Liputan6.com, Tomsk - Cuaca dingin masih terasa menggigit ketika memasuki Tomsk. Salah satu kota tertua di Siberia Barat, Rusia yang berdiri pada tahun 1604, di tepi Sungai Tomsk.
Kian memasuki kota, terlihat bangunan dengan ansambel arsitektur kayu unik dari abad ke-19 seakan menarik mata untuk terus memandang. Rumah dengan burung api adalah simbol terkenal dari Art Nouveau kayu Tomsk.
Advertisement
Lebih dari 200 monumen sebagai objek arsitektur kayu masih berdiri hingga kini. Bangunan gedung apartemen hingga pusat perbelanjaan dengan arsitektur dasar bebatuan ikut memperkuat nilai sejarah kota ini.
Hanya memiliki populasi sekitar 600 ribu jiwa, Tomsk memang menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Berbeda bila dibandingkan kota besar seperti Moskow.
Sesungguhnya, hal menarik dari Tomsk adalah status wilayah ini dengan julukan Kota Pendidikan di Rusia. Bila Indonesia memiliki Yogyakarta, Rusia ada Tomsk. Kota pusat administrasi, pendidikan, ilmiah, dan budaya Federasi Rusia.
Status ini yang membuat jumlah mahasiswa justru lebih banyak dari penduduk asli Tomsk. Para mahasiswa yang datang dari penjuru Rusia hingga negara-negara lain di dunia.
Tomsk sejatinya memiliki 6 universitas negeri, serta lebih dari selusin lembaga penelitian akademi ilmu pengetahuan. Dengan bidang jurusan antara lain kedokteran nuklir, sistem pesawat tanpa awak, teknologi kuantum, biomedis, bisnis minyak dan gas.
Namun ada dua universitas yakni Universitas Negeri Tomsk (TSU) dan Universitas Politeknik Tomsk (TPU), yang tercatat dalam sepuluh universitas terbaik di Rusia menurut peringkat nasional.
Atas undangan Pemerintah Rusia, Liputan6.com berkesempatan melihat langsung bagaimana proses pendidikan di kedua universitas tersebut.
Universitas Negeri Tomsk (TSU)
Sejarahnya, Universitas Negeri Tomsk (TSU) merupakan kampus pertama dan tertua di Distrik Federal Siberia. Didirikan pada tahun 1878 dan dibuka pada 1888. Kampus ini berdiri berdasarkan dekrit Kaisar Alexander II dan dibuka oleh Alexander III.
Patung pendiri kampus yakni Profesor V.M. Florinsky dan D.I. Mendeleev berdiri kokoh yang merupakan hasil patungan masyarakat Tomsk. Manjadi simbol perjalanan kampus ini.
Sejak berdiri, TSU menjadi pusat ilmu pengetahuan, pendidikan, dan budaya di Siberia. Kini, TSU menempati peringkat ke-4 di antara universitas-universitas Rusia dan ke-175 di dunia dalam Peringkat Universitas Dunia QS.
Sebanyak 15.000 mahasiswa menempuh pendidikan di Tomsk, di mana sekitar 3.500 merupakan mahasiswa internasional dari 68 negara. Mereka antara lain berasal dari Kazakhstan, Tiongkok, Uzbekistan, Indonesia, Vietnam, Pakistan, dan Mali.
Kampus ini memiliki 21 fakultas dan institut. "Kami mendidik banyak profesional dan elit di wilayah yang luas ini, dimulai dengan mencetak dokter karena kami memulai sebagai kampus medis. Yang sekarang menjadi Universitas Kedokteran Negeri Siberia yang sudah terpisah, dan jurusan lain kami masih memiliki salah satu institut hukum terbaik di Rusia. Baru kemudian di sini ada jurusan spesialis bahasa, matematika, sejarawan, arkeolog, geologi. Jadi kami masih merupakan universitas yang komprehensif," jelas Vice President for International Relations Tomsk State University, Rykun Artem Yuryevich di Tomsk.
