Liputan6.com, Aceh Timur: Dukungan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam terhadap TNI yang sedang menumpas Gerakan Aceh Merdeka terus meningkat. Warga di sana terus membantu TNI mencari anggota separatis. Seperti halnya yang dilakukan ratusan warga Desa Bintah, Kecamatan Madat, Aceh Timur, baru-baru ini. Mereka bergabung dengan Marinir menyisir sebuah rawa, yang selama ini dijadikan tempat persembunyian anggota GAM. Warga mempersenjatai mereka dengan senjata tajam jenis parang pembabat hutan.
Kepala Desa Bintah menegaskan, keterlibatan mereka dalam operasi itu sebagai upaya membantu pasukan TNI memberantas GAM. Sayangnya penyisiran ini tak berbuah hasil. Warga dan Marinir tak menemukan barang bukti atau markas GAM.
Pasukan TNI yang dikenal dengan Tim Flores ini dipimpin Letnan Satu Marinir Sitohang. Mereka dinilai berhasil mengambil hati masyarakat, sehingga operasi penumpasan GAM mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
Sebelumnya di kawasan tersebut, dua anggota GAM tewas ditembak Pasukan Koops TNI Satuan Tugas Muara. TNI menyergap Muhamad Yunus dan Saeful Saleh di sebuah hutan di Desa Bintah. Saat itulah terjadi kontak senjata hingga menewaskan kedua anggota GAM tersebut. Penyergapan dilakukan setelah pasukan TNI mendapat informasi dari masyarakat tentang keberadaan anggota GAM yang bersembunyi di desa mereka.
Setelah diizinkan pasukan Satgas Muara, jenazah Muhamad Yunus lalu diambil pihak keluarga untuk dimakamkan di desanya, Kuala Simpang Ulin, Aceh Timur. Sementara jenazah Saeful Saleh dikebumikan di Desa Bintah.
Perlawanan masyarakat yang tinggal di basis-basis GAM belakangan meningkat. Penduduk di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, misalnya, membentuk Benteng Rakyat Antiseparatis, Jumat lalu. Gerakan ini adalah perluasan gerakan serupa di sejumlah wilayah lainnya seperti Gerakan Pemuda Pague Gampong dan Front Perlawanan Separatis GAM [baca: Anggota GAM Tewas Ditembak di Riau]. Lembaga itu berfungsi melindungi masyarakat dan kekuatan sosial untuk membangun daerah.(DEN/Mohammad Nasier)
Kepala Desa Bintah menegaskan, keterlibatan mereka dalam operasi itu sebagai upaya membantu pasukan TNI memberantas GAM. Sayangnya penyisiran ini tak berbuah hasil. Warga dan Marinir tak menemukan barang bukti atau markas GAM.
Pasukan TNI yang dikenal dengan Tim Flores ini dipimpin Letnan Satu Marinir Sitohang. Mereka dinilai berhasil mengambil hati masyarakat, sehingga operasi penumpasan GAM mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
Sebelumnya di kawasan tersebut, dua anggota GAM tewas ditembak Pasukan Koops TNI Satuan Tugas Muara. TNI menyergap Muhamad Yunus dan Saeful Saleh di sebuah hutan di Desa Bintah. Saat itulah terjadi kontak senjata hingga menewaskan kedua anggota GAM tersebut. Penyergapan dilakukan setelah pasukan TNI mendapat informasi dari masyarakat tentang keberadaan anggota GAM yang bersembunyi di desa mereka.
Setelah diizinkan pasukan Satgas Muara, jenazah Muhamad Yunus lalu diambil pihak keluarga untuk dimakamkan di desanya, Kuala Simpang Ulin, Aceh Timur. Sementara jenazah Saeful Saleh dikebumikan di Desa Bintah.
Perlawanan masyarakat yang tinggal di basis-basis GAM belakangan meningkat. Penduduk di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, misalnya, membentuk Benteng Rakyat Antiseparatis, Jumat lalu. Gerakan ini adalah perluasan gerakan serupa di sejumlah wilayah lainnya seperti Gerakan Pemuda Pague Gampong dan Front Perlawanan Separatis GAM [baca: Anggota GAM Tewas Ditembak di Riau]. Lembaga itu berfungsi melindungi masyarakat dan kekuatan sosial untuk membangun daerah.(DEN/Mohammad Nasier)