Liputan6.com, Sidoarjo: Ilyas Priadi dan Ahmad, keduanya adalah buruh bangunan. Sabtu malam, awal Maret silam, kedua kuli itu tampak bercengkerama di sebuah kedai kopi di kawasan Perumahan Sidokare Indah, Sidoarjo, Jawa Timur. Keduanya ternyata tak sekadar menikmati kopi pekat, tapi juga pil leksotan.
Setelah puas "minum kopi plus", kedua pemuda itu berjalan menuju tempatnya bekerja sebagai kuli bangunan di Kompleks Sidokare Indah Blok BE. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba terbersit dalam diri Ilyas untuk mencuri. Selama dalam perjalanan rencana itu terus menyita pikirannya. Belakangan niat itu semakin kuat. Namun, Ilyas mencari waktu yang tepat. Sekitar pukul 10.00 WIB saat Ahmad tertidur pulas, Ilyas beraksi.
Sasarannya adalah rumah keluarga Brigadir Kepala Polisi Daniel Daud, anggota Samapta Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Kebetulan rumah keluarga polisi itu berdekatan dengan tempat Ilyas bekerja atau hanya berselang satu rumah.
Berbekal sebuah tang, Ilyas kemudian naik ke atap dan langsung menuju loteng rumah Daniel di bagian belakang. Kebetulan, pintu loteng rumah Daniel malam itu tak terkunci sehingga Ilyas dengan leluasa masuk ke ruang bawah. Aksi kejahatan Ilyas semakin matang saat dirinya menemukan celurit di rumah Daniel. Ilyas kemudian langsung memasuki kamar Christina, 15 tahun, yang tengah tidur pulas bersama adiknya Fredrico, lima tahun.
Saat itu Ilyas leluasa menggasak sejumlah barang berharga, sebuah dompet, dan sebuah telepon genggam. Merasa barang yang dicuri sudah cukup, Ilyas kemudian berniat meninggalkan rumah itu sambil membuka kupluk yang menutup kepala dan wajahnya. Namun, tiba-tiba, Ilyas kaget karena tuan rumah, istri Daniel, yang tidur di kamar sebelah bangun dan langsung berteriak serta membangunkan anak-anaknya: Christina, Frederico, serta Adelia, 2,5 tahun.
Ilyas kalut, pikirannya buntu dan akhirnya gelap mata. Saat itu dalam pikirannya hanya ada satu. Untuk menghilangkan jejak satu-satunya jalan adalah membantai keluarga polisi itu. Dengan membabi buta, Ilyas membantai keluarga Daniel hingga berjatuhan bersimbah darah. Christina tewas di tempat, Adelia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit, sedangkan Emilia dan Frederico yang sebelumnya sempat sekarat nyawanya dapat ditolong. Christina yang dalam keadaan meregang nyawa sempat mendekati ibunya memberi tahu bahwa pembantai itu adalah Ilyas yang sehari sebelumnya meminta air minum.
Menurut Urip Murtedjo, dokter bedah Rumah Sakit dokter Soetomo Surabaya, Emilia dan anaknya Frederico mengalami trauma yang kompleks. Selain itu operasi untuk menyelamatkan nyawa anak dan ibu tersebut memerlukan penanganan yang cukup serius dengan melibatkan dokter bedah umum, dokter bedah plastik, bedah ortopedi, dan anestesi. "Jadi memang memerlukan waktu yang panjang karena tim dokter harus menjahit seluruh tubuh korban," kata Urip.
Sisa-sisa kesedihan yang sangat mendalam masih terlihat dari raut wajah Daniel. Saat terjadi pembantaian, Daniel sedang berpatroli di jalan raya. Saat itu Daniel mengaku telepon genggamnya berbunyi dan mengabarkan bahwa seluruh anggota keluarganya sudah di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Daniel sudah menemukan anaknya Frederico dalam keadaan koma. Sedangkan istrinya yang merintih kesakitan sempat menanyakan nasib Adelia dan Christina. Saat itu Daniel menjawab bahwa anaknya baik-baik saja. Padahal, dia sudah memastikan bahwa kedua putrinya itu telah meninggal dunia.
Hingga kini Daniel masih tak percaya dengan pembantaian keji yang merenggut dua putrinya itu. Daniel mengaku saat itu tak ada firasat apapun. Padahal sehari sebelumnya Daniel berada di rumah dan bercengkerama dengan mereka. "Nggak ada tanda-tanda yang ganjil termasuk pada anak saya yang kecil," kata Daniel. Kini, bekas-bekas pembantaian memang tidak lagi terlihat di rumah Daniel. Namun, duka dan kepedihan masih menyelimuti Daniel.
Polisi tak terlalu kesulitan mengungkap pelaku pembantaian, karena Emilia mengetahui pelaku kejahatan itu adalah Ilyas dari anaknya yang kemudian meninggal, Christina. Namun, polisi kesulitan menangkap tersangka karena selalu berpindah-pindah tempat persembunyian.
Baru setelah sepekan pembantaian, Tim Gabungan Kepolisian Daerah Jawa Timur, Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, dan Polres Sidoarjo dapat meringkus Ilyas di rumah seorang temannya di Temanggung, Jawa Tengah. Ilyas mengaku selain karena dorongan ekonomi, aksi pembantaian juga dipengaruhi pil leksotan yang mengendalikan pikirannya. Belakangan diketahui, Ilyas juga telah dua kali masuk penjara karena kasus pencurian uang dan kendaraan bermotor.(YYT/Hendy dan Prihandoyo)
Setelah puas "minum kopi plus", kedua pemuda itu berjalan menuju tempatnya bekerja sebagai kuli bangunan di Kompleks Sidokare Indah Blok BE. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba terbersit dalam diri Ilyas untuk mencuri. Selama dalam perjalanan rencana itu terus menyita pikirannya. Belakangan niat itu semakin kuat. Namun, Ilyas mencari waktu yang tepat. Sekitar pukul 10.00 WIB saat Ahmad tertidur pulas, Ilyas beraksi.
Sasarannya adalah rumah keluarga Brigadir Kepala Polisi Daniel Daud, anggota Samapta Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Kebetulan rumah keluarga polisi itu berdekatan dengan tempat Ilyas bekerja atau hanya berselang satu rumah.
Berbekal sebuah tang, Ilyas kemudian naik ke atap dan langsung menuju loteng rumah Daniel di bagian belakang. Kebetulan, pintu loteng rumah Daniel malam itu tak terkunci sehingga Ilyas dengan leluasa masuk ke ruang bawah. Aksi kejahatan Ilyas semakin matang saat dirinya menemukan celurit di rumah Daniel. Ilyas kemudian langsung memasuki kamar Christina, 15 tahun, yang tengah tidur pulas bersama adiknya Fredrico, lima tahun.
Saat itu Ilyas leluasa menggasak sejumlah barang berharga, sebuah dompet, dan sebuah telepon genggam. Merasa barang yang dicuri sudah cukup, Ilyas kemudian berniat meninggalkan rumah itu sambil membuka kupluk yang menutup kepala dan wajahnya. Namun, tiba-tiba, Ilyas kaget karena tuan rumah, istri Daniel, yang tidur di kamar sebelah bangun dan langsung berteriak serta membangunkan anak-anaknya: Christina, Frederico, serta Adelia, 2,5 tahun.
Ilyas kalut, pikirannya buntu dan akhirnya gelap mata. Saat itu dalam pikirannya hanya ada satu. Untuk menghilangkan jejak satu-satunya jalan adalah membantai keluarga polisi itu. Dengan membabi buta, Ilyas membantai keluarga Daniel hingga berjatuhan bersimbah darah. Christina tewas di tempat, Adelia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit, sedangkan Emilia dan Frederico yang sebelumnya sempat sekarat nyawanya dapat ditolong. Christina yang dalam keadaan meregang nyawa sempat mendekati ibunya memberi tahu bahwa pembantai itu adalah Ilyas yang sehari sebelumnya meminta air minum.
Menurut Urip Murtedjo, dokter bedah Rumah Sakit dokter Soetomo Surabaya, Emilia dan anaknya Frederico mengalami trauma yang kompleks. Selain itu operasi untuk menyelamatkan nyawa anak dan ibu tersebut memerlukan penanganan yang cukup serius dengan melibatkan dokter bedah umum, dokter bedah plastik, bedah ortopedi, dan anestesi. "Jadi memang memerlukan waktu yang panjang karena tim dokter harus menjahit seluruh tubuh korban," kata Urip.
Sisa-sisa kesedihan yang sangat mendalam masih terlihat dari raut wajah Daniel. Saat terjadi pembantaian, Daniel sedang berpatroli di jalan raya. Saat itu Daniel mengaku telepon genggamnya berbunyi dan mengabarkan bahwa seluruh anggota keluarganya sudah di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Daniel sudah menemukan anaknya Frederico dalam keadaan koma. Sedangkan istrinya yang merintih kesakitan sempat menanyakan nasib Adelia dan Christina. Saat itu Daniel menjawab bahwa anaknya baik-baik saja. Padahal, dia sudah memastikan bahwa kedua putrinya itu telah meninggal dunia.
Hingga kini Daniel masih tak percaya dengan pembantaian keji yang merenggut dua putrinya itu. Daniel mengaku saat itu tak ada firasat apapun. Padahal sehari sebelumnya Daniel berada di rumah dan bercengkerama dengan mereka. "Nggak ada tanda-tanda yang ganjil termasuk pada anak saya yang kecil," kata Daniel. Kini, bekas-bekas pembantaian memang tidak lagi terlihat di rumah Daniel. Namun, duka dan kepedihan masih menyelimuti Daniel.
Polisi tak terlalu kesulitan mengungkap pelaku pembantaian, karena Emilia mengetahui pelaku kejahatan itu adalah Ilyas dari anaknya yang kemudian meninggal, Christina. Namun, polisi kesulitan menangkap tersangka karena selalu berpindah-pindah tempat persembunyian.
Baru setelah sepekan pembantaian, Tim Gabungan Kepolisian Daerah Jawa Timur, Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, dan Polres Sidoarjo dapat meringkus Ilyas di rumah seorang temannya di Temanggung, Jawa Tengah. Ilyas mengaku selain karena dorongan ekonomi, aksi pembantaian juga dipengaruhi pil leksotan yang mengendalikan pikirannya. Belakangan diketahui, Ilyas juga telah dua kali masuk penjara karena kasus pencurian uang dan kendaraan bermotor.(YYT/Hendy dan Prihandoyo)