Harga Minyak AS Jatuh Usai Muncul Bocoran Draf Kesepakatan Iran

Harga minyak AS turun di bawah USD 90 per barel setelah muncul laporan Iran siap memulihkan lalu lintas Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Mei 2026, 21:54 WIB
Di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun tajam pada perdagangan Rabu setelah muncul laporan bahwa Iran siap memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz sebagai bagian dari kerangka kesepakatan dengan AS.

Kabar tersebut memunculkan harapan bahwa pasokan energi global dapat kembali lebih stabil setelah ketegangan geopolitik meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Dikutip dari CNBC, Rabu (27/5/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat merosot sekitar 4,6% menjadi USD 89,55 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan internasional turun 3,73% ke level USD 95,87 per barel.

Televisi pemerintah Iran mengklaim memperoleh salinan rancangan kerangka nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.

Laporan tersebut menyebut Tehran berkomitmen memulihkan arus perdagangan komersial melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum konflik dalam waktu satu bulan setelah tercapainya kesepakatan dengan Washington.

Selain itu, Iran disebut akan mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz bersama Oman. Dalam laporan yang sama juga disebutkan bahwa pasukan militer Amerika Serikat akan ditarik dari wilayah sekitar Iran dan blokade laut akan dicabut.

 

Situasi Tidak Menentu

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni naik sekitar 2 persen menjadi USD 96,37 per barel. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir dinilai berada dalam situasi yang tidak menentu, antara peluang tercapainya kesepakatan atau kembali memanas ke arah konflik militer yang lebih luas.

Sebelumnya, militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan di wilayah selatan Iran dalam langkah yang oleh Pentagon disebut sebagai tindakan pertahanan diri. Di sisi lain, Iran juga menyatakan akan melakukan pembalasan atas serangan tersebut.

Meski muncul optimisme terhadap potensi pemulihan pasokan energi, sejumlah pelaku industri menilai normalisasi arus minyak tidak akan berlangsung cepat.

Kepala Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Ahmed al-Jaber, pekan lalu menyebut pemulihan aliran minyak memerlukan waktu cukup panjang meski konflik berhenti segera.

Menurut dia, dibutuhkan setidaknya empat bulan agar arus minyak kembali mencapai sekitar 80% dari tingkat normal. Sementara untuk pemulihan penuh diperkirakan baru bisa terjadi pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya