Liputan6.com, Jakarta: Mengedepankan pandangan Marhaenisme Bung Karno, Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme yakil bakal mendulang dukungan masyarakat pada Pemilihan Umum 2004. Pandangan Bung Karno dianggap cocok menjadi solusi mengatasi krisis. Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal PNI Mahaenisme Yong Manurung di Jakarta, baru-baru ini.
PNI Marhaenisme digawangi putri keempat pasangan Bung Karno-Fatmawati, Sukmawati Sukarnoputri. Partai bernomor urut satu ini berkantor pusat di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Menurut Yong, kantor berukuran sekitar 500 meter persegi ini disewa parpol berlambang banteng dengan bentuk segitiga sejak tahun silam. Dari kantor inilah pikiran Marhaenisme Bung Karno diusung.
Yong menjelaskan, ajaran Marhaenisme sudah mulai diajarkan sejak Bung Karno mendeklarasikan PNI pada 1927. PNI Marhaenisme secara faktual adalah gabungan tiga parpol peserta Pemilu 1999: PNI Massa Marhaen, PNI Front Marhaenis dan PNI Supeni. Pada Pemilu 1999, ketiga parpol ini gagal memenuhi jumlah suara minimum tiga persen.
Hasil fusi tersebut tergambar jelas dengan banyaknya jumlah ketua yang mendampingi Sukmawati, yakni berjumlah 24 orang. Kini, tambah Yong, PNI Marhaenisme sedang giat mengenalkan filsafat parpol yang dilukiskan dalam lambang partai.
Sekarang PNI Marhaenisme sudah siap tempur dalam masa kampanye. Bendera partai, beragam spanduk, kaos berlambang banteng menyeruduk sudah siap disebar. Dengan segala persiapan yang dilakukan, partai ini hendak belajar dari kegagalan dan berupaya meraih dukungan rakyat sebanyak-banyaknya.(ICH/Alam Burhanan dan Erwin Arif)
PNI Marhaenisme digawangi putri keempat pasangan Bung Karno-Fatmawati, Sukmawati Sukarnoputri. Partai bernomor urut satu ini berkantor pusat di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Menurut Yong, kantor berukuran sekitar 500 meter persegi ini disewa parpol berlambang banteng dengan bentuk segitiga sejak tahun silam. Dari kantor inilah pikiran Marhaenisme Bung Karno diusung.
Yong menjelaskan, ajaran Marhaenisme sudah mulai diajarkan sejak Bung Karno mendeklarasikan PNI pada 1927. PNI Marhaenisme secara faktual adalah gabungan tiga parpol peserta Pemilu 1999: PNI Massa Marhaen, PNI Front Marhaenis dan PNI Supeni. Pada Pemilu 1999, ketiga parpol ini gagal memenuhi jumlah suara minimum tiga persen.
Hasil fusi tersebut tergambar jelas dengan banyaknya jumlah ketua yang mendampingi Sukmawati, yakni berjumlah 24 orang. Kini, tambah Yong, PNI Marhaenisme sedang giat mengenalkan filsafat parpol yang dilukiskan dalam lambang partai.
Sekarang PNI Marhaenisme sudah siap tempur dalam masa kampanye. Bendera partai, beragam spanduk, kaos berlambang banteng menyeruduk sudah siap disebar. Dengan segala persiapan yang dilakukan, partai ini hendak belajar dari kegagalan dan berupaya meraih dukungan rakyat sebanyak-banyaknya.(ICH/Alam Burhanan dan Erwin Arif)