Dia mengaku reputasi yang baik mampu membuat kampusnya melahirkan orang-orang penting di Rusia maupun negara lain. "Posisi-posisi penting tersebut diraih para lulusan kami, termasuk 3 perdana menteri. Juga ada orang penting dari di Korea Utara, Kim Jong-un, merupakan mahasiswa kami. Ia tidak benar-benar lulus, tetapi dia sempat terdaftar menjadi mahasiswa sampai tahun pertamanya," tambah dia.
Rykun menyebutkan, beberapa program studi yang diminati mahasiswa. Seperti pada program Bachelor seperti software engineering, matematika dan sains komputer, teknologi informasi, ekonomi, bahasa dan kebudayaan Rusia, manajemen, linguistik dan lainnya. Sedang program master seperti kimia, fisika, komputer dan lainnya.
Pada tahun 2025, lebih dari 40 mahasiswa Indonesia terdaftar di universitas-universitas Tomsk. Jumlah total mahasiswa Indonesia di kota ini sekarang melebihi 120 orang.
Steven Wijaya, pemuda asal Surabaya, saat ini tengah menjalani studi S2 di Tomsk State University dengan beasiswa. Dia mengakui jika sistem pendidikan di Rusia berbeda dengan di Indonesia. Seperti pola pengajaran dengan bahasa Rusia. Itu sebabnya, mahasiswa diberikan waktu untuk belajar Bahasa Rusia selama setahun sebelum mengikuti perkuliahan.
Dia pun menegaskan butuh kesungguhan bila minat masuk ke kampus Tomsk. "Mereka harus siap dengan kondisi di sini, dengan mental yang harus benar-benar belajar," tegas dia.
Penuh Inovasi
Hal menarik saat Liputan6.com bertandang ke kampus ini, melihat keberadaan ruangan khusus tempat mahasiswa belajar memprogram dan mengendalikan drone.
Siang itu, 20 mei 2026, terlihat sekelompok mahasiswa serius bergulat dengan seperangkat alat pembuat drone di atas meja masing-masing. Layar laptop terbuka menjadi alat utama pengendali drone berisi gambar dan grafis, yang hanya mereka pahami.
Kegiatan tersebut merupakan bagian perlombaan, hasil kerjasama kampus dengan perusahaan swasta dengan tujuan memberikan mahasiswa kesempatan melakukan praktek lapangan. Pemenang akan mendapatkan hadiah sejumlah uang.
Berpindah lokasi, kami diajak mengunjungi pusat teknologi kimia teknik. Lokasi penelitian ilmiah pembuatan berbagai produk untuk industri.
Kami ditunjukkan sejumlah produk akhir seperti paraben untuk produksi kosmetik dan silika gel zat yang digunakan dalam pasta gigi. Para ilmuwan TSU juga telah mengembangkan implan yang banyak digunakan dalam pengobatan pasien dengan kanker serviks.
Terakhir kami melihat langsung asrama mahasiswa yang berada di pinggir sungai Tomsk. Asrama Mayak berdesain bangunan modern. Berbagai fasilitas bisa dipakai mahasiswa seperti ruang belajar, kantin, dapur dan lainnya. Pintu masuk didesain dengan keamanan yang tinggi. Satu kamar dihuni 3 mahasiswa.
Universitas Politeknik Tomsk (TPU)
Universitas Politeknik Tomsk (TPU) merupakan kampus teknik tertua di Tomsk. Berdiri pada 1896 sebagai Institut Teknologi Tomsk Kaisar Nicholas II. Bahkan universitas ini tetap menjadi satu-satunya lembaga pendidikan tinggi teknik di Siberia, untuk waktu yang lama. Pada 2026 ini, TPU merayakan ulang tahunnya yang ke-130.
Sepanjang sejarahnya, TPU telah meluluskan 200 ribu insinyur, akademisi, peneliti, dan perancang ternama dunia, pimpinan perusahaan besar hingga rektor universitas.
Para lulusan dan peneliti yang memainkan peran penting dalam pengembangan wilayah di Rusia. Serta berjasa membangun industri minyak dan gas, nuklir, permesinan hingga ruang angkasa.
Hingga April 2026, TPU menampung 2.897 mahasiswa internasional dari 58 negara. Sebanyak 22 mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor dari Indonesia. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan umumnya mengambil program studi teknik minyak dan gas, fisika, teknologi nuklir hingga teknik komputer.
