Liputan6.com, Tentena: Kota Tentena di Sulawesi Tengah tak lagi ramai dikunjungi wisatawan. Padahal, sebelum terjadinya kerusuhan di Poso pada tahun 2000, Kota Tentena cukup dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Alhasil, kota yang sempat mendapat julukan Kota 1001 obyek wisata itu, kini tinggal kenangan. Bahkan, bangunan rumah adat di sekitar Danau Poso yang nan elok, kini berubah menjadi tempat penampungan pengungsi.
Danau Poso yang indah memang membawa anugerah bagi Kota Tentena. Di tempat itu, air terjun bertingkat, batu-batu megalitikum, dan gua-gua prasejarah yang selalu menjadi incaran wisatawan. Tak heran, penginapan di kawasan tersebut selalu penuh di tiap akhir pekan.
Namun, semua itu tinggal kenangan. Meski Tentena terhindar dari kerusuhan Poso, wisatawan tetap saja enggan mengarahkan tujuan liburnya ke kawasan tersebut. Hotel dan penginapan yang dulu kewalahan menerima tamu, kini hanya disinggahi segelintir tamu. Itu pun hanya dari kalangan instansi yang kebetulan bertugas di daerah tersebut.
Celakanya lagi, Festival Danau Poso yang dahulu diadakan secara rutin tiap tiga tahun sekali, kini sudah tak terdengar lagi kabarnya. Padahal, di saat festival berlangsung, daerah itu selalu disesaki wisatawan. Masyarakat yang sempat diuntungkan dengan pelaksanaan festival, kini terpaksa harus gigit jari. Soalnya, mereka tak bisa lagi menyewakan rumahnya untuk diinapi para wisatawan. Kota 1001 obyek wisata itu benar-benar menjadi kenangan.(ULF/Aldrin Kiay Demak)
Danau Poso yang indah memang membawa anugerah bagi Kota Tentena. Di tempat itu, air terjun bertingkat, batu-batu megalitikum, dan gua-gua prasejarah yang selalu menjadi incaran wisatawan. Tak heran, penginapan di kawasan tersebut selalu penuh di tiap akhir pekan.
Namun, semua itu tinggal kenangan. Meski Tentena terhindar dari kerusuhan Poso, wisatawan tetap saja enggan mengarahkan tujuan liburnya ke kawasan tersebut. Hotel dan penginapan yang dulu kewalahan menerima tamu, kini hanya disinggahi segelintir tamu. Itu pun hanya dari kalangan instansi yang kebetulan bertugas di daerah tersebut.
Celakanya lagi, Festival Danau Poso yang dahulu diadakan secara rutin tiap tiga tahun sekali, kini sudah tak terdengar lagi kabarnya. Padahal, di saat festival berlangsung, daerah itu selalu disesaki wisatawan. Masyarakat yang sempat diuntungkan dengan pelaksanaan festival, kini terpaksa harus gigit jari. Soalnya, mereka tak bisa lagi menyewakan rumahnya untuk diinapi para wisatawan. Kota 1001 obyek wisata itu benar-benar menjadi kenangan.(ULF/Aldrin Kiay Demak)