Liputan6.com, Washington, D.C.: Penulis Buku Against All Enemies Richard Clarke, rencananya bakal bersaksi di depan panel federal penyidik peristiwa 11 September di Washington, D.C., Amerika Serikat, Selasa (23/3). Dalam buku ini, Clarke yang dulunya adalah penasihat antiteroris Presiden George Walker Bush mengungkapkan bahwa Bush mempunyai ambisi pribadi terhadap eks Presiden Saddam Husein.
Clarke yang sekarang bekerja sebagai konsultan pemberitaan Stasiun Televisi ABC juga mengatakan dirinya dipaksa mengaitkan keberadaan Saddam Husein dengan kelompok Al-Qaidah. Termasuk, memaksakan pelaksanaan perang di Afghanistan dan Irak, saat terjadi 11 September 2001. Namun Gedung Putih menilai, buku yang beredar itu hanyalah bertujuan politik karena Bush mempertimbangkan segala aspek saat memutuskan perang terhadap Afghanistan dan Irak.
Perang Irak memang menjadi isu besar menjelang pemilihan umum AS tahun ini antara Bush dan rivalnya dari Partai Demokrat, John Kerry. Sebuah jajak pendapat menunjukkan, 89 persen pro-Partai Republik menyetujui serangan ke Irak. Sedangkan 60 persen rakyat pendukung Partai Demokrat mengecam perang tersebut. Walau demikian, Bush tetap merayakan peringatan satu tahun Perang Irak di tengah kontroversi tersebut [baca: Bush Memperingati Setahun Penyerbuan ke Irak]. Dia menegaskan, peranglah yang memungkinkan terjadinya titik tolak penting di Timur Tengah, melalui tumbangnya Saddam Hussein yang disebutnya rezim kekerasan.(DNP/Nlg)
Clarke yang sekarang bekerja sebagai konsultan pemberitaan Stasiun Televisi ABC juga mengatakan dirinya dipaksa mengaitkan keberadaan Saddam Husein dengan kelompok Al-Qaidah. Termasuk, memaksakan pelaksanaan perang di Afghanistan dan Irak, saat terjadi 11 September 2001. Namun Gedung Putih menilai, buku yang beredar itu hanyalah bertujuan politik karena Bush mempertimbangkan segala aspek saat memutuskan perang terhadap Afghanistan dan Irak.
Perang Irak memang menjadi isu besar menjelang pemilihan umum AS tahun ini antara Bush dan rivalnya dari Partai Demokrat, John Kerry. Sebuah jajak pendapat menunjukkan, 89 persen pro-Partai Republik menyetujui serangan ke Irak. Sedangkan 60 persen rakyat pendukung Partai Demokrat mengecam perang tersebut. Walau demikian, Bush tetap merayakan peringatan satu tahun Perang Irak di tengah kontroversi tersebut [baca: Bush Memperingati Setahun Penyerbuan ke Irak]. Dia menegaskan, peranglah yang memungkinkan terjadinya titik tolak penting di Timur Tengah, melalui tumbangnya Saddam Hussein yang disebutnya rezim kekerasan.(DNP/Nlg)