Liputan6.com, Aceh Besar: Seorang anggota tentara Gerakan Aceh Merdeka yang diklaim sebagai Komandan Peleton Meureuhom Daya, Bahriadi, menyerahkan diri kepada aparat keamanan, baru-baru ini. Bahriadi mengaku sudah tak mampu bertahan di tempat persembunyiannya di kawasan Lhoong, Aceh Besar. Dia menyerahkan diri dengan membawa sebuah granat tangan buatan Korea.
Bahriadi sebelumnya menyerahkan diri ke Komando Rayon Militer Lhoong. Kemudian dia diserahkan ke Markas Komando Distrik Militer 0101 Aceh Besar. Selama ini Bahriadi dipercaya memimpin satu regu GAM di kawasan Lhoong. Namun karena posisinya terus terjepit, GAM sudah tak lagi mensuplai logistik untuk dirinya dan anak buahnya.
Menurut Bahriadi, selama empat bulan pemberlakuan Darurat Militer, ia dan anak buahnya terpencar hingga tak ada komando lagi. Bahriadi memilih mencari jalan sendiri dengan mengamankan diri di hutan. Ini membuat pasokan logistik dari luar semakin tak menentu, hingga akhirnya Bahriadi memilih menyerahkan diri. Meskipun menjabat danton, dia tak memiliki senjata. Bahriadi hanya pernah mengikuti latihan tempur di Aceh Besar. Sedangkan granat yang diserahkan merupakan hasil curian dari Markas GAM.
Komandan Dandim 0101 Aceh Besar Letnan Kolonel Infanteri Joko Warsito menyatakan, selama Darurat Militer sudah lebih dari 50 angggota GAM yang menyerahkan diri. "Setelah Abdul Wahab alias Kapolda menyerahkan diri bersama satu senjata AK-56 pada akhir Februari lalu, ada tujuh anggota GAM yang juga telah menyerah," ujar Joko [baca: Kapolda GAM Aceh Besar Menyerahkan Diri].
Sementara itu, sebanyak 448 personel Batalyon Infanteri 312 Kala Hitam Siliwangi dipulangkan dari Nanggroe Aceh Darussalam menuju markas mereka, Sabtu pekan silam. Pasukan dilepas langsung Panglima Komando Operasi TNI Brigadir Jenderal George Toisutta di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar. Dalam amanatnya, Toisutta mengaku bangga dengan kehadiran Pasukan Siliwangi yang mampu menumbuhkan keberanian masyarakat melawan GAM.
Pasukan Siliwangi sudah setahun lebih bertugas mengamankan Tanah Rencong. Sebelumnya, mereka ditempatkan di Aceh Besar dan sebagian Kota Banda Aceh. Selama bertugas mereka berhasil melumpuhkan puluhan anggota dan tokoh GAM di dua kawasan tersebut. Dari ratusan personel yang diterjunkan, hanya seorang prajurit yang meninggal di Serambi Mekah. Itu pun karena terserang penyakit malaria saat bertugas.
Komandan Yonif 312 Kala Hitam Letkol Inf Gatot S sangat bersyukur karena berhasil bertugas di Aceh. Apalagi, mereka bisa menyatu dengan masyarakat setempat sehingga kondisi keamanan semakin membaik.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Bahriadi sebelumnya menyerahkan diri ke Komando Rayon Militer Lhoong. Kemudian dia diserahkan ke Markas Komando Distrik Militer 0101 Aceh Besar. Selama ini Bahriadi dipercaya memimpin satu regu GAM di kawasan Lhoong. Namun karena posisinya terus terjepit, GAM sudah tak lagi mensuplai logistik untuk dirinya dan anak buahnya.
Menurut Bahriadi, selama empat bulan pemberlakuan Darurat Militer, ia dan anak buahnya terpencar hingga tak ada komando lagi. Bahriadi memilih mencari jalan sendiri dengan mengamankan diri di hutan. Ini membuat pasokan logistik dari luar semakin tak menentu, hingga akhirnya Bahriadi memilih menyerahkan diri. Meskipun menjabat danton, dia tak memiliki senjata. Bahriadi hanya pernah mengikuti latihan tempur di Aceh Besar. Sedangkan granat yang diserahkan merupakan hasil curian dari Markas GAM.
Komandan Dandim 0101 Aceh Besar Letnan Kolonel Infanteri Joko Warsito menyatakan, selama Darurat Militer sudah lebih dari 50 angggota GAM yang menyerahkan diri. "Setelah Abdul Wahab alias Kapolda menyerahkan diri bersama satu senjata AK-56 pada akhir Februari lalu, ada tujuh anggota GAM yang juga telah menyerah," ujar Joko [baca: Kapolda GAM Aceh Besar Menyerahkan Diri].
Sementara itu, sebanyak 448 personel Batalyon Infanteri 312 Kala Hitam Siliwangi dipulangkan dari Nanggroe Aceh Darussalam menuju markas mereka, Sabtu pekan silam. Pasukan dilepas langsung Panglima Komando Operasi TNI Brigadir Jenderal George Toisutta di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar. Dalam amanatnya, Toisutta mengaku bangga dengan kehadiran Pasukan Siliwangi yang mampu menumbuhkan keberanian masyarakat melawan GAM.
Pasukan Siliwangi sudah setahun lebih bertugas mengamankan Tanah Rencong. Sebelumnya, mereka ditempatkan di Aceh Besar dan sebagian Kota Banda Aceh. Selama bertugas mereka berhasil melumpuhkan puluhan anggota dan tokoh GAM di dua kawasan tersebut. Dari ratusan personel yang diterjunkan, hanya seorang prajurit yang meninggal di Serambi Mekah. Itu pun karena terserang penyakit malaria saat bertugas.
Komandan Yonif 312 Kala Hitam Letkol Inf Gatot S sangat bersyukur karena berhasil bertugas di Aceh. Apalagi, mereka bisa menyatu dengan masyarakat setempat sehingga kondisi keamanan semakin membaik.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)