang dipimpin oleh marga Ginting.
Acara yang digelar pada Minggu 10 November 2013 yang lalu ini banyak dihadiri oleh para anggota baru. Meskipun lokasi pertemuannya jauh dari Kota Banda Aceh, namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk saling bertemu dan belajar adat istiadat Karo.
Agenda utama pertemuan keempat tersebut awalnya hanya untuk menuntaskan pembahasan tentang Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) organisasi. Namun, sesaat sebelum dimulai, ada permintaan untuk melaksanakan pemberian marga kepada anggota baru yang bukan suku Karo.
"Saya bisa menjadi anggota TNI karena bantuan dari orang Karo. Bahkan, kelahiran anak kedua kami juga dibantu oleh orang Karo. Karena itu, tanpa ada pemaksaan dari siapa pun, saya dan istri, meski bukan suku Karo, hendak bergabung dengan organisasi ini," ujar Mukhtar, seorang anggota TNI Angkatan Darat yang tinggal di Asrama Kavaleri.
Usai pembahasan AD dan ART, Ketua Bidang Adat dan Budaya Komunitas Karo Banda Aceh memimpin prosesi pemberian marga tersebut. Mukhtar beserta istrinya didudukkan bersandingan di hadapan seluruh anggota.
Pertama-tama mereka diberikan segelas air putih untuk diminum sebagai perlambang kesehatan. Kedua, pasangan suami istri itu dipakaikan kain panjang murah oleh marga Sembiring yang mengikat keduanya sebagai doa bagi keutuhan keluarga mereka. Disebut kain panjang murah sebagai perlambang kemurahan rezeki mereka.
Ketiga, pengalungan ulos merah atau kain berwarna merah oleh marga Ketua Persatuan Marga Ginting, karena istri Mukhtar diberi marga Ginting. Keempat, tepung tawar terdiri dari beras putih, telur ayam dua butir dan garam satu bungkus serta sebungkus rokok.
Selesai empat proses tersebut, maka Mukhtar beserta istri telah sah secara adat menjadi suku Karo. Senyum gembira pun menghiasi mereka. Kemudian satu persatu anggota Komunitas Karo menyalami mereka sembari mengucapkan selamat bergabung.
"Seumur-umur, ya baru kali ini melihat langsung prosesi pemberian marga Karo. Senang sekaligus haru," ungkap Banta Ginting yang lahir di Aceh Tenggara 32 tahun yang lalu. (Ahmad Arif/mar)
Ahmad Arif adalah pewarta warga.
Mulai 6 November-15 November ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Jika Aku Punya Startup". Dapatkan 3 tiket masuk ke acara Startup Asia Jakarta 2013, yang masing-masing tiketnya bernilai Rp 3,3 jutaan ditambah merchandise eksklusif bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.
Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.
Acara yang digelar pada Minggu 10 November 2013 yang lalu ini banyak dihadiri oleh para anggota baru. Meskipun lokasi pertemuannya jauh dari Kota Banda Aceh, namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk saling bertemu dan belajar adat istiadat Karo.
Agenda utama pertemuan keempat tersebut awalnya hanya untuk menuntaskan pembahasan tentang Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) organisasi. Namun, sesaat sebelum dimulai, ada permintaan untuk melaksanakan pemberian marga kepada anggota baru yang bukan suku Karo.
"Saya bisa menjadi anggota TNI karena bantuan dari orang Karo. Bahkan, kelahiran anak kedua kami juga dibantu oleh orang Karo. Karena itu, tanpa ada pemaksaan dari siapa pun, saya dan istri, meski bukan suku Karo, hendak bergabung dengan organisasi ini," ujar Mukhtar, seorang anggota TNI Angkatan Darat yang tinggal di Asrama Kavaleri.
Usai pembahasan AD dan ART, Ketua Bidang Adat dan Budaya Komunitas Karo Banda Aceh memimpin prosesi pemberian marga tersebut. Mukhtar beserta istrinya didudukkan bersandingan di hadapan seluruh anggota.
Pertama-tama mereka diberikan segelas air putih untuk diminum sebagai perlambang kesehatan. Kedua, pasangan suami istri itu dipakaikan kain panjang murah oleh marga Sembiring yang mengikat keduanya sebagai doa bagi keutuhan keluarga mereka. Disebut kain panjang murah sebagai perlambang kemurahan rezeki mereka.
Ketiga, pengalungan ulos merah atau kain berwarna merah oleh marga Ketua Persatuan Marga Ginting, karena istri Mukhtar diberi marga Ginting. Keempat, tepung tawar terdiri dari beras putih, telur ayam dua butir dan garam satu bungkus serta sebungkus rokok.
Selesai empat proses tersebut, maka Mukhtar beserta istri telah sah secara adat menjadi suku Karo. Senyum gembira pun menghiasi mereka. Kemudian satu persatu anggota Komunitas Karo menyalami mereka sembari mengucapkan selamat bergabung.
"Seumur-umur, ya baru kali ini melihat langsung prosesi pemberian marga Karo. Senang sekaligus haru," ungkap Banta Ginting yang lahir di Aceh Tenggara 32 tahun yang lalu. (Ahmad Arif/mar)
Ahmad Arif adalah pewarta warga.
Mulai 6 November-15 November ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Jika Aku Punya Startup". Dapatkan 3 tiket masuk ke acara Startup Asia Jakarta 2013, yang masing-masing tiketnya bernilai Rp 3,3 jutaan ditambah merchandise eksklusif bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.
Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.