Dolar AS Tembus Rp 10 Ribu pada Akhir Tahun Ini

Rupiah di pasar Non Delivered Forward (NDF) untuk jangka waktu sebulan ke depan melemah 0,2% ke level 11.035 per dolar AS.

oleh Syahid LatifDiterbitkan 16 Oktober 2013, 11:44 WIB
Meningkatnya spekulasi penundaan pengurangan stimulus The Federal Reserves akibat kebuntuan pembahasan anggaran pemerintah AS memberi kabar positif bagi gerak rupiah dan surat utang pemerintah. Kurs rupiah tercatat menguat ke level tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Nilai tukar rupiah pada pekan lalu mencatat penguatan tertinggi sejak Januari 2012 seiring masuknya investor global yang membawa dana segar Rp 2,16 triliun.

Dikutip dari laman Bloomberg, kurs rupiah hari ini menguat 0,3% dibandingkan posisi akhir pekan lalu ke level 11.333 per dolar AS. Rupiah sempat menyentuh level 11.301, atau posisi tertinggi sejak 20 September.

"Rupiah melanjutkan rally setelah adanya optimisme pelaku pasar bahwa The Fed akan menunda tapering seiring berlanjutnya perdebatan debt ceiling," kata Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara1906, Rully Nova, Rabu (16/10/2013).

Rupiah di pasar Non Delivered Forward (NDF) untuk jangka waktu sebulan ke depan melemah 0,2% ke level 11.035 per dolar AS. Rupiah tercatat 2,7% lebih kuat dibandingkan pasar spot.

Data Association of Bank di Singapura mencatat rupiah di pasar luar negeri berada di level 11.068 per dolar AS pada 11 Oktober.

"Pasar tampaknya tak terlalu terpengaruh default surat utang AS seiring keyakinan akan adanya upaya untuk pembicaraan utang ," kata Rully.

Gerak rupiah juga dipicu kabar positif dari neraca transaksi berjalan yang mengalami perbaikan. DBS group mencatat, neraca current acount Indonesia mencarart defisit 2,5% dari produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun depan.

"Dengan kondisi neraca yang menunjukan perbaikan diikuti yield surat utang, ada ruang bagi rupiah untuk menguat ke level 10 ribu pada akhir tahun ini," katana Rully. (Shd)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya