Sederet Faktor Penyebab Rupiah Makin Melemah

Tekanan global hingga kondisi domestik ikut memperparah pelemahan rupiah.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 28 Mei 2026, 13:45 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai selain tekanan global, kondisi domestik juga ikut memperparah pelemahan rupiah. Tingginya kebutuhan impor minyak disebut membuat permintaan dolar AS di dalam negeri meningkat tajam.

"Secara internal bahwa pelemahan mata uang rupiah itu didukung sekali tentang masalah yang pertama adalah harga minyak yang naik cukup tinggi kemudian kebutuhan dolar yang tinggi akibat impor minyak yang cukup besar," kata Ibrahim kepada Media, Kamis (28/5/2026).

Ia juga menyoroti pembayaran dividen perusahaan, perpindahan simpanan masyarakat ke valuta asing, serta besarnya utang jatuh tempo yang harus dibayar pemerintah dan sektor swasta.

"Kemudian kita melihat juga tentang masalah pembayaran dividen kemudian masyarakat yang memindahkan valas tabungannya ke palas kemudian tentang masalah hutang jatuh tempo yang bunganya Rp 600 triliun," ujarnya.

 

Rupiah Kembali Melemah

Pada perdagangan hari ini, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp 17.870 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan hingga penutupan pasar, rupiah diperkirakan masih berpotensi turun menuju Rp 17.900 per dolar AS.

"Hari ini cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu lulis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870. Kemungkinan besar 100 poin rupiah akan melemah bisa saja dalam perdagangan di sampai sore ini rupiah akan melemah di Rp 17.900," jelasnya.

Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah kali ini tergolong sangat besar karena datang dari dua sisi sekaligus, yakni faktor eksternal akibat geopolitik global dan faktor internal dari kondisi ekonomi domestik.

 

Rupiah Diprediksi Tembus 18.000

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ibrahim menilai, kondisi tersebut membuat arus modal asing keluar dari pasar domestik semakin deras, terutama di tengah momentum libur panjang.

Menurutnya, dengan tekanan eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi mendekati level Rp 18.000 per dolar AS apabila sentimen negatif global belum mereda dalam waktu dekat.

"Ada kemungkinan hari besok pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000. Kemungkinan besar," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya