Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (24/5/2026) mengatakan bahwa ia telah memberi tahu para perwakilannya agar tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump juga menyatakan bahwa blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku sepenuhnya sampai sebuah kesepakatan tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.
Advertisement
"Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar," tambahnya.
Tidak ada tanggapan langsung dari pemerintah Iran. Namun kantor berita Tasnim, yang terkait dengan Garda Revolusi Islam Iran, mengatakan AS masih menghalangi beberapa bagian dari potensi kesepakatan, termasuk tuntutan Iran untuk pembebasan dana yang dibekukan.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Washington dan Iran telah sebagian besar merundingkan sebuah nota kesepahaman mengenai kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelum konflik membawa seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Mengutip laporan CNA, kedua pihak masih berselisih mengenai beberapa isu, seperti ambisi nuklir Iran, perang Israel di Lebanon dengan Hizbullah yang didukung Iran dan tuntutan Iran untuk pencabutan sanksi serta pembebasan puluhan miliar dolar pendapatan minyaknya yang dibekukan di bank-bank asing.
Kritik terhadap Rencana Kesepakatan
Trump, yang dukungan publik terhadapnya menurun akibat dampak perang terhadap harga energi di AS dan yang menghadapi upaya Kongres untuk membatasi kewenangan perangnya, berulang kali menonjolkan prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari.
AS dan Iran kini tengah dalam gencatan senjata yang rapuh, yang berlaku sejak awal April.
Ketika rincian mengenai kemungkinan kesepakatan mulai muncul sepanjang akhir pekan, para pengkritik, termasuk mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan sejumlah anggota parlemen Demokrat, menilai kesepakatan tersebut tidak menawarkan banyak hal baru dibandingkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dirundingkan pada masa mantan Presiden Barack Obama, yang kemudian ditinggalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Trump, yang juga menghadapi kritik dari kalangan konservatif garis keras atas kesediaannya berkompromi dengan Iran, membalas kritik tersebut.
"Jika saya membuat kesepakatan dengan Iran, itu akan menjadi kesepakatan yang baik dan tepat ... Jadi jangan dengarkan para pecundang, yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka ketahui," kata Trump di Truth Social pada Minggu.
Dalam perkembangan lain yang berpotensi menghambat tercapainya kesepakatan, seorang penasihat militer Iran untuk pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei mengatakan pihaknya memiliki hak hukum untuk mengelola Selat Hormuz, meskipun belum jelas apakah itu berarti Iran akan tetap menentukan kapal mana yang boleh melintas.
Garda Revolusi Iran mengatakan 33 kapal telah melewati selat tersebut selama 24 jam terakhir setelah mendapatkan izin, masih jauh di bawah 140 kapal yang biasanya melintas setiap hari sebelum perang.
Pengeboman AS-Israel terhadap Iran menewaskan ribuan orang di Iran sebelum dihentikan pada awal April.