Sejak 1998, TPU telah menawarkan program persiapan pra-universitas untuk mahasiswa internasional di lima bidang. Yakni, teknik, ekonomi, humaniora, kedokteran-biologi, dan ilmu alam.
TPU memiliki 34 gedung. Beberapa merupakan monumen warisan arsitektur berusia ratusan tahun. Dilengkapi 15 asrama, serta lebih dari 100 laboratorium dan pusat penelitian.
Kerjasama dengan Indonesia
Pada tahun 2022, TPU menjadi universitas Rusia pertama yang menandatangani perjanjian kerja sama dengan Institut Politeknik Teknologi Nuklir (STTN) Indonesia.
Ini menjadikan TPU sebagai platform kunci untuk mengembangkan sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi nuklir – termasuk proyek bersama dengan Rosatom.
Kemudian di tahun yang sama, TPU menandatangani perjanjian formal dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia tentang pengembangan program pendidikan nuklir internasional dan pelatihan spesialis untuk aplikasi nuklir energi dan non-energi. Karyawan BRIN yang aktif belajar di TPU di bawah perjanjian ini.
Adapula perjanjian kerja sama juga terjalin antara TPU dan Institut Kristen Negara Ambon (IAKN Ambon), Indonesia.
Alumni terkenal dari kampus ini tidak main-main. Sebut saja, Nikolay Semenov – peraih Hadiah Nobel Kimia. Vladimir Obruchev – ahli geologi dan penjelajah Siberia dan Asia Tengah.
Nikolai Kamov – perancang helikopter, pencipta seri Ka. Nikolai Nikitin – insinyur struktur Menara TV Ostankino Moskow dan Oleg Alimov – pencipta alat pengeboran yang digunakan dalam misi luar angkasa Luna-24 hingga penjelajah kutub Nikolai Urvantsev
Riset Reaktor Nuklir
Hal menarik lain dari Universitas Politeknik Tomsk adalah keberadaan fasilitas riset reaktor nuklir, yang merupakan satu-satunya yang beroperasi di Rusia. Reaktor ini memiliki kapasitas 6 MW, pertama kali diluncurkan pada tahun 1967, dan telah mengalami beberapa peningkatan sejak saat itu.
Ini juga menjadi satu-satunya lokasi reaktor nuklir di mana mahasiswa asing boleh mempelajarinya. Para mahasiswa mempergunakan reaktor untuk berbagai riset. Seperti riset produksi silikon terdoping nuklir yang dipakai untuk industri semikonduktor Rusia dan beberapa perusahaan internasional.
Riset lain adalah pewarnaan batu permata. Menggunakan teknologi isotop, TPU memproduksi topaz biru langit dari batu yang tidak berwarna. Kapasitas desain reaktor memungkinkan produksi 1 hingga 1,5 ton kristal biru per tahun.
Selain itu, reaktor ini juga menjadi lokasi riset bidang kedokteran nuklir & radiofarmasi. TPU adalah salah satu pusat terkemuka di Rusia untuk mengembangkan dan memproduksi radiofarmasi atau obat-obatan yang mengandung radioisotop. Obat ini dipasok ke 30 klinik di seluruh Rusia, membantu mendiagnosis dan mengobati lebih dari 1 juta orang.
Reaktor turut dimanfaatkan untuk terapi neutron. Fasilitas ini memiliki peralatan untuk terapi penangkapan neutron, yakni sebuahm etode yang menjanjikan untuk mengobati tumor ganas. Uji praklinis sudah berlangsung kepada lebih dari 200 pasien hewan (kucing dan anjing dari berbagai ras) telah diobati dalam proyek bersama dengan Universitas Negeri Novosibirsk.
Setiap tahun, 450 mahasiswa TPU memperoleh pengalaman langsung mempelajarii manajemen pembangkit listrik tenaga nuklir, perlindungan fisik fasilitas nuklir, dan keselamatan nuklir dan radiasi. Lulusan TPU menjadi pelopor dalam industri nuklir Rusia, di mana para alumni memegang posisi senior di 8 dari 12 pembangkit listrik tenaga nuklir di Rusia.